Ilustrasi krisis politik dan ekonomi di bawah kepemimpinan rezim Jolani di Suriah.

𝗢𝗹𝗲𝗵 𝗗𝗿. 𝗨𝘀𝘁𝗮𝘇 𝗠𝘂𝗵𝘀𝗶𝗻 𝗟𝗮𝗯𝗶𝗯

Jolani merebut kekuasaan di Suriah melalui perjuangan bersenjata yang dibungkus retorika agama. Kini, setelah berhasil menduduki Damaskus, arah politiknya memperlihatkan ironi yang sulit diabaikan: pemimpin yang dahulu tampil sebagai jihadis kini merapat ke Washington.

Jolani berkunjung ke Gedung Putih dan bertemu Donald Trump. Sambutan akrab Trump menjadi gambaran perubahan hubungan politik yang mencolok. Pada saat yang sama, pemerintahannya membuka komunikasi langsung dengan Israel. Pihak yang dahulu sebelum “revolusi” ditempatkan sebagai musuh kini menjadi mitra perundingan. Lantas, untuk apa pengorbanan dan pertumpahan darah yang dahulu dikobarkan atas nama agama?

Sementara diplomasi berlangsung, persoalan ekonomi Suriah belum selesai. Distribusi minyak semrawut, kehidupan rakyat tetap terhimpit, dan kemarahan publik mulai terdengar. Di tengah keadaan itu, beredar laporan tentang ratusan truk tanker minyak yang menuju Israel. Jika pengiriman tersebut benar, rakyat berhak mengetahui asal minyak, pemiliknya, tujuan pengiriman, dan siapa yang memberikan persetujuan. Mengapa minyak mengalir ke luar ketika rakyat sendiri menghadapi kesulitan?

Suriah juga belum menemukan ketenangan. Kekerasan sektarian, benturan antarkekuatan bersenjata, ketegangan dengan kelompok Kurdi, serta persoalan hubungan dengan Israel terus membayangi masa depan negeri itu. Merebut Damaskus ternyata tidak sama dengan menyatukan Suriah. Kemenangan politik belum menjamin keamanan, kesejahteraan, ataupun persatuan rakyat.

Jolani dahulu tampil sebagai pemimpin jihadis, tetapi kini merangkul Amerika dan berkomunikasi dengan Israel. Perubahan itu membuat rakyat dan para pendukungnya berhak mempertanyakan arah perjuangan yang pernah mereka ikuti. Ketika agama dijadikan kendaraan menuju kekuasaan, rakyatlah yang akhirnya harus menanggung akibatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *