Bayangkan ponsel yang sedang Anda pegang saat ini diretas tanpa Anda mengklik apa pun. Anda sedang membaca berita dan sebuah iklan muncul. Hal itu saja sudah cukup bagi perusahaan spyware Israel untuk masuk ke dalam perangkat Anda.
Citizen Lab dan Confion kini telah membongkar bagaimana perusahaan Israel, DiscoverTech, mengubah iklan online biasa menjadi sistem pengiriman spyware. Para peneliti menganalisis empat miliar catatan periklanan dan menemukan iklan DiscoverTech di lebih dari 120.000 situs web dan 70.000 aplikasi dalam waktu empat bulan. Menggunakan platform bernama Controllium, ponsel yang menjadi target dapat terinfeksi hanya dengan munculnya iklan tersebut di layar Anda tanpa perlu diklik.
Peranti pengintai (spyware) tersebut mencakup teknologi yang dikembangkan oleh Kandaroo, sebuah perusahaan Israel yang bahkan telah dimasukkan ke dalam daftar hitam oleh Washington pada tahun 2021. Para peneliti menghubungkan operasi ini dengan serangan yang menargetkan setidaknya 45 perangkat milik jurnalis Al Jazeera pada tahun 2024 dan 2025, namun DiscoverTech tetap menjadi penyedia iklan yang disetujui Google hingga bulan ini. Khususnya bagi para aktivis dan jurnalis yang mendokumentasikan kejahatan Israel di kawasan maupun di luar negeri, ponsel yang berhasil diretas dapat menimbulkan banyak celah kerentanan.
Hal ini dapat membocorkan sumber-sumber rahasia, percakapan pribadi, dan seluruh jaringan kontak, serta tentu saja, informasi sensitif dan pribadi Anda sendiri. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mengganggu, mengintimidasi, atau memeras orang-orang di seluruh dunia, atau bahkan lebih buruk lagi—khususnya di kawasan—dijadikan target pembunuhan. Memata-matai orang-orang di seluruh dunia melalui perangkat mereka telah menjadi taktik yang kian masif disalahgunakan oleh entitas Zionis tanpa menerima konsekuensi hukum maupun politik apa pun, dengan cerita baru yang bermunculan setiap beberapa hari.
Dalam temuan yang dipublikasikan awal bulan ini, jaksa penuntut Polandia mengungkapkan bahwa dinas keamanan negara mereka tidak pernah memiliki kendali penuh atas Pegasus, spyware Israel yang dibeli oleh pemerintahan Polandia sebelumnya. Produsen Israel tersebut mempertahankan kendali atas server infeksi sementara data pengintaian keluar dari Polandia. Jadi, bahkan pemerintah sekutu yang membeli teknologi ini pun tidak dapat melindungi warganya sendiri dari pengintaian Israel.
Di Serbia minggu lalu, para peneliti juga melaporkan bahwa rektor universitas Vladan Djokic mengalami peretasan spyware Pegasus pada ponselnya di tengah aksi protes yang dipimpin mahasiswa. Penyelidikan yang sama mengidentifikasi sejumlah aktivis mahasiswa yang turut menjadi sasaran peranti pengintai tersebut. Kasus-kasus ini menunjukkan bagaimana teknologi pengawasan Israel mencapai sasaran yang sangat luas: jurnalis, aktivis, lawan politik, dan bahkan sekutu mereka sendiri.
Tanpa adanya upaya internasional sedikit pun untuk menghentikannya, Israel merupakan ancaman terbesar bagi keamanan pribadi Anda, dan pemerintah Anda tidak akan melakukan apa pun untuk melindungi Anda.
𝘀𝘂𝗺𝗯𝗲𝗿: 𝗩𝗣𝗢𝗟
