Ilustrasi analisis perlawanan Ansarallah Yaman menghadapi koalisi militer Saudi dan Amerika Serikat.

𝗢𝗹𝗲𝗵 𝗧𝗲𝗻𝗴𝗸𝘂 𝗭𝘂𝗹𝗸𝗶𝗳𝗹𝗶 𝗨𝘀𝗺𝗮𝗻

Beberapa waktu lalu, Presiden Yaman yang “resmi” versi dukungan Arab Saudi yaitu Rashad al-Alimi, berpidato ke publik. Ia mengumumkan dimulainya operasi militer besar-besaran untuk melawan Ansarallah, atau yang disebut sebagai “Houthi” oleh media-media Barat dan pengikutnya.

Ia mengatakan akan merebut kembali wilayah-wilayah yang dikuasai Houthi dalam sebulan ini. Ini sebenarnya bukan hal baru, pemerintah Yaman “resmi” versi dukungan Saudi yang berbasis di Aden itu sudah berulang kali mengatakan hal begini, tapi fakta di lapangan berkata lain, Houthi tidak bisa dipukul mundur.

Laporan dari Axios, bahwa saat ini, aliansi Saudi telah mendapatkan briefing langsung dari pusat komando militer AS CENTCOM, tentang langkah-langkah operasi militer besar-besaran melawan Houthi.

Turunnya CENTCOM ke Yaman membuktikan ketangguhan Houthi yang selama sebulan ini mengalami kemajuan pesat, termasuk merebut wilayah At-Turbah dan sekarang sedang mengepung Taiz dari segala penjuru.

Houthi juga kemarin menguasai rumah ketua DPR Yaman dari pemerintahan “resmi” versi dukungan Saudi yaitu Sultan al-Barkani. Ia sudah lama melarikan diri ke Arab Saudi dan menetap di sana.

Mengapa Houthi terus mengalami kemajuan di lapangan?

  • Houthi bukan hanya memenangkan perang di lapangan, tapi juga mereka memenangkan perang narasi dan menang secara moral. Setiap wilayah yang mereka rebut, semua penduduknya atau milisi bayaran Saudi diperlakukan dengan baik, bukan sebagai tawanan perang.
  • Houthi memenangkan legitimasi rakyat, saat ini Houthi menguasai lebih dari 70% penduduk Yaman kalau dihitung dari semua wilayah yang telah mereka kuasai. Jika Houthi tidak mendapatkan dukungan rakyat Yaman, sudah lama Houthi tidak bisa eksis, baik secara militer mau pun secara politik.
  • Houthi dianggap lebih mewakili rakyat Yaman dan dianggap mampu mengelola negara. Houthi selalu berada di lapangan bersama rakyat di saat pemimpin pemerintahan “resmi” versi dukungan Saudi di Aden lebih banyak hidup di istana, berpidato, hidup di hotel, bahkan melarikan diri ke Arab Saudi.
  • Kemandirian senjata dan keuangan mengalami shifting yang signifikan. Houthi tidak bergantung ke Iran, baik materi mau pun senjata. Houthi terus menjaga independensi dari Iran dan membangun negara dengan kemampuan mereka sendiri dari dalam negeri.
  • Dukungan rakyat Arab kepada Houthi terus meningkat, ini karena rakyat Arab berbeda dengan pemimpin Arab atau buzzer mereka. Rakyat Arab melihat Houthi berjuang atas nama tanah air Yaman dan tidak terkontaminasi dengan pihak luar seperti Saudi yang didukung Israel, AS, Eropa, dan negara negara Teluk yang memusuhi Iran.

Eskalasi yang terus meningkat ini memberikan jalan kepada Houthi untuk terus bergerak maju ke Taiz, Maarib, dan tujuan akhirnya adalah menguasai Aden dan menggulingkan pemerintahan boneka Saudi di sana yang saat ini didukung Israel dkk.

Saat ini ada rumor, bahwa Pakistan ingin mengirimkan pasukan ke Yaman untuk membantu pemerintah “resmi” versi Saudi tersebut, rumor ini langsung mendapatkan reaksi Iran. Iran mengingatkan Pakistan agar tidak ikut intervensi ke Yaman karena itu akan menjadi kesalahan geopolitik yeng berbiaya mahal untuk Islamabad. Intervensi Pakistan secara langsung akan membuat perang semakin tidak terkendali dan juga akan merugikan Pakistan itu sendiri.

Donald Trump, Netanyahu, pemimpin-pemimpin negara Arab terus berkoordinasi untuk memberikan bantuan kepada pemerintah Yaman “resmi” versi Saudi di Aden. Tapi sejauh ini, Houthi tidak bisa dipukul mundur.

Kunjungan Netanyahu ke UAE yang kemudian berkumpul dengan para pemimpin Arab beberapa hari lalu, salah satu tujuannya adalah menyatukan kembali UAE dengan Arab Saudi untuk persoalan Yaman yang sudah pecah kongsi sejak beberapa tahun yang lalu. Netanyahu berupaya menyatukan kedua negara tersebut agar bersatu melawan Houthi.

Pemerintah Yaman “resmi” versi Saudi di Aden sajak awal adalah terdiri dari unsur-unsur Arab Saudi, UEA, mantan loyalis Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, Ikhwanul Muslimin, dan tentara bayaran luar sebelum Arab Saudi dan UEA pecah kongsi.

Tapi dengan perkembangan terkini, sudah banyak dari barisan pemerintah Yaman “resmi” versi Saudi membelot ke Houthi, minimal mereka memulai membuka jalur komunikasi dan diplomasi dengan Houthi, ini merupakan sikap berbeda dengan pemerintah yang berbasis di Aden itu saat ini.

Ikhwanul Muslimin misalnya, sekarang lebih memilih sikap lebih soft ke Houthi, tidak menyebut Houthi sebagai pemberontak seperti narasi yang dikembangkan Arab Saudi dan sekutunya. Ada aspirasi di kalangan Ikhwan juga agar membuka jalur komunikasi secara langsung dengan Houthi.

Arab Saudi memiliki ego yang sangat besar, terutama setelah mendapatkan komitmen bantuan intelijen dari Israel dan AS, dan komitmen bantuan Turki dan Pakistan. Padahal sejatinya di lapangan, Saudi sebenarnya tidak mampu berperang.

Saat ini, dengan pengumuman Presiden “resmi” Yaman versi Saudi di Aden untuk melakukan perang all out melawan Houthi, AS dan Israel dikabarkan akan turun langsung melakukan serangan udara gabungan terhadap pemerintahan Yaman yang berbasis di ibu kota Sana’a. Hal ini masih dalam kordinasi dengan Saudi dkk.

Jika kita melihat perkembangan lapangan saat ini, kemajuan Houthi didorong oleh dukungan dalam negeri yang kuat dari rakyat Yaman. Dan mereka kuat dari dalam. Hal ini akan sangat menyulitkan bagi koalisi Saudi untuk mengalahkan Houthi apalagi jika hanya mengandalkan serangan udara.

Jika Taiz jatuh dalam waktu dekat, maka itu akan memberikan Houthi kontrol terhadap wilayah strategis lain Maarib, dan Houthi bisa memotong jalur distribusi Saudi ke Aden yang hanya bisa dilewati lewat jalur Taiz. Itulah kenapa Taiz sekarang akan mengalami perang besar yang menentukan. Nasib Aden akan ditentukan salah satunya dengan eksistensi Taiz.

Dukungan yang diperoleh Houthi, baik secara moral atau legitimasi saat ini, ini akan menyulitkan koalisi Saudi untuk mengalahkan mereka di Medan perang.

Sekuat apapun back up dari Israel, AS, Eropa dan negara Teluk untuk pemerintah “resmi” versi mereka di Aden, menurut saya tidak akan mengubah banyak keadaan di lapangan. Dan tidak menguntungkan aliansi Saudi.

Perlu dicatat dengan baik, bahwa carut-marutnya dunia Islam saat ini, itu tidak mewakili kondisi umat Islam secara menyeluruh, yang kacau adalah pemimpin Arab dan pemimpin Teluk, tapi umat Islam dalam keadaan baik-baik saja.

Ini sejatinya bukan perang Islam vs Islam, ini adalah perang geopolitik yang mewakili ego pimpinan Arab aliansi Israel dan AS, melawan kehendak rakyat Yaman yang kebetulan dibantu oleh Iran secara tidak langsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *