Apa yang diberitahukan kepada Anda tentang perang antara Arab Saudi dan Yaman saat ini kehilangan bagian paling penting, karena Ansarallah telah membuktikan sesuatu yang jelas-jelas tidak ingin dilihat oleh Arab Saudi dan sekutunya: pergerakan maju mereka, dan itu sangat cepat. Selama beberapa minggu terakhir, Ansarallah merebut wilayah-wilayah penting di sepanjang pantai barat Yaman, termasuk posisi-posisi yang mengarah langsung ke Selat Bab al-Mandab.
Mereka mendesak maju menuju Mokha, memperluas wilayah di sekitar Taiz, dan pada 4 Oktober pasukan mereka memutus jalan utama yang menghubungkan Taiz ke Aden—secara efektif memperketat pengepungan di salah satu kota paling strategis di Yaman. Hal itu membantu menjelaskan apa yang terjadi selanjutnya. Pemerintah Yaman “resmi” dukungan Saudi yang berbasis di Aden tiba-tiba mengumumkan operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Ansarallah.
Arab Saudi melancarkan serangan udara intensif sebagai dukungan. Lebih dari 100 pesawat tempur Saudi dilaporkan telah dilibatkan. Dan kini, ini bukan sekadar pertempuran antara Saudi dan Yaman.
Amerika Serikat secara aktif menyediakan intelijen dan dukungan operasional. Pakistan dan Turki telah sepakat untuk dengan cepat menyiagakan kapabilitas militer ke Arab Saudi di bawah pakta pertahanan Makkah yang baru. Prancis pun telah berkomitmen mengirimkan pasukan dan sistem pertahanan udara untuk melindungi terminal minyak strategis Arab Saudi di Laut Merah yang berada di Yanbu.
Jadi tanyakan pada diri Anda: Mengapa sebuah organisasi yang digambarkan oleh media Barat dan Saudi sebagai milisi radikal yang terisolasi tiba-tiba mampu memaksa banyak negara untuk memobilisasi kekuatan di sekitar Arab Saudi? Karena medan tempur terlihat sangat berbeda ketika Anda melihat apa yang sebenarnya bisa dilakukan oleh Ansarallah—yang disimplifikasi dengan sebutan “Houthi” oleh media Barat dan pengikutnya. Ini bukan sekadar tentang mempertahankan wilayah, ini adalah tentang daya tawar (leverage). Bab al-Mandab adalah salah satu jalur penyempitan maritim (choke point) paling penting di dunia, dan kemampuan Ansarallah untuk mengancam pelayaran memberi mereka daya tawar jauh melampaui batas-batas wilayah Yaman.
Lalu ada faktor Arab Saudi itu sendiri. Ansarallah telah membuktikan kemampuan untuk meluncurkan rudal dan drone jauh ke dalam wilayah Saudi, termasuk ke infrastruktur strategis. Pipa gas dan minyak timur-barat, yang dapat mengalirkan jutaan barel minyak per hari menuju pantai Laut Merah Arab Saudi, mengalami kerusakan akibat serangan drone pada bulan September.
Minyak mentah jenis Brent tetap bertahan di kisaran $100 seiring perang regional yang meluas terus mengganggu pasar energi. Inilah yang membuat ofensif saat ini menjadi sangat krusial. Arab Saudi tidak sekadar mencoba merebut kembali beberapa kota kecil; mereka sedang berusaha mencegah Ansarallah mengonsolidasikan posisi yang dapat memberi mereka kontrol atau pengaruh atas wilayah, rute perdagangan, dan infrastruktur energi secara bersamaan.
Dan inilah bagian yang mudah terlewatkan. Pasukan sokongan Saudi di Yaman mengklaim kemenangan besar di sekitar Bab al-Mandab dan Mokha, namun Ansarallah telah membantah klaim-klaim tersebut dan menegaskan bahwa mereka tetap memegang kendali kuat atas koridor Selat Bab al-Mandab. Inilah mengapa menyederhanakan Ansarallah hanya sebagai sekadar proksi Iran tidak memahami realitas militer yang sebenarnya.
Ansarallah telah menghabiskan bertahun-tahun mengembangkan kapabilitas perang asimetris, beroperasi di pegunungan dan pesisir Yaman, bertahan dari tekanan militer pimpinan Saudi selama bertahun-tahun, dan berulang kali menemukan cara untuk mengancam kekuatan militer yang jauh lebih besar. Kini, setelah bertahun-tahun dalam kondisi relatif tenang, perang tersebut kembali meletus di peta. Jadi pertanyaan sesungguhnya bukan sekadar: Bisakah Arab Saudi mendesak mundur Ansarallah? Melainkan apakah Arab Saudi dan sekutunya telah meremehkan betapa besarnya daya tawar militer dan strategis yang telah diakumulasikan Ansarallah saat dunia tidak memperhatikannya.
𝘀𝘂𝗺𝗯𝗲𝗿: 𝗧𝗠𝗝 𝗡𝗲𝘄𝘀 𝗡𝗲𝘁𝘄𝗼𝗿𝗸
