Ilustrasi peta strategis Selat Bab al-Mandab beserta foto penulis analisis geopolitik Yaman.

Oleh Tengku Zulkifli Usman

Dalam 100 jam terakhir, Houthi berhasil menguasai 5.400 km persegi wilayah baru di Yaman.

Penguasaan teritorial baru sekarang ini memberikan akses Houthi menguasai penuh Bab al-Mandab, dan wilayah panjang yang langsung terhubung ke pelabuhan penting Al-Hodeidah yang selama ini juga telah mereka kuasai.

Penguasaan Bab al-Mandab ini langsung memberikan pukulan bagi kepentingan perdagangan Arab Saudi, AS, Israel, dan sekutunya. Oleh karena itu, Israel menyebut penguasaan Bab al-Mandab oleh pasukan Yaman ini bisa lebih bahaya daripada kondisi Selat Hormuz di bawah Iran.

Saat ini ada sekitar 100 penasihat militer dan pejabat militer AS berada di Arab Saudi, untuk memberikan bantuan dan arahan bagaimana cara menangani pasukan Yaman yang mengalami kemajuannya dengan pesat sekarang di negeri tersebut.

AS, Arab Saudi, UAE ,Israel, Inggris dan sekutunya sudah lama turun ke Yaman untuk menguasai negara itu, tujuan utamanya adalah menghalangi Ikhwanul Muslimin naik ke tampuk kekuasaan di Yaman pasca Arab Spring yang menumbangkan Presiden Ali Abdullah Saleh yang telah berkuasa selama lebih 30 tahun.

Arab Saudi dengan bantuan AS dkk ingin Yaman ada dalam deretan negara Sunni yang pro-AS dan Israel. Jangan sampai Yaman dikuasai oleh “Islamis” seperti di Mesir pasca Arab Spring yang mengantarkan Ikhwanul Muslimin ke tampuk kekuasaan.

Arab Saudi dengan arahan dan bantuan AS, Israel, inggris dll, menginginkan Yaman ada dalam pengaruh Riyadh secara geopolitik, agar semangat Arab Spring tidak menyebar ke dunia Arab dan mengancam rezim-rezim monarki Arab.

Intervensi Arab Saudi dkk ke Yaman untuk menghalangi Ikhwanul Muslimin naik ke tampuk kekuasaan telah menyebabkan lebih 70.000 rakyat Yaman terbunuh dan jutaan lainnya dalam kondisi kelaparan.

Arab Saudi awalnya bersekutu dengan UEA untuk menguasai Yaman dengan bantuan AS dll. Arab Saudi menguasai wilayah Aden, Hadramaut, dan sekitarnya, sedangkan UEA menguasai wilayah selatan dengan kekuatan militer STC-nya.

Tapi di tengah jalan, Arab Saudi dan UEA bercerai dan saling bunuh di Yaman karena perbedaan kepentingan seiring meluasnya wilayah dan pengaruh yang dikuasai oleh UEA.

Houthi bangkit melawan pendudukan Arab Saudi dan antek-antek asing ini di Yaman, Houthi menguasai ibu kota Yaman Sana’a dan banyak wilayah lain.

Masalah akhirnya Houthi didukung oleh Iran itu datang belakangan, saat ada term dan kondisi yang menemukan kesepakatan Iran dengan Houthi yang ingin membebaskan Yaman dari cengkraman AS, Israel, Inggris, dll lewat tangan Arab Saudi.

Houthi sendiri posisinya tidak sepenuhnya bergantung ke Iran, Houthi di Yaman lebih mirip dengan gerakan Jihad Islami di Gaza yang didukung Iran. Tapi Iran juga mendukung Hamas selain Jihad islami.

Saat ini, Houthi justru lebih independen dan lebih mandiri, saat ini Iran telah mengirim ratusan perwira IRGC ke Yaman untuk membantu Houthi. Inipun dilakukan Iran saat mengetahui ratusan perwira AS ada di Arab Saudi untuk mendukung Arab Saudi melemahkan Houthi dalam perang terbaru ini.

Jadi, Arab Saudi turun ke Yaman dari awal posisinya adalah sebagai penjajah dan agresor yang didukung AS, Israel, inggris dll. Dengan alasan utama menghalangi Ikhwanul Muslimin agar jangan sampai berkuasa di Yaman.

Mengingat Ikhwanul Muslimin dengan partai Al-Islah pasca Arab Spring mengalami rise dan maju pesat sebelum dibungkam oleh Arab Saudi dkk. Pola seperti ini juga pernah dilakukan Arab Saudi dan UEA ketika mereka terlibat langsung melakukan kudeta di Mesir menggulingkan Presiden Mursi pada tahun 2013 dengan bantuan AS, Israel, dll. Lalu menaikan Abdel Fattah El-Sisi yang pro-Israel.

Konflik geopolitik ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan Sunni atau Syiah, ini murni ambisi Arab Saudi yang menginginkan Yaman jatuh dalam pengaruh mereka dan bisa menyingkirkan Ikhwanul Muslimin dari kekuasaan yang dianggap bisa membahayakan monarki-monarki Arab.

Jadi, siapapun yang masih terjebak pada isu Sunni-Syiah, yang masih suka teriak menyesat-nyesatkan Syiah, dan sangat getol membela Arab Saudi yang jelas-jelas bejat dalam konteks ini, itu fix orang-orang Islam dungu, aktivis Islam bodoh, dan ustadz-ustadz bahlul yang mau jadi buzzer gratisan negara Teluk, tanpa memahami dengan baik duduk persoalan dengan utuh dan lengkap lanskap geopolitik ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *