Ilustrasi kolaborasi militer dan intelijen antara Saudi dan Israel dalam konflik di Yaman.

๐ƒ๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ฎ๐ฉ๐š๐ฒ๐š ๐ฉ๐š๐ง๐ข๐ค ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐ก๐ž๐ง๐ญ๐ข๐ค๐š๐ง ๐ฌ๐ž๐ซ๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฌ๐ž๐๐š๐ง๐  ๐›๐ž๐ซ๐ฅ๐š๐ง๐ ๐ฌ๐ฎ๐ง๐  ๐จ๐ฅ๐ž๐ก ๐€๐ง๐ ๐ค๐š๐ญ๐š๐ง ๐๐ž๐ซ๐ฌ๐ž๐ง๐ฃ๐š๐ญ๐š ๐˜๐š๐ฆ๐š๐ง, ๐ˆ๐ฌ๐ซ๐š๐ž๐ฅ ๐๐š๐ง ๐€๐ซ๐š๐› ๐’๐š๐ฎ๐๐ข ๐ญ๐ž๐ฅ๐š๐ก ๐ฆ๐ž๐ฆ๐ฉ๐ž๐ซ๐ž๐ซ๐š๐ญ ๐ก๐ฎ๐›๐ฎ๐ง๐ ๐š๐ง ๐ฆ๐ž๐ฅ๐š๐ฅ๐ฎ๐ข ๐ค๐š๐ฆ๐ฉ๐š๐ง๐ฒ๐ž ๐ซ๐š๐ก๐š๐ฌ๐ข๐š ๐›๐ž๐ซ๐ฌ๐š๐ฆ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐›๐ž๐ซ๐ญ๐ฎ๐ฃ๐ฎ๐š๐ง ๐ฆ๐ž๐ง๐ฒ๐ž๐ฅ๐š๐ฆ๐š๐ญ๐ค๐š๐ง ๐ฌ๐ข๐ฌ๐š-๐ฌ๐ข๐ฌ๐š ๐ฌ๐ฎ๐ฉ๐ซ๐ž๐ฆ๐š๐ฌ๐ข ๐ฆ๐ž๐ซ๐ž๐ค๐š ๐๐ข ๐ค๐š๐ฐ๐š๐ฌ๐š๐ง ๐‹๐š๐ฎ๐ญ ๐Œ๐ž๐ซ๐š๐ก. ๐Š๐ž๐ก๐ข๐ฅ๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐›๐ž๐ง๐ญ๐ž๐ง๐ -๐›๐ž๐ง๐ญ๐ž๐ง๐  ๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ž๐ซ ๐ค๐ฎ๐ง๐œ๐ข ๐๐ข ๐ฉ๐ž๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ซ ๐›๐š๐ซ๐š๐ญ ๐˜๐š๐ฆ๐š๐ง ๐จ๐ฅ๐ž๐ก ๐“๐ž๐ฅ ๐€๐ฏ๐ข๐ฏ ๐๐š๐ง ๐‘๐ข๐ฒ๐š๐๐ก ๐ญ๐ž๐ฅ๐š๐ก ๐ฆ๐ž๐ง๐š๐ง๐๐š๐ข ๐๐ข๐ฆ๐ฎ๐ฅ๐š๐ข๐ง๐ฒ๐š ๐ž๐ซ๐š ๐›๐š๐ซ๐ฎ ๐ง๐จ๐ซ๐ฆ๐š๐ฅ๐ข๐ฌ๐š๐ฌ๐ข ๐ฅ๐ฎ๐ง๐š๐ค


๐—ข๐—น๐—ฒ๐—ต ๐—ฅ๐—ผ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜ ๐—œ๐—ป๐—น๐—ฎ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ต

Arab Saudi telah meluncurkan ratusan serangan udara di Yaman, yang mengakibatkan ribuan korban jiwa sejak kampanye pengeboman ulangnya dimulai Juli lalu. Kini, Riyadh sangat bergantung pada dukungan intelijen penargetan Israel untuk melancarkan puluhan serangan di seluruh wilayah Yaman setiap harinya, termasuk serangan ke pasar-pasar sipil dan bangunan tempat tinggal.

Sementara itu, para pejabat Israel melontarkan banyak pujian kepada Riyadh pada hari Rabu ini karena telah memfasilitasi penerbangan komersial pertama antara Israel dan Saudi. Hal ini terjadi menyusul intervensi Kerajaan untuk membantu para penumpang Israel di dalam pesawat Flydubai yang terpaksa melakukan pendaratan darurat.

Sebaliknya, Kerajaan Arab Saudi (KSA) justru memicu kembali perang Saudi-Yaman dengan membom landasan pacu Bandara Internasional Sana’a guna mencegah pesawat jet sipil Iran mendarat di dalam negeri. Langkah ini diambil untuk menegakkan blokade udara jangka panjang terhadap Yaman, sementara pesawat-pesawat Israel dengan bebas menggunakan wilayah udara Saudi.

Poros Riyadh menuju orbit Israel melibatkan kampanye yang dikoordinasikan secara rahasia dengan fokus pada Yaman, yang memicu konsekuensi regionalโ€”mulai dari operasi intelijen bersama, pertukaran daftar target, pertemuan langsung antar pejabat, hingga kampanye propaganda yang terkalibrasi.

Pada awal September, lembaga penyiaran nasional Israel, Kan News, melaporkan bahwa Tel Aviv telah mulai memasok intelijen untuk membantu Arab Saudi menyusun daftar target guna melancarkan serangan ke dalam wilayah Yaman. Kendati kedua pihak tidak memiliki hubungan diplomatik formal, Israel sudah membantu Arab Saudi di bidang militerโ€”sebuah perkembangan yang biasanya akan menjadi skandal besar di tingkat regional, namun media berbahasa Arab yang didanai oleh negara-negara Teluk hampir sepenuhnya mengabaikan hal tersebut.

Menjelang pertengahan September, hanya beberapa hari setelah Angkatan Bersenjata Yaman membebaskan Pesisir Barat negara mereka dari milisi Dewan Kepemimpinan Presidensial (PLC) yang didukung Saudi, Axios News mengungkapkan bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) telah menyelenggarakan retret militer gabungan Arab-Israel secara tertutup di Jerman. Dalam retret tertutup tersebut, para pejabat militer Israel dan Saudi dapat langsung mendiskusikan masalah-masalah terkait Iran dan pemerintahan Yaman yang dipimpin oleh Ansarallah.

Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman baru-baru ini mengunjungi Kairo, menemui secara resmi Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sissi untuk membahas masalah perdagangan dan urusan luar negeri. Di sela-sela kunjungan tersebut, para pejabat CENTCOM secara berulang kali mengajukan proposal untuk membentuk struktur komando regional dan mekanisme koordinasi yang melibatkan Israel, demi menghadapi secara tepat pasukan yang dipimpin oleh Ansarallah di Yaman.

Lebih parah lagi, ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengunjungi Abu Dhabi pada 27 September, ia tidak hanya menghadiri pertemuan dengan penguasa Emirat Mohamed bin Zayedโ€”menurut Channel 14 News Israel, Netanyahu juga secara diam-diam menemui delegasi Saudi.

Di saat para analis memperdebatkan apakah ‘Pakta Mekkah’ yang baru saja ditandatanganiโ€”antara Riyadh, Islamabad, dan Ankaraโ€”menandakan dimulainya ‘NATO Muslim Sunni’, Kerajaan Arab Saudi justru bergeser ke arah aliansi strategis rahasia dengan Israel. Kolusi antara kedua kepemimpinan tersebutโ€”yang menguasai seluruh dari tiga Situs Suci Islamโ€”telah mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah.

Menargetkan Warga Sipil dan Propaganda Sektarian

Hasil yang paling mencolok dari kolaborasi Arab Saudi dengan Israel adalah lonjakan tajam dalam jumlah laporan pembantaian warga sipil yang terus terjadi. Pemberitaan media arus utama mengenai serangan-serangan semacam itu sangat mirip dengan cara pemberitaan atas serangan serupa di Jalur Gaza.

Ambil contoh serangan baru-baru ini yang diluncurkan oleh jet tempur Saudi di kegubernuran Taiz, yang menewaskan sedikitnya tujuh warga sipil di sebuah pasar dan menghancurkan fasilitas penyimpanan makanan. Ketika Reuters memberitakan kisah tersebut, mereka menggunakan judul berikut: “Tujuh orang tewas dalam serangan di pasar di Yaman, kata kementerian kesehatan yang dikelola Houthi.”

Sama seperti media arus utama yang menyebut Kementerian Kesehatan Gaza sebagai “dikelola Hamas”, mereka menggunakan frasa “dikelola Houthi” di Yaman sebagai taktik retorika untuk meremehkan kebenaran dari klaim yang disampaikan. Di Gaza, Hamas memang merupakan partai politik yang memimpin pemerintahan lokal di wilayah tersebut, secara teknis membuat trik linguistik ini agak akurat, meskipun itu tetap merupakan bentuk propaganda murni. Namun, dalam kasus Yaman, sebutan itu sama sekali tidak akurat, karena partai politik yang mengendalikan pemerintahan bernama Ansarallah, sementara “Houthi” adalah nama sebuah keluarga dari Yaman utara.

Serangan udara Saudi juga menargetkan lokasi sipil lainnya seperti bangunan tempat tinggal di wilayah Pelabuhan Mokha, yang baru saja direbut kembali oleh pasukan pemerintah pimpinan Ansarallah, hingga menewaskan sedikitnya 6 orang. Kendati Komando Pusat AS diklaim menyatakan bahwa data penargetan dari Tel Aviv yang diberikan kepada Riyadh sangat penting, tidak ada bukti bahwa intelijen yang dipasok tersebut telah memicu perubahan material apa pun di medan perang.

Meskipun saat ini belum memungkinkan untuk diverifikasi apakah infrastruktur sipil yang dihantam oleh Angkatan Udara Arab Saudi merupakan target yang dilacak oleh upaya pengumpulan intelijen Israel atau bukan, yang jelas adalah serangan Israel sendiri terhadap Yaman sebagian besar justru menewaskan warga sipil.

Baik Israel maupun Arab Saudi memang memiliki kepentingan bersama di Yaman. Keduanya sama-sama berupaya menggulingkan pemerintahan negara tersebut yang berbasis di Sana’a. Penangkapan garis pantai Bab al-Mandab baru-baru ini oleh Angkatan Bersenjata Yaman mengancam Tel Aviv sekaligus Riyadh, mengingat keduanya adalah satu-satunya negara yang memiliki alasan bagi Sana’a untuk menjatuhkan blokade.

Blokade yang diberlakukan Yaman terhadap Israel, dimulai pada akhir 2023, telah membuat bangkrut total Pelabuhan Eilat di Israel selatan. Langkah tersebut diambil sebagai bentuk dukungan terhadap Gaza dan blokade tersebut berakhir dengan diimplementasikannya gencatan senjata pada 8 Oktober 2025. Sementara dalam kasus Arab Saudi, blokade telah diberlakukan terhadap mereka di Laut Merah sebagai tindakan balasan atas blokade jangka panjang Saudi terhadap Yaman.

Kondisi ini memicu kampanye propaganda gabungan Saudi-Israel yang berupaya menggambarkan kendali Yaman atas wilayah mereka sendiri sebagai ancaman terhadap navigasi dan perdagangan maritim internasional, sesuatu yang telah dibantah secara tegas oleh para pejabat Yaman.

Tema propaganda yang menonjol adalah politisasi otoritas keagamaan dan penyebaran sektarianisme secara sengaja. Ambil contoh cendekiawan Islam terkemuka Saudi, Dr. Abdulaziz Al-Rayezโ€”seorang tokoh yang sebelumnya melarang perlawanan terhadap Israel dan mengecam perjuangan bersenjata Palestinaโ€”malah mendesak apa yang disebutnya “Muslim Sunni” untuk memerangi “para pencaci sahabat [Nabi Muhammad]” dan “berlomba menuju medan kemuliaan syahid” melawan Angkatan Bersenjata Yaman. Al-Rayez mempromosikan sektarianisme yang tidak akurat secara faktual, dengan mencap pemerintahan berbasis di Sana’a sebagai oposisi Syiah yang jahat terhadap kekuatan Sunni yang saleh dan didukung Saudi.

Mufti Besar Saudi, Sheikh Saleh bin Fawzan Al-Fawzan, juga mengeluarkan pernyataan publik yang langka mengenai perang melawan Yaman, membingkai isu tersebut sebagai kewajiban religius bagi umat Islam untuk memerangi Angkatan Bersenjata Yaman. Selain itu, seorang ulama terkemuka asal Pakistan yang memiliki hubungan dekat dengan Saudiโ€”yang terkenal karena memuji Osama bin Laden sebagai “seorang pejuang Muslim”โ€”menilai Ansarallah sebagai “teroris” dan mengklaim bahwa mereka bahkan bukan Muslim.

Di seluruh media berbahasa Arab yang dimiliki oleh negara-negara Teluk, pemberitaan mengenai perang tersebut sangat gencar memojokkan Ansarallah, dengan berbagai pengamat berupaya mengklaim bahwa sekte Muslim Zaidiyah di Yaman sedang bersekongkol dengan Iran untuk mewujudkan tirani Muslim Syiah di Asia Barat yang bertujuan menindas mayoritas Sunni.

Sementara Arab Saudi bersekongkol dengan Israel untuk menghantam berbagai target di seluruh Yaman dan para pejabatnya menemui rekan-rekan Israel mereka, upaya propaganda yang terkoordinasi berupaya meyakinkan publik di kawasan tersebut bahwa Riyadh adalah korban; mempolitisasi sektarianisme sebagai sarana untuk mengalihkan perhatian dari poros pergeseran berkelanjutan mereka ke dalam lingkaran pengaruh Israel.


Sumber: tulisan ini diterjemahkan dan disarikan dari artikel berjudul “The Saudi-Israeli War On Yemenโ€™s Resistance: Intelligence Sharing, Civilian Targets & Sectarian Propaganda” yang diterbitkan oleh MintPress News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *