Saat memperingati dua tahun Operasi Janji Sejati 2 (Operation True Promise 2) pada awal Oktober, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa operasi tersebut “bukan sekadar hukuman keras atas serangan dan kejahatan musuh,” melainkan sebuah pesan bahwa “era ancaman tanpa konsekuensi telah berakhir.”
IRGC mengingatkan bahwa operasi tersebut diluncurkan sebagai tanggapan atas syahidnya Ismail Haniyeh, Sayyid Hassan Nasrallah, dan Abbas Nilforoushan, serta mengklaim bahwa aksi tersebut membongkar “kejahatan dan kehancuran memalukan dari prestise semu entitas Zionis.”
IRGC menggambarkan Operasi Janji Sejati 2 sebagai “operasi strategis yang mewujudkan rasionalitas militer dan menyediakan cetak biru untuk memulihkan keseimbangan deterensi.”
Lebih lanjut dinyatakan bahwa kemampuan militer IRGC, berdampingan dengan Angkatan Bersenjata Iran, selama perang AS-Israel pada akhirnya memaksa Amerika Serikat untuk “memohon gencatan senjata.”
Sebagai penutup, IRGC memberi peringatan: “Jari kami tetap berada di atas pelatuk, dan tanggapan kami terhadap setiap ancaman, agresi, atau potensi kesalahan kalkulasi akan bersifat serta-merta dan jauh lebih mematikan daripada Operasi Janji Sejati 2.”
๐๐๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ: ๐๐น ๐ ๐ฎ๐๐ฎ๐ฑ๐ฒ๐ฒ๐ป ๐๐ป๐ด๐น๐ถ๐๐ต
