Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi bersama para perwira tinggi militer Mesir.

Parlemen Mesir mengesahkan pengerahan pasukan militer ke Arab Saudi dalam apa yang digambarkan oleh para pejabat di Kairo sebagai “misi defensif.” Keputusan ini diambil setelah Dewan Pertahanan Nasional menyetujui usulan Presiden Abdel Fattah el-Sisi—yang juga menjabat sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata—untuk memberikan dukungan militer penuh kepada Riyadh.

Anggota Parlemen Mesir, Mostafa Bakry, mengonfirmasi bahwa sidang darurat telah digelar untuk meratifikasi langkah tersebut. Keputusan politik dan militer Kairo ini menyusul penegasan Presiden el-Sisi bahwa Mesir siap mengambil langkah-langkah yang diminta oleh Riyadh untuk membela keamanan dan kedaulatan Arab Saudi. Para pejabat Mesir menggambarkan keamanan Saudi terikat erat dengan keamanan nasional Mesir sendiri.

Pengerahan kekuatan militer Mesir ini berlangsung di tengah meningkatnya eskalasi permusuhan antara Arab Saudi dan pasukan pemerintah revolusioner Yaman yang berbasis di Sana’a saat ini. Langkah ini juga diiringi laporan makin eratnya koordinasi pertahanan bilateral dan multilateral yang melibatkan Arab Saudi, Pakistan, dan Turki. Meski persetujuan resmi telah diketuk, cakupan detail misi serta jumlah personel militer Mesir yang diterjunkan belum dirinci secara publik.

Sementara itu di lapangan, pertempuran antara pasukan Saudi dan Yaman terus memanas. Angkatan Bersenjata Yaman (YAF) mengklaim telah menembak jatuh sebuah helikopter serang AH-6i milik Saudi di dekat Najran menggunakan rudal permukaan-ke-udara buatan dalam negeri.

Eskalasi di Najran ini terjadi menyusul gelombang serangan udara Saudi ke Hodeidah di Yaman barat, yang dibalas dengan serangan rudal dan drone berkepanjangan oleh pasukan Yaman terhadap bandara, instalasi militer, serta infrastruktur energi vital di wilayah Saudi. Perkembangan terbaru ini menambah ketegangan regional di seputar perang berkepanjangan di Yaman, yang telah menyebabkan penderitaan luas bagi warga sipil dan gangguan kemanusiaan.

Keputusan bergegas Kairo dalam mengerahkan pasukan tempurnya demi membela perang Saudi juga menuai sorotan tajam di tengah krisis kawasan. Langkah ini berbanding terbalik dengan sikap pasif Mesir yang memilih tidak melakukan tindakan militer apa pun untuk melindungi warga sipil maupun menghentikan agresi Zionis yang melanda Gaza tepat di perbatasan selatannya sendiri.


𝘀𝘂𝗺𝗯𝗲𝗿: 𝗧𝗠𝗝 𝗡𝗲𝘄𝘀 𝗡𝗲𝘁𝘄𝗼𝗿𝗸

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *