𝗢𝗹𝗲𝗵 𝗗𝗿. 𝗨𝘀𝘁𝗮𝘇 𝗠𝘂𝗵𝘀𝗶𝗻 𝗟𝗮𝗯𝗶𝗯
Perang di Yaman kini memperlihatkan paradoks yang sangat telanjang: persenjataan yang dibangun dengan kekayaan minyak dan dibeli dengan anggaran militer raksasa justru berbalik menjadi keuntungan bagi pihak yang selama bertahun-tahun hendak ditundukkan. Senjata-senjata Saudi yang jatuh ke tangan angkatan bersenjata Yaman diperkirakan bernilai sekitar US$10 miliar. Nilai itu menggambarkan bagaimana investasi persenjataan yang seharusnya memperkuat dominasi Saudi dapat berubah menjadi sumber daya bagi lawannya ketika medan perang berbalik.
Dalam perkembangan baru-baru ini, pasukan Yaman bergerak cepat di pesisir barat Yaman, merebut Mokha, sejumlah posisi strategis, serta memperluas kendali menuju kawasan Bab al-Mandab. Mokha memiliki arti penting karena letaknya di jalur strategis Laut Merah dan hanya sekitar 50 kilometer dari Bab al-Mandab. Sejumlah laporan juga menyebut penguasaan pulau-pulau strategis di kawasan tersebut.
Yang membuat perkembangan ini semakin penting adalah skala keruntuhan pasukan yang didukung Saudi. Peralatan yang ditinggalkan atau direbut bukan hanya senjata ringan, tetapi mencakup berbagai kendaraan lapis baja, artileri, kendaraan taktis, sistem antirudal dan persenjataan antiranjau yang selama ini menjadi bagian dari kekuatan tempur koalisi. Dengan demikian, setiap pangkalan yang jatuh bukan sekadar kehilangan sebidang wilayah. Ia berarti hilangnya gudang senjata, kendaraan, amunisi, sistem komunikasi, fasilitas logistik, dan seluruh infrastruktur militer yang dibangun dengan biaya sangat besar.
Lebih ironis lagi, Saudi selama bertahun-tahun mengandalkan superioritas teknologi dan kekuatan udara untuk mempertahankan pengaruhnya di Yaman. Namun perang tidak ditentukan hanya oleh harga senjata. Ketika pasukan kehilangan posisi, logistik terputus dan garis pertahanan runtuh, senjata paling mahal sekalipun dapat berubah menjadi barang rampasan. Bahkan laporan terbaru menunjukkan Saudi kembali menghadapi serangan langsung pasukan sarung.
