𝗢𝗹𝗲𝗵 𝗗𝗿. 𝗨𝘀𝘁𝗮𝘇 𝗠𝘂𝗵𝘀𝗶𝗻 𝗟𝗮𝗯𝗶𝗯
Dalam wawancara dengan televisi Al Mayadeen English, Profesor Mohammad Marandi dari Iran menyampaikan ulasannya dengan nada yang justru terasa santai. Tidak tampak kecemasan berlebihan ketika ia berbicara tentang kemungkinan perang, pemilu sela Amerika, atau tekanan terhadap Iran. Baginya, persoalannya jauh lebih sederhana daripada berbagai perhitungan politik yang sering memenuhi pemberitaan Washington. Iran memang memperhatikan pemilu Amerika dan berkepentingan melemahkan posisi Trump. Jika Trump kehilangan DPR atau bahkan Senat, tentu itu akan menambah persoalan bagi pemerintah Amerika. Tetapi Iran tidak sedang menunggu hasil pemilu untuk menentukan sikapnya.
Dalam pandangan Marandi, Iran mempersiapkan diri untuk perang panjang bukan karena takut, melainkan karena negara harus siap menghadapi segala kemungkinan. Perubahan kebijakan ekonomi dan sosial menunjukkan persiapan menuju ekonomi perang. Artinya, Iran tidak berasumsi bahwa konflik akan segera selesai. Tetapi sikap itu juga tidak menunjukkan kepanikan. Iran bersiap, lalu menjalankan kehidupannya. Amerika boleh sibuk menghitung pemilu, menghitung kursi DPR, menghitung Senat, dan menghitung dampaknya terhadap Trump. Iran mempunyai hitungan yang jauh lebih sederhana: siapa pun yang menyerang Iran, mengganggu Iran, atau mengancam kepentingan Iran, akan menghadapi respons Iran.
Karena itu, pemilu sela Amerika tidak terlalu menentukan dalam logika Iran. Trump boleh berharap perang selesai setelah pemilu. Trump boleh mengatakan dirinya tidak peduli terhadap hasil pemilu. Tetapi Iran tidak menggantungkan tindakannya pada apa yang diinginkan Trump. Jika Trump kehilangan DPR, baik. Jika kehilangan Senat juga, lebih baik. Tetapi jika tidak kehilangan keduanya, Iran tetap menjalankan strateginya. Iran tidak menunggu siapa yang menang dalam perebutan kursi di Washington untuk menentukan apakah ia akan mempertahankan dirinya. Logikanya sederhana: agresi dibalas, ancaman dijawab, dan kedaulatan dipertahankan.
Bahkan kemungkinan perang sebelum pemilu tidak membuat perhitungannya menjadi rumit. Netanyahu mungkin mempunyai kepentingan politik sendiri dan mungkin mendorong perang. Trump mungkin lebih suka menunggu sampai setelah pemilu. Tetapi jika perang datang, persoalannya selesai dengan sendirinya. Iran tidak perlu bertanya apakah waktunya menguntungkan Trump atau merugikan Trump. Iran hanya perlu menjawab satu pertanyaan: siapa yang menyerang? Karena jika sebuah negara memilih menyerang Iran, maka Iran akan merespons. Sesederhana itu.
Yang kemudian menjadi persoalan justru bagi negara-negara yang berada di sekitar Amerika Serikat. Yordania, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab dapat menghadapi konsekuensi besar jika perang meluas. Minyak dan gas memang memberikan kekayaan, tetapi tidak otomatis memberikan keamanan ketika bandara, pelabuhan, fasilitas energi, dan jalur perdagangan ikut masuk ke dalam medan konflik. Iran tidak perlu menguasai semua negara tersebut untuk membuat mereka merasakan tekanan perang. Cukup membuat biaya keterlibatan mereka menjadi terlalu mahal. Yaman telah menunjukkan bahwa perang di kawasan tidak selalu bergerak sesuai skenario yang dibuat para penyerangnya.
Itulah yang membuat komentar Marandi terasa begitu tenang. Ia tidak berbicara seolah-olah Iran sedang menunggu belas kasihan Washington, menunggu hasil pemilu, atau menunggu keputusan Trump. Amerika boleh mengganti presiden, mengganti komposisi Kongres, atau mengubah jadwal perang. Iran tetap Iran. Siapa pun yang datang dengan agresi akan mendapatkan jawaban. Tidak ada teori besar yang diperlukan untuk memahami logika itu. Tidak ada drama politik Washington yang harus ditunggu. Ada agresi, ada respons. Ada ancaman, ada perlawanan. Dan siapa pun yang mengganggu negaranya harus menghitung sendiri harga dari tindakannya.
