𝗢𝗹𝗲𝗵 𝗧𝗲𝗻𝗴𝗸𝘂 𝗭𝘂𝗹𝗸𝗶𝗳𝗹𝗶 𝗨𝘀𝗺𝗮𝗻
Anda bisa bayangkan, di enam jam pertama AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari lalu, sekitar 900 bom dijatuhkan.
Dan selama 40 hari perang, total bom yang dijatuhkan di Iran mencapai 15.000 bom. Ini bukan perang biasa, AS dan Israel sangat berambisi menghancurkan Iran sehancur-hancurnya.
Ini dilakukan AS dan Israel setelah sebulan sebelumnya mereka gagal menyulut demo besar-besaran, yang bertujuan menjatuhkan pemerintah Iran dari dalam.
Anda mungkin masih ingat waktu itu Trump menjanjikan bantuan kepada para pendemo Iran, dengan kalimat yang sangat terkenal: “the help is on the way”.
Upaya AS dan Israel yang ingin menjatuhkan pemerintah Iran dan menyulut perang sipil di Iran gagal. AS dan Israel sengaja ingin menyulut perang sipil di Iran pasca kejatuhan pemerintah Iran, untuk memberikan alasan kepada mereka untuk membunuh lebih banyak rakyat Iran. Dan semua itu gagal.
Dan apa yang terjadi sekarang? AS dan Israel dipaksa ke meja runding dan menerima syarat Iran. AS dan Israel tentu menolak. Tapi selain menolak, AS dan Israel tidak bisa lagi melakukan banyak hal di lapangan.
Anda lihat sendiri, pemimpin Iran masih bisa jalan-jalan ke luar negeri untuk misi diplomatik, itu dilakukan di tengah perang yang secara de facto sekarang masih berlangsung dengan AS dan Israel.
Apakah ada kepala negara yang masih bisa jalan-jalan ke luar negeri saat negaranya sedang diinvasi AS yang kali ini plus dibantu Israel? Apakah ada pejabat negara yang negaranya sedang diagresi besar-besaran tapi masih bisa menjalin hubungan dengan dunia luar seperti pemimpin Iran saat ini? Tidak ada.
Mulai dari membunuh pemimpin tertinggi Iran sampai membunuh puluhan jenderal kelas atas Iran selama perang, sampai membunuh anak-anak sekolah TK dan SD di Iran untuk mendorong “revolusi” dari dalam. Hasilnya apa? Gagal!
Anda lihat sekarang kondisi Selat Hormuz, setelah diblokade oleh angkatan laut AS dan diblokir jalur minyaknya, Iran masih tetap bisa menjual minyak ke luar negeri. Tapi yang pasti Selat Hormuz tetap tertutup.
Berapa jumlah kapal yang lewat Selat Hormuz sebelum perang? 100-120 kapal yang melintas setiap hari. Sekarang sisa berapa kapal yang bisa melintas? Hanya maksimal 10 kapal. Artinya klaim Trump menguasai Selat Hormuz adalah kebohongan dan penyesatan opini publik.
Sampai saat ini, konflik yang sudah memasuki bulan ke-7, Iran bahkan belum meminta bantuan kepada sekutunya di seluruh Timur Tengah, Hizbullah Lebanon, Ansarallah Yaman, Al-Hashd al-Shaabi di Irak, Kataib Hizbullah, sampai Hamas di palestina. Tidak ada satupun yang diajak oleh Iran membantu perang 40 hari kemarin.
Tapi apa hasilnya di pihak AS dan Israel? 16 pangkalan militer AS yang hancur, dana yang terkuras lebih dari 85 miliar dolar jika dihitung secara total, bahkan AS sekarang harus mengevakuasi semua tentaranya ke bawah bunker yang sekarang ditempatkan lebih banyak di bawah tanah Yordania, karena takut nyawa mereka terancam balistik dan drone Iran kapan saja.
40 hari perang kemarin, jika Anda lihat kota-kota di Israel sudah mirip dengan kota Dresden di Jerman pada saat Perang Dunia II. Hancur-lebur setelah diserang dengan balistik Iran dalam hampir 100 gelombang yang diluncurkan langsung dari tanah Iran.
AS dan Israel sekarang juga menyadari, Iran gagal dikalahkan dan gagal ditundukkan. Bahkan sampai amunisi mereka habis. Sedangkan amunisi Iran terus-menerus produksi tanpa batas, unlimited stock, bahkan jika perang berjalan tahunan. Iran masih punya amunisi.
Negara yang sedang diinvasi besar-besaran, presidennya masih bisa berpidato di sidang PBB dan menantang AS langsung dari tanah mereka di New York. Iran menolak tunduk, pantang menyerah, dan menantang AS untuk kembali berperang.
Presiden Iran Masoud Pazeshkian di mimbar PBB mengatakan dengan jelas, Iran tidak akan menyerah, AS dan Israel adalah pelaku kejahatan perang terhadap rakyat Iran. Ini disampaikan di muka AS secara langsung di New York.
Iran memaksa AS putar otak lebih banyak, mulai dari sanksi baru maskapai penerbangan Iran, perbankan Iran, semua perusahaan Iran, dan bahkan mungkin kalau bisa sekolah-sekolah TK di Iran juga akan kena sanksi. Ini adalah praktik terorisme ekonomi ala AS yang dipertontonkan di depan mata dunia yang hipokrit.
Apakah Iran menyerah? Apakah Iran tunduk? Tidak. Bahkan Iran sekarang sedang mempersiapkan kemungkinan perang baru dengan AS dan Israel, setelah Trump kemarin memberikan sinyal ingin kembali menyerang Iran pasca pemilu sela AS akhir tahun nanti.
Iran memaksa AS mengemis ke China agar membantu AS menekan Iran, Trump secara khusus membujuk China agar jangan mau membantu Iran. AS ingin China ikut dalam gelombang sanksi baru AS terhadap Iran. Jawaban China singkat: kami tidak mau ikutan dan kami menolak sanksi apapun terhadap Iran.
Iran memahami kondisi geopolitik di Asia Barat dan secara global. Bahwa tidak ada tempat untuk negara lemah di depan AS. Sekali Anda lemah maka Anda akan segera jadi menu santapan mereka. Minimal Anda jadi boneka dan budak seperti mayoritas negara Arab saat ini.
Ribuan bom telah dijatuhkan di Iran dan segala jenis tekanan sudah dilakukan AS dan Israel dengan semua sekutu terorisme mereka. Dan Iran masih tegak, tumbuh, dan tetap survive sebagai sebuah bangsa.
