Profesor Mohammad Marandi menyatakan bahwa Amerika Serikat harus memenuhi komitmennya di bawah MoU sebelum Iran menyetujui normalisasi jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
Marandi berpendapat bahwa Presiden Donald Trump telah menandatangani MoU tersebut namun gagal mematuhi ketentuan-ketentuannya, sembari menegaskan bahwa Iran “tidak akan membiarkannya lolos dari ketidakpatuhan tersebut.”
Marandi juga menyampaikan bahwa pemerintah dan media Barat dipastikan akan menuntut kepatuhan Iran jika posisinya dibalik, sementara kewajiban Washington sendiri justru luput dari pengawasan ketat.
Selain itu, ia menolak adanya “kesamaan moral” antara Iran dan Amerika Serikat, seraya menuduh AS melakukan agresi selama berdekade-dekade serta menyokong “apartheid, pembersihan etnis, dan genosida oleh Israel di Palestina selama berdekade-dekade.”
Transkrip video:
Pertama-tama, dengan segala hormat kepada para tamu Anda di Amerika Serikat, saya harus menegaskan satu hal. Sama sekali tidak ada kesetaraan moral antara Iran dan Amerika Serikat. Amerika Serikat adalah rezim jahat (sinister regime) yang telah menyokong sistem apartheid, pembersihan etnis, dan genosida Israel di Palestina selama berdekade-dekade, serta telah mendukung penyiksaan dan pembantaian warga Palestina bahkan sebelum saya lahir, menjustifikasinya, dan membiarkan rezim Israel menjajah Tepi Barat serta membantai rakyat di Gaza secara berkala.
Mereka juga telah melancarkan perang kotor (pergantian rezim) di Suriah dengan menyokong ISIS dan al-Qaeda. Mereka menginvasi Irak dengan dalih palsu. Mereka yang sama yang dahulu memberikan senjata kimia kepada Saddam Hussein (perang Iran-Irak), justru menghancurkan negara tersebut atas nama senjata kimia itu. Saya bisa melanjutkan daftar ini selama berjam-jam.
Lalu, sangat mengada-ada ketika Amerika mengklaim bahwa Iran membunuh rakyatnya sendiri, padahal dalam kenyataannya kita semua tahu bahwa itu adalah pemberontakan bersenjata yang disokong oleh Amerika Serikat dan rezim Israel. Dan saya kira pemakaman Ayatullah Khamenei serta tokoh-tokoh lainnya di Iran selama beberapa bulan terakhir—yang melibatkan puluhan juta orang—untungnya diliput oleh banyak jurnalis independen Barat yang berada di lokasi, karena tentu saja bagi sebagian orang di Barat, hanya orang Barat yang dianggap kredibel.
Para jurnalis itu berada di sana untuk menunjukkannya, dan kita semua menyaksikannya. Iran adalah masyarakat yang berpendidikan jauh lebih tinggi daripada Amerika. Jika kita mengklaim bahwa rakyat Iran mendukung apa yang disebut sebagai ‘rezim yang membunuh rakyatnya sendiri’ lalu turun ke jalan dalam jumlah semassif itu, saya pikir klaim tersebut sama sekali tidak akurat. Namun terlepas dari itu, poin utamanya adalah bahwa Amerika Serikat telah secara sistematis melakukan agresi terhadap rakyat Iran sejak awal revolusi, bahkan sebelum revolusi, yaitu sejak tahun 1953.
Jadi tidak ada kesetaraan moral. Tak peduli seberapa keras kita mencoba membuat pemerintah Amerika terlihat agak layak, hal itu tidak akan berhasil. Adapun mengenai alasan mengapa kita belum mencapai kesepakatan, itu sekali lagi disebabkan oleh Amerika Serikat.
Trump telah menandatangani kesepakatan, sebuah MOU, dan Iran tidak akan membiarkannya lolos dari ketidakpatuhan tersebut. Jika dia menginginkan normalisasi keadaan Selat Hormuz, syarat paling utama dan mendasar adalah dia harus mematuhi kesepakatan tersebut. Tentu saja, mematuhi kesepakatan bukanlah sesuatu yang dituntut oleh media Barat maupun elit Barat dari Trump—meskipun tandatangannya tertera di atasnya—karena adanya doktrin American exceptionalism (keistimewaan Amerika).
Sebab di Barat, mereka menganggap diri mereka berada di atas hukum. Kalau Iran menandatangani sesuatu, sudah tentu menurut standar atau nilai-nilai Barat—sebagaimana mereka menyebutnya—Iran harus mematuhinya. Namun ketika berbicara tentang kewajiban mereka sendiri, Barat tidak pernah merasa harus menjalankan kewajiban tersebut karena mereka menganggap diri mereka unggul.
Mereka merasa unggul secara moral dan peradaban. Sebagai sebuah peradaban, mereka menganggap diri mereka lebih tinggi.
Oleh karena itu, ketika Trump sekadar menandatangani selembar kertas dan melemparkannya keluar jendela—benar-benar hanya dalam hitungan jam—dengan tidak mematuhi Pasal 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan seterusnya dalam MOU tersebut hampir sejak awal, tidak ada seorang pun di Barat yang terkejut, dan tidak ada seorang pun di Barat yang menuntutnya untuk mematuhi kewajibannya. Namun sebelum dia melakukannya, kita tidak akan melihat adanya normalisasi di kawasan, karena kita telah memiliki pengalaman yang sangat besar dengan Amerika Serikat—khususnya dengan Trump—bahwa bernegosiasi dengannya dan membuat kesepakatan dengannya sama sekali tidak ada artinya.
