“Buruh pelabuhan tidak bekerja untuk perang”
Buruh pelabuhan dan dermaga di setidaknya 17 negara merencanakan aksi gangguan dan pemblokiran pengiriman barang yang ditujukan ke Israel pada 30 Oktober, menurut gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS). Gerakan BDS menyatakan bahwa para pekerja di lebih dari 100 pelabuhan, mulai dari Meksiko hingga India, akan mengambil bagian, serta menyerukan kepada publik untuk bergabung dalam aksi tersebut.
Pihak penyelenggara menyampaikan bahwa para buruh akan menolak menangani kargo militer, energi, dan komoditas guna ganda (dual-use) yang mengarah ke Israel. Tuntutan resmi mereka mencakup penghentian militerisasi, penghentian apa yang mereka gambarkan sebagai genosida Israel terhadap warga Palestina, serta penghentian perang AS-Israel di kawasan tersebut. Mereka juga mendesak pemerintah di berbagai negara untuk menjatuhkan embargo militer secara penuh terhadap Israel dan menghentikan hubungan perdagangan, ekonomi, serta akademis yang menurut mereka menyokong pendudukan ilegal Israel atas wilayah Palestina.
Aksi yang direncanakan ini menyusul serangkaian protes tingkat pelabuhan pada tahun 2025. Para pekerja di pelabuhan Marseille-Fos, Prancis, mulai menunda pengiriman ke Israel setelah memeriksa sebuah kontainer yang dicurigai membawa komponen jet tempur F-35. Di Italia, Genoa menjadi pelabuhan pertama yang mengambil tindakan, disusul oleh Livorno, tempat kapal kontainer Zim Virginia tertahan selama lima hari di lepas pantai Tuskana setelah buruh pelabuhan menolak untuk mengizinkannya bersandar. Pekerja serikat di Italia, Yunani, Belgia, Maroko, dan Swedia juga mengumumkan bahwa mereka menolak menangani pengiriman militer yang menuju ke Israel. Jumlah pasti pelabuhan dan buruh yang akan berpartisipasi pada 30 Oktober belum dikonfirmasi secara independen.
πππΊπ―π²πΏ: π§π π π‘π²ππ π‘π²πππΌπΏπΈ
