Sosok Wakil Presiden AS JD Vance dengan bendera Amerika Serikat dan Iran yang mengisyaratkan ketegangan geopolitik.

Oleh Dr. Ustaz Muhsin Labib

Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, mengeluh. Menurutnya, “Orang-orang Iran adalah orang-orang yang luar biasa sulit. Mereka memiliki sistem yang terpecah. Di dalam sistem itu ada pihak yang ingin perang segera berakhir, tetapi ada juga kelompok radikal yang ingin perang terus berlanjut. Karena itu, mencapai kesepakatan dengan Iran akan menjadi urusan yang ruwet.”

Itu bukan analisis. Itu adalah pengakuan kalah yang dibungkus sebagai keluhan geopolitik. Butuh delapan dekade permusuhan, satu kudeta, satu perang delapan tahun yang disponsori dari luar, dan berlapis-lapis sanksi untuk sampai pada kesimpulan sesederhana itu: ada bangsa yang tidak mudah ditundukkan. Washington baru sadar sekarang — seolah kesulitan itu baru muncul minggu lalu, bukan hasil kerja keras Amerika sendiri selama tiga generasi.

Tentu saja sulit. Iran memang sulit — untuk ditundukkan. Ada bangsa-bangsa yang cukup diberi kapal induk dan pidato ancaman untuk berbalik arah. Iran menjadikan itu semua sarapan pagi sejak 1979. Apa yang di Washington disebut “tekanan maksimum” telah lama, di Teheran, turun pangkat menjadi cuaca harian: sesuatu yang diperiksa sebelum keluar rumah, bukan sesuatu yang mengubah rencana.

Yang paling menggelikan bukan sanksinya, melainkan kegigihan optimismenya. Setiap presiden Amerika naik podium dengan keyakinan yang sama persis dengan pendahulunya: kali ini bangsa itu akan luluh. Setiap empat atau delapan tahun, strategi diganti, arsitek kebijakan diganti, bahkan perang diproduksi ulang dengan kemasan baru — dan setiap kali hasil akhirnya identik. Yang berubah hanya nama yang menandatangani perintah eksekutif. Iran tetap di titik koordinat yang sama, memandangi rombongan pejabat baru dengan ekspresi yang sudah dihafal.

Vance menuding keragaman pandangan di dalam sistem politik Iran sebagai sumber kerumitan, seolah perbedaan pendapat adalah bukti kerapuhan yang tinggal dipicu. Ironinya, Washington sendiri hidup dari pertengkaran dua partai yang nyaris tidak sepakat soal anggaran, apalagi kebijakan luar negeri. Bedanya, di Iran, perbedaan pendapat tidak pernah menyentuh satu titik konsensus: bahwa tunduk kepada tekanan asing bukan pilihan yang tersedia di menu.

Yang sebenarnya sulit dipahami Amerika bukan Iran, melainkan gagasan sederhana bahwa tidak semua bangsa punya harga jual. Sebagian negara menukar martabat dengan kenyamanan begitu tawaran cukup menggiurkan. Sebagian lain memilih menanggung derita bertahun-tahun demi tidak menandatangani apa pun di bawah todongan. Washington, yang terbiasa berurusan dengan jenis pertama, kebingungan menghadapi jenis kedua — lalu menyebutnya “ruwet”, seakan itu cacat pada pihak lawan, bukan pada peta yang mereka pegang.

Amerika punya rekam jejak menjatuhkan pemerintah, menginvasi negara, dan memaksa rezim berganti haluan dalam semalam. Rekam jejak itu melahirkan satu ilusi mahal: bahwa setiap negara memiliki tombol “menyerah” yang tinggal ditekan pada waktu yang tepat, dengan tekanan yang tepat, oleh orang yang tepat. Iran tampaknya lupa memasang tombol itu — atau, lebih tepat, sengaja tidak pernah memesannya.

Maka ketika Wakil Presiden Amerika mengakui bahwa bangsa ini “luar biasa sulit”, pengakuan itu bukan diagnosis tentang Teheran. Itu laporan kegagalan tentang Washington sendiri — dibungkus sebagai keluhan, isinya pengakuan bahwa alat yang selama ini bekerja di tempat lain berkarat begitu dicoba pada bangsa yang sudah menghitung setiap kemungkinan tekanan jauh sebelum pertanyaan diajukan.

Iran bukan bangsa yang asing dengan kesulitan. Iran adalah bangsa yang disusun ulang oleh kesulitan, lapis demi lapis, sampai tekanan berhenti menjadi ancaman dan berubah menjadi bahan baku. Bangsa semacam itu tidak ditaklukkan dengan sanksi tambahan atau pidato yang lebih keras. Ia hanya dicatat sejarah — dan Amerika, sayangnya, masih menulis di halaman yang sama dengan tinta yang sudah lama kering.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *