Ilustrasi analisis geopolitik pertemuan rahasia regional dan dinamika konfrontasi di Timur Tengah.

𝗢𝗹𝗲𝗵 𝗧𝗲𝗻𝗴𝗸𝘂 𝗭𝘂𝗹𝗸𝗶𝗳𝗹𝗶 𝗨𝘀𝗺𝗮𝗻

Kemarin, PM Israel Benjamin Netanyahu berkunjung secara rahasia ke UEA, kunjungan ini sengaja ditutupi oleh media yang kemudian ada satu-dua media yang membocorkan ke publik.

Kunjungan Netanyahu bukan hanya sekadar bertemu pemimpin UEA Mohamed bin Zayed, tapi juga beberapa negara Arab ikut bertemu Netanyahu yang sedang berkunjung ke UAE.

Utusan Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, Maroko, dan Libya faksi Haftar ikut bergabung dalam pertemuan itu. Mereka seperti sowan ke Netanyahu.

Pertemuan rahasia seperti ini sebenarnya sudah sering dilakukan, ini sekali lagi membuktikan bahwa negara-negara Arab sebenarnya bekerja sama dengan Israel baik secara diam-diam atau terang-terangan, untuk meloloskan proyek mereka, yang jelas adalah proyek-proyek pro-Israel.

Di antara hal-hal yang dibahas oleh aliansi Israel di UEA kemarin antara lain

  • Bagaimana menangani Ansarallah, atau yang kerap disebut media sebagai ‘Houthi,’ di Yaman
  • Kesiapan Israel mendukung operasi militer Saudi di Yaman, terutama bantuan intelijen dan keterlibatan langsung lainnya
  • Agenda perang dengan Iran, yang rencananya Trump ingin melakukan perang kembali setelah pemilu sela AS yang akan berlangsung tidak lama lagi
  • Pembahasan tentang upaya normalisasi hubungan Arab Saudi dengan Israel yang akan dilakukan bertahap setelah perang terhadap Yaman
  • Bantuan senjata dan amunisi lainnya kepada pemerintah dalam pengasingan Yaman berbasis di Riyadh dukungan Saudi untuk terus melawan Ansarallah yang saat ini terus mengalami kemajuan di lapangan

Perlu dicatat, bahwa UEA, Bahrain, dan Maroko adalah termasuk negara Arab yang tidak ikut aksi walk out saat Netanyahu berpidato di dalam sidang PBB beberapa hari lalu.

Kerja sama-kerja sama sebagai mitra ini terus dilakukan dengan Israel, tujuan paling penting adalah mengalahkan Ansarallah dan ujungnya adalah resume perang dengan Iran.

Trump sudah memerintahkan militer AS untuk kembali menyerang Iran pasca pemilu sela AS, tapi ini masih tergantung bagaimana hasil pemilu sela nanti.

Rapat-rapat kordinasi negara-negara Arab dengan Israel terus berjalan sampai detik ini, terutama ketika mereka melihat Ansarallah di Yaman saat ini yang berhasil memukul kekuatan aliansi Saudi dengan signifikan.

Ansarallah saat ini menerjunkan ribuan petempur baru ke lapangan, dan mengerahkan sistem pertahanan udara buatan Iran untuk menghalau serangan udara Saudi.

Saudi sendiri mengalami kesulitan saat ini melancarkan serangan udara karena adanya sistem pertahanan udara di Yaman yang siap melawan.

Oleh karena itu, Saudi saat ini meminta AS untuk menekan dunia internasional agar bisa menghalangi masuknya persenjataan Iran ke Yaman.

Saudi menginginkan Ansarallah yang lemah sehingga mudah dihancurkan lewat udara, tapi Iran dengan caranya terus menyuplai sistem pertahanan udara ke Yaman untuk membendung serangan udara Saudi yang didukung oleh intelijen AS dan Israel.

Sikap Iran saat ini sangat jelas, jika AS kembali melanjutkan perang, maka Iran akan memperluas perang menjadi perang regional, dan akan membalas setiap tembakan AS atau Israel yang dilepaskan ke Iran.

Sikap Iran sangat jelas:

  • Jika laut Iran diblokade, maka negara lain juga tidak bisa lewat perairan Iran
  • Jika maskapai penerbangan Iran diembargo, maka maskapai negara Arab dan sekutu AS lainnya juga tidak boleh terbang
  • Jika Iran tidak bisa menjual minyaknya keluar, maka negara lain di kawasan juga tidak akan bisa menjual minyaknya keluar
  • Jika Iran dibom, maka sekutu AS dan Israel juga akan dibom kembali oleh Iran
  • Jika sanksi dijatuhkan kembali terhadap Iran, maka Iran akan melawan sanksi dengan caranya dan tetap menolak tunduk dan menyerah

Semua sikap Iran ini telah disampaikan oleh para petinggi militer IRGC kepada media. Bahkan kepala komite tinggi keamanan nasional Iran Jenderal Mohsen Rezai sudah menyampaikan ini ke media besar seperti Al-Jazeera.

Kolaborasi Netanyahu dan negara-negara Arab terus dilakukan, jangka pendeknya, mereka ingin mengalahkan Ansarallah Yaman, dan jangka panjangnya adalah melanjutkan perang dengan Iran dan meloloskan agenda normalisasi hubungan Israel dan Arab Saudi.

Kolaborasi ini akan terus diupayakan oleh Netanyahu agar ada hasil yang signifikan, minimal selama Donald Trump masih menjabat di Gedung Putih. Walaupun peluang mengalahkan Iran dan menggulingkan pemerintah Iran saat ini masih sangat kecil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *