๐ข๐น๐ฒ๐ต ๐๐ฟ. ๐จ๐๐๐ฎ๐ ๐ ๐๐ต๐๐ถ๐ป ๐๐ฎ๐ฏ๐ถ๐ฏ
Yaman sering digambarkan sebagai negeri miskin, tertinggal, tandus, kekurangan fasilitas, dan jauh dari gemerlap kehidupan modern. Di sana mungkin tidak banyak ditemukan mal-mal raksasa, mobil mewah, hotel megah, butik kelas dunia, atau gaya hidup yang menjadikan penampilan sebagai ukuran keberhasilan. Namun, kemiskinan Yaman tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang konflik, intervensi, gangguan, dan perebutan kepentingan. Negeri ini tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk membangun dirinya dengan tenang. Setiap kali hendak bangkit, ia kembali diobok-obok; setiap kali hendak mengelola kekayaannya, kepentingan asing dan domestik datang menguasainya.
Yaman bukan negeri tanpa sejarah dan bukan pula negeri tanpa sumber daya. Ia memiliki peradaban tua serta sejarah panjang yang jauh mendahului berdirinya negara modern Saudi Arabia. Saudi Arabia sendiri baru berdiri pada 1932, setelah penyatuan Najd dan Hijaz, melalui proses politik dan militer yang berlangsung dalam hubungan erat dengan kekuatan kolonial Inggris. Dalam konflik perbatasan 1934, Saudi menguasai wilayah Asir, Jizan, dan Najranโwilayah yang secara historis diklaim sebagai bagian dari Yaman Raya. Sejak saat itu, sebagian wilayah dan kekayaan yang semestinya menjadi bagian dari ruang hidup Yaman berada di bawah kekuasaan pihak lain.
Karena itu, kemiskinan Yaman tidak boleh dibaca semata-mata sebagai tanda bahwa negeri itu tidak memiliki kemampuan atau kekayaan. Sebuah negara dapat menjadi miskin karena sumber dayanya tidak sempat dikelola, karena kekayaannya dirampas atau dikuasai pihak lain, atau karena pembangunan terus-menerus dihancurkan oleh perang dan intervensi. Yaman tidak hanya menghadapi persoalan kemiskinan, tetapi juga persoalan perampasan kesempatan untuk membangun. Sementara itu, negara yang tampak kaya belum tentu sepenuhnya merdeka. Gedung pencakar langit, jalan mulus, bandara megah, dan mobil mahal memang menunjukkan kemampuan material, tetapi tidak otomatis menjawab pertanyaan yang lebih penting: siapa yang menguasai sumber daya dan siapa yang menentukan arah negara?
Yaman memang terluka, miskin, dan tertinggal, tetapi kemiskinan material tidak otomatis berarti kemiskinan martabat. Negeri yang tidak memiliki banyak mal tetap dapat memiliki keberanian. Negeri yang tidak dipenuhi mobil mewah tetap dapat memiliki harga diri. Negeri yang tidak memiliki gedung pencakar langit tetap dapat menolak pihak yang ingin menentukan nasibnya.
Terlepas dari itu semua, kekayaan terbesar sebuah bangsa bukanlah minyak, emas, gedung megah, atau mobil mewah, melainkan kemampuan untuk mengelola kekayaannya sendiri, membangun tanpa terus-menerus diganggu, dan mempertahankan kemerdekaan serta kedaulatannya. Di situlah Yaman menunjukkan sesuatu yang tidak mudah dirampas: harga diri.
