Melansir TMJ News Network, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sedang bersiap untuk memindahkan material nuklir dari sebuah fasilitas rahasia di Suriah menyusul kesepahaman yang dicapai antara Washington, Israel, dan rezim baru yang terhubung dengan Al Qaeda di Damaskus, menurut laporan Axios. Para pejabat AS dan Israel menyatakan bahwa diplomasi rahasia selama berbulan-bulan dan ancaman dari Israel berujung pada kesepakatan dengan Suriah beberapa minggu lalu, di mana Washington berharap proses pemindahan tersebut dapat diselesaikan sebelum akhir tahun 2026. Material tersebut dilaporkan disimpan di sebuah fasilitas yang dikenal sebagai “Situs 99” dan mencakup yellowcake uranium yang tersisa dari program nuklir Suriah terdahulu.
Masalah ini berawal dari reaktor al-Kibar di Deir Ezzor, Suriah, yang dihancurkan Israel dalam serangan udara tahun 2007 setelah intelijen Israel dan AS menilai bahwa pemerintahan Bashar al-Assad secara rahasia sedang mengembangkan reaktor nuklir. IAEA kemudian menyimpulkan bahwa bangunan yang hancur tersebut “sangat mungkin” merupakan reaktor nuklir yang seharusnya dilaporkan oleh Suriah. Meskipun reaktor tersebut telah dimusnahkan, fasilitas penelitian dan penyimpanan lainnya dilaporkan selamat, termasuk Situs 99. Setelah pemerintahan Assad diambil alih oleh Jolani—mantan afiliasi ISIS—pada akhir tahun 2024, Israel membom pintu masuk ke al-Kibar dan kemudian memperingatkan bahwa mereka dapat menyerang Situs 99 jika material tersebut tidak diamankan.
Ketegangan dilaporkan meningkat beberapa minggu lalu ketika Israel mendeteksi adanya aktivitas di sekitar Situs 99 dan mencurigai rezim baru Suriah berusaha mengakses material tersebut, berpotensi dengan bantuan sekutu dekatnya, Turki. Pemerintahan Trump kemudian melibatkan IAEA, yang dilaporkan menandatangani kesepakatan dengan Damaskus sekitar tiga minggu lalu untuk memindahkan material tersebut. “Kami berharap dapat segera memulai proses pemindahan dan menyelesaikannya sebelum akhir tahun ini,” kata seorang pejabat AS kepada Axios. Gedung Putih, IAEA, dan Kantor Perdana Menteri Israel menolak memberikan komentar secara publik terkait laporan kesepakatan tersebut.
Menyikapi kesepakatan penyerahan material nuklir tersebut, jurnalis independen asal Suriah, Maram Susli, memberikan kritik tajam. Ia menegaskan bahwa kompromi dengan Israel tidak akan menghentikan agresi.
Pelajaran yang kita petik dari Suriah adalah apa yang terjadi jika Anda tidak melawan Israel: hal itu tidak akan menyelamatkan Anda dari agresi Israel.
Jolani tidak melepaskan satu peluru pun ke arah Israel, sementara negara itu terus menginvasi semakin banyak wilayah Suriah setiap harinya.
Namun Israel tetap saja melakukan pemboman.
Jolani menandatangani dokumen-dokumen untuk menyerahkan enriched uranium (uranium yang diperkaya), rudal balistik, dan kemampuan apa pun bagi Suriah untuk membela dirinya sendiri.
Namun Israel tetap saja membom dan menginvasi.
Kita tidak bisa lagi menyelamatkan diri kita sendiri. Para pengkhianat telah menghabiskan waktu selama 14 tahun untuk menghancurkan pertahanan kita sendiri, dan mereka terus melakukan hal tersebut. Tetapi setidaknya kita menjadi pelajaran bagi mereka yang mengatakan, “Israel hanya memerangi kita karena kita memerangi mereka” atau “perlawanan bukanlah jawabannya”.
Perlawanan adalah satu-satunya jawaban, bahkan jika hasilnya adalah kehancuran bersama (mutually assured destruction).
