𝗢𝗹𝗲𝗵 𝗗𝗿. 𝗨𝘀𝘁𝗮𝘇 𝗠𝘂𝗵𝘀𝗶𝗻 𝗟𝗮𝗯𝗶𝗯
Media sosial, terutama TikTok, kini terasa seperti sebuah ruang publik yang pengeras suaranya rusak: semua orang berbicara bersamaan, hampir tak ada yang benar-benar mendengarkan. Setiap orang merasa memiliki sesuatu untuk diumumkan, dikomentari, dihakimi, bahkan disumpahi. Yang muncul bukan percakapan, melainkan kebisingan yang diproduksi tanpa henti.
Buka layar, lalu datanglah parade kegaduhan: kekerasan, pencurian, penipuan, perselingkuhan, pelecehan, keributan, hujatan, rasisme, premanisme verbal, caci maki, dan berbagai bentuk keburukan manusia yang dipertontonkan seperti hiburan. Kecemasan bukan lagi efek samping. Ia telah menjadi komoditas. Kemarahan bukan lagi emosi sesaat. Ia telah menjadi konten.
Yang lebih menggelikan adalah munculnya orang-orang yang berbicara tentang segala sesuatu dengan keyakinan seolah-olah dunia telah menyerahkan seluruh pengetahuannya kepada mereka. Sedikit membaca, banyak bicara. Sedikit memahami, banyak menghakimi. Sedikit pengetahuan, tetapi keberanian tanpa batas. Semua persoalan terasa sederhana setelah masuk TikTok: agama, filsafat, politik, hukum, moralitas, bahkan Tuhan. Semua bisa diselesaikan dalam video beberapa puluh detik.
Agama pun ikut masuk ke dalam blender algoritma. Sedikit ayat, sedikit hadis, sedikit ateisme, sedikit skeptisisme, sedikit konspirasi, lalu semuanya dicampur dengan kemarahan pribadi dan diberi judul yang provokatif. Di tempat seperti ini, orang yang paling keras sering tampak paling yakin, orang yang paling kasar dianggap paling berani, dan orang yang paling percaya diri sering diperlakukan seolah-olah paling berpengetahuan.
TikTok akhirnya menyerupai pasar besar tempat segala sesuatu dijual: berita dijual bersama ketakutan, kemarahan dijual sebagai keberanian, penghinaan dijual sebagai kejujuran, kebodohan dijual sebagai pendapat, dan konflik dijual sebagai hiburan. Tidak diperlukan kualifikasi untuk berbicara. Tidak diperlukan kedalaman untuk menghakimi. Tidak diperlukan bukti untuk menuduh. Yang diperlukan hanya kamera, koneksi internet, dan sedikit keberanian untuk mempermalukan diri sendiri di depan jutaan orang.
Yang paling berbahaya bukan karena keburukan itu baru muncul setelah adanya media sosial. Keburukan selalu ada. Yang berubah adalah skalanya, kecepatannya, dan frekuensi kita mengonsumsinya. Dunia nyata mungkin tidak segaduh layar yang kita genggam. Tetapi ketika setiap hari kepala dipenuhi kekerasan, kebencian, kecemasan, caci maki, dan orang-orang yang merasa paling pintar, kita akhirnya bukan hanya menyaksikan kegaduhan. Kita mulai hidup di dalamnya.
