Ilustrasi peta dan operasi perlawanan Badai Al-Aqsa di Gaza.

Beberapa minggu yang lalu Palestina memperingati perlawanan 7 Oktober yaitu Badai Al-Aqsa, banyak pertanyaan yang masih menjadi perdebatan. Salah satunya adalah klaim bahwa pihak perlawananlah yang harus disalahkan atas genosida. Pada 7 Oktober 2023, setelah bertahun-tahun berada di bawah blokade dan Hamas memiliki intelijen kuat yang mengungkap bahwa Israel berada di ambang serangan besar-besaran untuk melenyapkan perlawanan serta para pemimpinnya, perlawanan Palestina melancarkan Operasi Badai Al-Aqsa dalam upaya untuk memecah blokade dan membebaskan para tahanan Palestina.

Pasukan Israel (IDF) segera memulai perang genosida. Pada 8 Oktober, perlawanan dari Lebanon memasuki pertempuran untuk mendukung rakyat Palestina. Maju cepat tiga tahun kemudian, perlawanan di seluruh kawasan telah membayar dan masih membayar harga yang sangat mahal.

Namun, apakah harga mahal ini hanya terjadi karena Badai Al-Aqsa, ataukah perang semacam itu akan tetap terjadi terlepas dari ada atau tidaknya peristiwa tersebut? Argumen yang menyalahkan perlawanan bersandar pada pemikiran bahwa Israel membutuhkan dalih untuk melakukan genosida dan pencaplokan tanah, dan bahwa perlawanan telah memberi mereka dalih tersebut. Argumen ini mengabaikan fakta bahwa Israel tidak pernah membutuhkan dalih. Sebagai entitas kolonial pemukim (settler colonialism), keberadaan mereka sangat bergantung pada ekspansi konstan dan penghancuran kehidupan penduduk asli yakni bangsa Palestina.

Israel selalu mengada-adakan dalih untuk menyerang, baik Palestina melawan maupun tidak. Perlawanan sangat menyadari harga yang harus mereka bayar, tetapi mereka tahu bahwa biaya dari sebuah penyerahan diri akan jauh lebih buruk. AS dan Israel sendiri mengakui bahwa kejahatan perang yang telah kita saksikan sejak tahun 2023 telah mereka rencanakan jauh-jauh hari.

Serangan pager pada September 2024 di Lebanon telah dipersiapkan selama lebih dari satu dekade. Pembunuhan para pemimpin perlawanan di Lebanon dan Palestina telah direncanakan melalui pengawasan selama puluhan tahun. Pergantian rezim di Suriah atau lengsernya Bashar al-Assad adalah hasil dari perang hibrida selama puluhan tahun.

Seorang juru bicara IDF menyebut perang 12 hari terhadap Iran sebagai operasi yang telah dipersiapkan Israel selama bertahun-tahun. Jenderal AS Dan Cain mengatakan bahwa perwira Pentagon pertama kali diberi arahan mengenai fasilitas energi nuklir Fordow pada tahun 2009, dan menghabiskan waktu lebih dari 15 tahun untuk menyiapkan bom yang menghantamnya pada Juni 2025. Setelah itu, muncullah kerusuhan anti-pemerintah.

Sejak revolusi Islam pada tahun 1979 dan penggulingan rezim Pahlavi, AS dan Israel telah bertekad untuk menggulingkan pemerintah Iran. Dengan AS yang secara terbuka mengakui sanksi-sanksi yang diberikannya selama puluhan tahun, menciptakan krisis ekonomi, serta Mossad yang mendeklarasikan kepada para perusuh demo di Iran, “Kami bersama kalian di lapangan.” Perang Ramadhan melengkapi lingkaran tersebut.

John Kerry mengatakan bahwa Netanyahu menekan setiap pemerintahan AS belakangan ini untuk menyerang Iran, dan hanya Trump yang menyetujuinya. Jadi, katakan pada saya, apakah semua ini benar-benar sekadar reaksi terhadap Badai Al-Aqsa?


π˜€π˜‚π—Ίπ—―π—²π—Ώ: π—©π—£π—’π—Ÿ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *