Argumen yang menyatakan bahwa orang miskin tidak boleh memiliki anak adalah sebuah konstruksi ideologis yang tampak rasional di permukaan, namun ketika dibedah secara lebih mendalam, ia justru memperlihatkan kekosongan logika, kekejaman moral, dan ketidaktahuan historis yang menyedihkan. Pandangan ini mengandaikan bahwa kemiskinan adalah semata hasil dari pilihan atau kegagalan individu, bukan buah dari struktur sosial-ekonomi yang timpang dan melanggengkan ketidaksetaraan antar kelas. Dengan demikian, narasi ini secara tidak langsung menempatkan beban sistemik pada pundak individu yang justru menjadi korban dari sistem yang timpang tersebut.
Di balik argumen tersebut terdapat asumsi bahwa hak untuk bereproduksi hanyalah milik mereka yang memiliki modal, sementara kelas bawah sebaiknya patuh dan steril demi menghindari “beban baru” bagi negara atau masyarakat. Ini adalah bentuk eugenika sosial terselubung yang telah lama dikritik dalam wacana etika kontemporer. Mengaitkan kelayakan bereproduksi dengan status ekonomi adalah mengabaikan hak asasi manusia paling mendasar: hak untuk mencintai, membangun keluarga, dan meneruskan kehidupan. Argumen ini dengan terang-terangan menukar kemanusiaan dengan neraca ekonomi, seolah-olah nilai seseorang dapat dihitung berdasarkan slip gaji atau saldo rekening bank.
Lebih jauh lagi, narasi ini mengingkari realitas bahwa banyak anak yang lahir dari keluarga miskin justru tumbuh menjadi individu-individu luar biasa yang berkontribusi besar bagi masyarakat. Keterbatasan ekonomi tidak dengan sendirinya merampas potensi, nilai, atau kualitas seseorang. Justru, dalam banyak kasus, keterbatasan melahirkan solidaritas, ketahanan mental, dan rasa empati yang tidak ditemukan di lingkungan yang serba nyaman. Anak-anak dari keluarga miskin seringkali belajar arti perjuangan sejak dini dan mengembangkan karakter tangguh yang tidak bisa diajarkan oleh uang.
Sebaliknya, fakta bahwa seseorang berasal dari keluarga kaya tidak menjamin keberhasilan atau kebahagiaan dalam hidupnya. Banyak anak dari keluarga berada yang tumbuh dalam kekosongan emosional, ketidakhadiran figur orang tua, dan tekanan mental akibat budaya kompetisi dan pencapaian materialistis. Mereka mungkin memiliki akses terhadap fasilitas dan pendidikan, tetapi tidak memiliki kedekatan emosional, nilai moral, atau kompas etika yang sehat. Oleh karena itu, mengukur kelayakan menjadi orang tua berdasarkan kondisi ekonomi adalah reduksi yang tidak adil terhadap kompleksitas pengasuhan dan kemanusiaan.
Lebih buruk lagi, argumen semacam ini justru bisa digunakan untuk mengalihkan perhatian dari peran negara dan elite dalam menciptakan ketimpangan struktural. Ketika masyarakat mulai percaya bahwa kemiskinan adalah masalah pribadi yang harus dikendalikan melalui pembatasan kelahiran, maka perhatian terhadap akar permasalahan seperti ketidakadilan distribusi sumber daya, eksploitasi tenaga kerja, dan korupsi kebijakan menjadi kabur. Ini adalah cara yang sangat efektif untuk mempertahankan status quo: salahkan rakyat miskin karena punya anak, bukan sistem yang membuat mereka tetap miskin.
Dalam kerangka hukum internasional, hak untuk membentuk keluarga dijamin dalam berbagai piagam HAM, termasuk Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dan Konvensi Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. Hak ini tidak dibatasi oleh status ekonomi, ras, agama, atau kelas sosial. Oleh karena itu, setiap upaya untuk mengatur reproduksi seseorang berdasarkan kondisi ekonomi adalah bentuk pelanggaran hak yang serius. Kebebasan bereproduksi adalah bagian dari otonomi tubuh dan martabat manusia, bukan hak istimewa yang hanya dimiliki oleh kalangan elite.
Kita juga tidak bisa menutup mata terhadap fakta bahwa banyak pasangan miskin yang memiliki anak bukan karena mereka tidak berpikir rasional, melainkan karena mereka tidak memiliki akses terhadap informasi, layanan kesehatan reproduksi, atau kontrol atas keputusan tubuh mereka sendiri. Dalam masyarakat patriarkal, perempuan miskin seringkali tidak memiliki kendali atas kontrasepsi, dan keputusan untuk punya anak sering kali dipaksakan oleh pasangan, keluarga, atau tekanan sosial. Dalam konteks ini, menyalahkan mereka karena punya anak adalah bentuk kekejaman yang gagal melihat struktur dominasi di baliknya.
Sangat penting untuk memahami bahwa keputusan untuk memiliki anak tidak semata ditentukan oleh hitung-hitungan rasional ekonomi, tapi juga oleh nilai-nilai budaya, harapan, makna eksistensial, bahkan spiritualitas. Bagi sebagian masyarakat, anak bukan hanya simbol keberlanjutan garis keturunan, tetapi juga bentuk harapan akan masa depan yang lebih baik. Larangan kepada orang miskin untuk memiliki anak bukan hanya merampas hak biologis mereka, tetapi juga hak eksistensial untuk bermimpi dan mempercayai masa depan.
Jika kita menganggap memiliki anak dalam kondisi miskin sebagai kesalahan, maka kita sedang memperkuat logika bahwa hanya mereka yang “berhasil” secara ekonomi yang layak untuk menjadi manusia utuh. Ini bukan hanya bentuk diskriminasi, tetapi juga pengingkaran terhadap nilai kemanusiaan universal. Kemanusiaan tidak bisa diukur dari angka kekayaan. Kehormatan seseorang, kemampuannya mencintai, atau haknya untuk hidup secara bermartabat tidak boleh tunduk pada kalkulasi ekonomi.
Yang lebih menyedihkan, narasi ini kerap diproduksi dan disebarluaskan oleh kelas menengah dan elite yang tidak ingin diganggu oleh keberadaan kelas bawah. Ada ketakutan yang tidak diucapkan bahwa semakin banyak orang miskin, semakin besar potensi instabilitas sosial, semakin banyak kompetisi dalam sumber daya terbatas. Maka, dengan dalih moral atau medis, reproduksi kaum miskin dibatasi demi kenyamanan dan keberlanjutan dominasi kelompok atas. Ini bukan lagi masalah.

[…] Artikel ini telah dipindahkan ke website http://www.resistenika.com […]