Peta wilayah Suriah dan Yaman terkait laporan pengerahan milisi Julani ke Yaman.

Oleh Kevork Almassian

Transkrip video:

Teman-teman sekalian, Foreign Policy menerbitkan sebuah artikel yang menyebutkan bahwa Abu Mohammad al-Jolani tampaknya sedang mempertimbangkan intervensi luar negeri, kali ini sejauh lebih dari 1.000 mil dari tanah airnya. Dengan persetujuan AS, Jolani mungkin bersedia menerima permintaan Arab Saudi dan mengerahkan hingga 20.000 prajurit, termasuk pasukan untuk operasi penyerangan. Washington dilaporkan telah menyetujui rencana tersebut.

Menurut Foreign Policy, sekitar 1.500 petempur Suriah bersama para operator drone telah tiba di Arab Saudi, dan mereka dikirim ke Aden. Milisi Jolani yang terpecah dan minim peralatan ini kecil kemungkinan dapat mengubah jalannya perang di Yaman. Meski demikian, keterlibatannya dapat memicu aksi balasan dari Iran dan sekutu kerregionalnya terhadap Damaskus—merusak janji rezim untuk tetap menjaga Suriah dari konflik luar dan mengancam pemulihan ekonomi negara tersebut.

Sementara Foreign Policy menyimpulkan bahwa ironinya adalah negara-negara yang berinvestasi di Suriah kini justru mendorongnya ke dalam perang yang dapat membahayakan stabilitasnya, ironi yang sebenarnya adalah mempercayai bahwa pemerintah-pemerintah yang telah membawa perang [pergantian rezim] ke Suriah, merusak ekonomi dan tatanan sosialnya; pemerintah-pemerintah yang menghabiskan puluhan miliar dolar untuk mendanai dan melatih milisi takfiri multinasional; pemerintah-pemerintah yang menjatuhkan sanksi teramat berat kepada rakyat Suriah hingga mendorong 90% dari mereka ke bawah garis kemiskinan adalah pemerintah-pemerintah yang sama selama ini—haruskah kita percaya pada mereka sebagai pihak yang peduli pada kepentingan terbaik Suriah dan rakyatnya? Rakyat Suriah telah dijadikan umpan meriam dalam konflik geopolitik yang brutal. Mereka diubah menjadi bidak dan perpanjangan tangan (proxies), dan kini mereka ingin menggunakannya lagi untuk membakar perang luar negeri yang baru demi kepentingan Israel dan AS.

Dan akhirnya, ironi yang sesungguhnya adalah ketika pasukan pendudukan Israel berada di perbatasan administratif Damaskus, sementara Jolani justru mempertimbangkan untuk mengirim pasukan ke Yaman ketimbang mengusir pendudukan asing di tanah Suriah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *