๐ข๐น๐ฒ๐ต ๐๐ฟ. ๐จ๐๐๐ฎ๐ ๐ ๐๐ต๐๐ถ๐ป ๐๐ฎ๐ฏ๐ถ๐ฏ
Ada tragedi yang jauh lebih mengerikan daripada perang dan kehancuran: ketika sebuah pemerintah dengan sukarela menyerahkan ingatan sejarahnya kepada musuh.
Di tengah luka sejarah yang belum mengering, nurani kita menuntut pertanyaan sederhana: Siapa yang benar-benar berdiri membela Irak ketika ancaman terorisme merayap dan hendak menelan setiap nyawa? Ketika kegelapan melanda dan negara berada di ujung tanduk, dari mana uluran tangan itu datang?
Iran hadir secara nyata. Bukan sekadar mengumbar janji manis di atas kertas, melainkan memberikan bantuan energi, pasokan senjata, hingga pengorbanan darah para pejuang terbaiknya yang tumpah di tanah yang sama demi keselamatan Irak.
Bahkan jauh sebelum itu, ketika Irak berada di bawah cengkeraman rezim tangan besi Saddam Hussein, di manakah para tokoh politik dan ulama Irak yang hari ini duduk di kursi kekuasaan berlindung? Hampir sebagian besar dari mereka ditampung di Iran. Mereka dibiayai, dijamin kehidupannya, dilindungi dari bahaya, dan mendapatkan seluruh fasilitas untuk bertahan hidup di tanah Iran. Baru setelah rezim Saddam runtuh, mereka melangkah kembali ke Baghdad.
Namun, sungguh menggelikan sekaligus tragis: setelah kini memegang kendali kekuasaan, sebagian dari mereka mendadak bersikap sok nasionalis dan berpura-pura amnesia. Mereka mulai menjaga jarak, memperlakukan Iran seolah-olah negara asing yang tak pernah berjasa, dan membalas seluruh kebaikan masa lalu dengan dingin.
Bagaimana kebaikan besar dan rekam jejak sejarah itu dibalas oleh para pengambil kebijakan di Irak hari ini?
Bukan dengan penghormatan, melainkan dengan ketundukan pada tekanan Barat. Pemerintah Irak justru memilih bersikap dingin dan membelakangi tetangga yang telah menyelamatkan hidup mereka dan negara mereka. Betapa murahnya harga sebuah pengorbanan ketika dihadapkan pada ketakutan para politisi terhadap imperium asing.
Sungguh ironi yang memuakkan. Negara yang membentangkan tangan dan mempertaruhkan segalanya untuk keselamatan Irak kini malah dijauhi. Sementara itu, kekuatan asing yang merancang kehancuran, membom kota-kota, merampas kedaulatan, dan meninggalkan jejak penderitaan panjangโjustru diturutkan kemauannya dan dielu-elukan.
Sikap resmi pemerintah Irak hari ini memperlihatkan kebutaan politik yang nyata. Mereka memilih memejamkan mata, memeluk pihak yang merusak, lalu menendang tangan pengorbanan yang pernah menarik Irak keluar dari jurang kematian. Rakyat Irak tidak pantas diwakili oleh kepemimpinan yang amnesia akan sejarahnya sendiri.
Iran tidak pernah meminta Irak untuk berlutut. Yang diserukan hanya satu hal yang sangat mendasar: Sadarilah siapa kawan sejati yang rela berkorban, dan siapa musuh yang sebenarnya!
Sungguh tragis ketika para pemimpin negara tak lagi mampu membedakan antara tangan yang merawat luka dengan tangan yang memegang pisau. Jika pemerintah Irak terus melangkah dengan sikap lupa diri seperti ini, mereka bukan sedang membawa negaranya menuju masa depanโmelainkan sedang menuntunnya kembali ke lubang kehancuran yang sama.
