Analisis perbandingan geopolitik antara revolusi Ansarallah di Yaman dan konflik di Suriah.

𝗢𝗹𝗲𝗵 𝗝𝗮𝘆 𝗧𝗵𝗮𝗿𝗮𝗽𝗽𝗲𝗹

Di Yaman, jalan Ansarallah menuju kekuasaan tidak dimulai dengan mengangkat senjata melawan negara. Sebaliknya, negaralah—di bawah kepemimpinan mantan presiden Ali Abdullah Saleh—yang memulai perang pada tahun 2004 dengan membunuh Hussein al-Houthi, pendiri gerakan Ansarallah.

Pesan inti Al-Houthi adalah bahwa Saleh telah menundukkan Yaman di bawah kepentingan Arab Saudi dan AS, yang membuat negara tersebut sengaja dimiskinkan secara artifisial.

Setelah peristiwa 9/11, Al-Houthi mengklaim bahwa Al-Qaeda menyerang AS dengan bantuan dari Israel untuk membenarkan agresi AS terhadap dunia Arab-Islam demi kepentingan Israel, serta untuk “menyiapkan landasan guna memukul pihak-pihak yang memberikan ancaman nyata baginya, yaitu kaum Syiah”.

Dua tahun kemudian, Hussein al-Houthi dibunuh oleh rezim Saleh—dibakar hidup-hidup di dalam gua. Saleh merespons tantangan politik dengan kekerasan negara, yang kemudian direspons oleh Ansarallah dengan bertempur dalam enam kali perang defensif.

Saleh tidak bersedia memfederalkan Yaman menjadi enam wilayah dengan otonomi ekonomi bagi masing-masing wilayah. Maka selama era “Arab Spring”, ia digantikan oleh Hadi yang bersedia memfederalkan Yaman. Rencana tersebut akan memberikan 80% populasi yang terkonsentrasi di utara (wilayah basis Ansarallah) hanya 20% dari sumber daya alam.

Pada September 2014, Ansarallah memobilisasi massa dalam protes menentang rencana ini dan mengambil alih kendali ibu kota Sana’a hanya dalam waktu lima hari dengan dukungan parlemen dan tentara. Ansarallah kemudian mengajak seluruh faksi politik di Yaman untuk sepakat berbagi kekuasaan.

Ansarallah bahkan tidak menggulingkan Presiden Hadi. Sebaliknya, mereka menekan Hadi untuk menyepakati “Perjanjian Perdamaian dan Kemitraan Nasional” yang penengahannya juga melibatkan PBB.

Garis merah utama Ansarallah adalah rencana pembentukan federasi Yaman. Ketika Hadi tidak dapat mengimplementasikan rencana ini, ia membelot ke Arab Saudi lalu mengklaim bahwa ia masih menjabat sebagai presiden. Pihak Saudi kemudian mendesak Dewan Keamanan PBB agar menyepakati—dengan keterlibatan kompromi dari Rusia dan China—bahwa “presiden” Yaman membutuhkan bantuan mereka melawan “kelompok Houthi” dengan membingkai Ansarallah secara palsu sebagai ancaman Iran.

Selama tujuh tahun berikutnya (2015–2021), koalisi pimpinan Saudi, termasuk Amerika Serikat, berperang melawan pemerintahan yang didukung Ansarallah di Sana’a, termasuk dengan memaksakan blokade yang mencegah makanan masuk ke negara tersebut. Pada dasarnya, Arab Saudi membuat rakyat Yaman kelaparan dalam upaya sia-sia mereka untuk memaksakan pemerintahan yang mereka inginkan.

Di Suriah, terjadi pemberontakan mendadak pada Maret 2011, dengan milisi-milisi yang mengangkat senjata melawan negara dan membunuh tentara Suriah. Perwakilan politik dari pemberontakan ini berbasis di luar Suriah dan tidak pernah mengajukan tuntutan politik tanpa diawali dengan “Assad harus lengser”.

Jangan salah paham, memang ada oposisi murni secara politik terhadap Assad dan Assad sebenarnya sedang menanggapi tuntutan mereka. Namun, pemberontakan merupakan fenomena terpisah, dan strateginya semata-mata adalah melancarkan perang melawan negara hingga Assad menyerahkan kekuasaan kepada mereka. Strategi tersebut berlanjut selama 13 tahun hingga negara Suriah runtuh akibat kelelahan.

Untuk menggulingkan pemerintahan Assad, pemberontakan di Suriah menerima ratusan miliar bantuan luar negeri, ditambah militan asing, serta sanksi yang melumpuhkan pemerintahan Assad untuk menghukum rakyat Suriah secara kolektif. Setidaknya 50% dari jajaran militan pemberontak adalah warga asing pada tahun 2015 menurut SOHR. Sebaliknya di Yaman, Ansarallah 100% merupakan warga asli (indigenous) tanah air.

Pemberontakan di Suriah harus membunuh sekitar 160 ribu prajurit Suriah untuk merebut kekuasaan di Damaskus—sebuah jumlah personel militer yang sangat besar yang kini tidak lagi mengancam Israel.

Sebagai perbandingan, jalan Ansarallah menuju kekuasaan di Yaman, dari Sa’ada ke Dammaj hingga Sana’a (2011–2014), hanya memakan korban sekitar 1.000 kematian di semua sisi. Ansarallah tidak perlu membunuh sebagian besar tentara Yaman untuk merebut kekuasaan karena tentara Yaman dipenuhi oleh prajurit yang secara tulus menghormati pesan dan kepemimpinan Ansarallah di bawah Sayyid Abdul Malik al-Houthi.

Penderitaan di Yaman berasal dari upaya koalisi AS-Saudi-UEA untuk memukul mundur (roll-back) revolusi, sedangkan di Suriah, sebagian besar penderitaan berasal dari upaya para penggila “revolusi” untuk menggulingkan pemerintah dan tentara Assad melalui jalur militer.

Di Suriah, sekitar 600 ribu orang tewas secara keseluruhan, kemungkinan 89% di antaranya adalah kombatan di kedua belah pihak. Terlepas dari hal ini, banyak komentator pro-“revolusi” membicarakan angka 600 ribu kematian tersebut seolah-olah Assad bertanggung jawab atas semuanya.

Di Yaman, sekitar 377 ribu orang tewas sebagai akibat langsung dari upaya koalisi pimpinan Saudi untuk memukul mundur revolusi pimpinan Ansarallah sejak September 2014: 70% di antaranya adalah anak-anak di bawah usia lima tahun dan 60% meninggal akibat kelaparan serta penyakit (2015–2021).

Di satu sisi, revolusi Yaman menghasilkan revolusi pada kemampuan Yaman dalam perang asimetris, termasuk serangan drone dan rudal, bahkan rudal jelajah. Di sisi lain, “revolusi” Suriah pada dasarnya telah mengebiri Suriah secara militer atas nama menyingkirkan presiden yang dituduh bukan Islam tersebut.

Revolusi Ansarallah mengubah Yaman dari negara lemah yang tunduk menjadi kekuatan regional, sedangkan “revolusi” Al-Qaeda mengubah Suriah dari kekuatan regional menjadi negara lemah yang tunduk.

Begitulah perbedaan mendasarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *