Foto pengamat politik yang menganalisis faktor pembelotan pasukan pro-Saudi dan kemenangan Ansarallah di Bab al-Mandab.

𝗢𝗹𝗲𝗵 𝗗𝗿. 𝗨𝘀𝘁𝗮𝘇 𝗠𝘂𝗵𝘀𝗶𝗻 𝗟𝗮𝗯𝗶𝗯

Apa penyebab kemenangan luar biasa, spektakuler, dan sama sekali tidak terduga itu? Dalam waktu kurang dari sepuluh jam, Ansarallah mampu menerobos lebih dari 300 kilometer, memasuki wilayah yang selama ini dikuasai dan dipertahankan secara kuat oleh tentara bayaran Saudi, hingga akhirnya menguasai Bab al-Mandab. Apa rahasianya? Senjata? Taktik? Strategi militer tertentu? Perang sebenarnya dapat dibaca dengan mudah. Ini bukan medan pegunungan yang memungkinkan gerak pasukan tersembunyi dan sulit dipetakan. Ini adalah kawasan pesisir yang terbuka. Namun pasukan Ansarallah justru melaju dengan kecepatan yang luar biasa.

Rahasia sesungguhnya terletak pada manusia yang berada di balik senjata. Sebagian besar dari tentara Yaman yang selama ini berada di bawah komando Saudi justru berbalik arah, menyerahkan diri, bahkan bergabung dengan Ansarallah. Ketika tentara yang seharusnya menjadi benteng pertahanan justru membuka jalan, menyerahkan posisi, dan berpihak kepada kekuatan yang datang, garis pertahanan sebesar apa pun akan runtuh dalam sekejap. Karena itu, kemenangan ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan keunggulan persenjataan atau kecanggihan taktik. Ada perubahan politik dan psikologis yang jauh lebih besar di balik keruntuhan tersebut.

Inilah sesungguhnya kemenangan politik, bahkan lebih besar daripada sekadar kemenangan militer. Ia adalah kemenangan politik domestik sekaligus kemenangan politik internasional. Di dalam negeri Yaman, dukungan terhadap Ansarallah semakin terlihat datang dari berbagai penjuru, termasuk dari orang-orang yang sebelumnya berada dalam struktur kekuatan yang berseberangan. Ketika rakyat dan tentara Yaman sendiri berbalik mendukung Ansarallah, legitimasi kekuatan yang selama ini dibangun Saudi dan Uni Emirat Arab ikut kehilangan pijakan.

Kemenangan itu sekaligus memiliki makna internasional yang sangat besar. Donald Trump sendiri mengakui adanya komunikasi dengan Ansarallah dan memilih untuk tidak terlibat. Ini jauh lebih besar daripada sekadar pengakuan atas keberadaan sebuah kelompok bersenjata. Secara de facto, tindakan tersebut menunjukkan pengakuan terhadap Ansarallah sebagai kekuatan politik paling dominan di Yaman, sekaligus sebagai realitas politik yang telah diakui dan harus diperhitungkan oleh dunia internasional. Ketika Amerika Serikat sendiri harus berkomunikasi dengan Ansarallah, posisi politiknya telah menembus batas-batas pengakuan domestik Yaman dan memperoleh pengakuan de facto di tingkat internasional.

Fakta bahwa Saudi dan Uni Emirat Arab harus berperang sedemikian jauh untuk mempertahankan pengaruhnya di Yaman menunjukkan sifat hegemonik dari intervensi mereka. Namun kemenangan Ansarallah memperlihatkan bahwa dominasi yang dipaksakan dari luar dapat runtuh ketika kehilangan dukungan politik dari dalam. Karena itu, kemenangan di Bab al-Mandab jauh lebih besar daripada sekadar kemenangan di medan perang: ia adalah kemenangan politik yang mengubah keseimbangan kekuasaan di Yaman sekaligus memaksa kekuatan-kekuatan besar untuk memperhitungkan Ansarallah sebagai realitas politik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *