Dokumentasi analisis standar ganda dan dampak agresi militer di Yaman.

Benjamin Netanyahu mengutuk serangan Ansarallah Yaman ke bandara internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, namun tidak pernah membicarakan korban jiwa di Yaman akibat perang Saudi yang didukung AS dan Israel. Apa dia lupa bahwa sebelumnya koalisi pimpinan Saudi juga menyerang bandara internasional Sana’a di Yaman pada 10 Oktober, tujuh bom dijatuhkan! Serangan terhadap bandara di Yaman ini tak cuma sekali-dua kali. Double standard at its finest.

Ingat, perang Yaman kembali bergejolak—setelah sebelumnya sudah sempat mereda dengan kesepakatan gencatan senjata yang diambil pada 2022—oleh kelakuan Saudi yang lebih dulu menyerang Bandara Internasional Sana’a pada pertengahan Juli. Saat itu korban jiwa dari sipil Yaman turut bergelimpangan. Mana suara media?!

Menyoroti ketidakadilan dan standar ganda dalam konflik ini, analis geopolitik Dr. Ustaz Muhsin Labib memberikan ulasan mendalamnya:

Dalam politik Timur Tengah, istilah membela diri sering kali kehilangan makna objektifnya. Serangan Saudi terhadap Yaman dapat dibungkus dengan alasan keamanan, tetapi perlawanan Yaman justru dicap sebagai ancaman. Tindakan yang sama memperoleh nama berbeda bergantung pada siapa pelakunya dan siapa yang menjadi sasaran.

Persoalannya bukan membenarkan setiap tindakan pihak yang melawan Saudi, melainkan mempertanyakan monopoli atas hak membela diri. Rakyat Yaman memiliki hak atas keamanan, kehidupan, dan martabat sebagaimana rakyat Saudi. Hak tersebut tidak boleh menjadi hak istimewa negara yang kuat, sementara negara yang lebih lemah dipaksa menerima serangan tanpa perlawanan.

Ironisnya, ketika Saudi melancarkan serangan, kepentingan keamanan dijadikan pembenaran. Ketika Yaman melawan, perlawanan itu diperlakukan sebagai ancaman yang harus dihancurkan. Logika semacam ini mengubah hukum menjadi alat politik: tindakan sekutu dimaklumi, tindakan lawan dikutuk, dan penderitaan korban disaring melalui kepentingan geopolitik.

Kedaulatan tidak boleh menjadi tameng bagi negara kuat untuk menyerang, sementara hak membela diri dicabut dari pihak yang menjadi sasaran. Jika keamanan Saudi dianggap penting, keamanan rakyat Yaman pun harus diakui. Jika nyawa warga Saudi layak dilindungi, nyawa warga Yaman tidak boleh dinilai lebih murah.

Inilah wajah standar ganda: bukan ketiadaan prinsip, melainkan penerapan prinsip secara selektif. Keadilan baru kehilangan makna ketika ia hanya berlaku bagi kawan dan berhenti berlaku bagi lawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *