๐ข๐น๐ฒ๐ต ๐๐ฟ. ๐จ๐๐๐ฎ๐ ๐ ๐๐ต๐๐ถ๐ป ๐๐ฎ๐ฏ๐ถ๐ฏ
Pada 27 September 2026, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengadakan pertemuan di Abu Dhabi dengan Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Mohamed bin Zayed (MBZ). Kantor Perdana Menteri Israel dan Kantor Berita Resmi UEA (WAM) sama-sama mengonfirmasi pertemuan tersebut. WAM menyatakan kedua pihak membahas hubungan bilateral serta cara memperkuat dan mengembangkannya. Pejabat senior Israel yang berbicara kepada Reuters menyebutkan pertemuan berlangsung sekitar enam jam dan berfokus berat pada Iran.
Media Israel, termasuk Channel 14, Ynet, dan Yedioth Ahronoth, kemudian melaporkan bahwa setelah sesi privat NetanyahuโMBZ, terdapat pertemuan yang diperluas. Menurut laporan tersebut, perwakilan dari beberapa negara Arab, termasuk Arab Saudi, ikut hadir. Topik yang diklaim dibahas meliputi kerja sama keamanan, Iran, Houthi di Yaman, dan sistem pertahanan regional. CNN mengutip dua sumber yang mengetahui kunjungan itu dan menyebutkan kehadiran pejabat keamanan senior Saudi.
Arab Saudi membantah secara tegas. Seorang pejabat Saudi menyatakan kepada AFP: โNo official meetings. No talks. Nothing whatsoever. Our stance on Israel remains unchanged.โ Sumber Saudi kepada Arab News juga menyatakan laporan itu tidak benar dan tidak ada perwakilan Saudi yang hadir.
Beberapa minggu sebelumnya, pada pertengahan September 2026, para kepala staf militer dari Amerika Serikat, Israel, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, Yordania, dan Mesir mengadakan pertemuan tertutup di Jerman. Pertemuan itu difasilitasi oleh komandan CENTCOM AS, Admiral Brad Cooper, dan dikonfirmasi oleh CENTCOM. Topik utama: perang dengan Iran dan kerja sama keamanan regional.
Fakta-fakta di atas menunjukkan pola yang jelas. Pertemuan NetanyahuโMBZ, utusan penting Saudi dan pertemuan para kepala staf militer di Jerman berada dalam satu garis yang sama: koordinasi menghadapi Iran. Koalisi ini dibentuk untuk satu tujuan utama: menghancurkan Iran.
Saluran komunikasi militer tingkat tinggi antara Israel, Saudi, dan UEA sudah terbuka. Bantuan pertahanan udara Israel ke UEA selama konflik dengan Iran sudah menjadi fakta. Pertemuan Khalid bin Salman dengan Mansour bin Zayed beberapa hari setelah kunjungan Netanyahu memperkuat pola yang sama.
Saudi tetap mengeluarkan pernyataan formal menolak normalisasi. Itu formalitas politik. Di lapangan, Riyadh, Abu Dhabi, dan Tel Aviv berada di sisi yang sama. Mereka saling berbagi intelijen, menyelaraskan red lines, dan membangun koordinasi pertahanan. Negara-negara Teluk ini bertindak sebagai mitra strategis Israel dalam menghadapi ancaman yang sama. Inilah Zionisme bergamis.
Koalisi segitiga ini tidak membutuhkan pengumuman resmi. Ia sudah bekerja. Kepentingan menghancurkan kapasitas Iran lebih kuat daripada segala keengganan politik. Saudi bisa terus membantah, tetapi saluran kerja sama keamanan yang sudah dibangun tidak hilang.
Inilah koalisi segitiga Zionisme global lintas identitas agama, etnik dan geografis.
