Oleh Dr. Ustaz Muhsin Labib
Erdoğan telah lama menjadi bintang sandiwara kemarahan di panggung dunia Islam. Pidatonya lantang, nadanya garang, ekspresinya seolah penuh duka dan kemarahan bagi Palestina. Nama dan gambarnya dijunjung kaum Muslim sebagai simbol perlawanan. Sayangnya, simbol hanyalah topeng; di baliknya, sikap nyata kerap bertolak belakang. Kata-kata Erdoğan memaki Israel, tetapi kebijakan negaranya merangkul Tel Aviv erat-erat.
Turki tidak pernah memutus hubungan dengan Israel. Kedubes tetap terbuka, para pejabatnya tetap lewat-lalang, dagang berjalan lancar—miliaran dolar mengalir antara Istanbul dan Tel Aviv, bahkan ketika bom menghujani Gaza dan tubuh anak-anak Palestina tergeletak di reruntuhan. Erdoğan tampil di televisi memainkan peran pahlawan, namun pundi-pundi bangsa terus diisi dengan laba hasil perdagangan dengan negara yang dia maki.
Wisatawan Israel tetap ramai ke Turki. Uang mereka disambut tangan terbuka, hotel dan resor berlomba-lomba melayani sebaik mungkin. Sementara air mata politik Erdoğan untuk Gaza mengucur deras, ekonomi Turki tetap mengalir hangat dari kantong orang-orang yang, di podium, ia kecam sebagai penjagal.
Kerja sama militer dan intelijen Turki-Israel pun bertahan dari seribu sandiwara diplomasi. Persenjataan, latihan bersama, dan proyek pengembangan senjata tidak benar-benar bubar— hanya sesekali dipinggirkan ketika Erdoğan butuh menaikkan suara untuk menuai pujian publik. Ketika badai popularitas reda, hubungan itu kembali berjalan seperti biasa. Erdoğan tahu, dalam politik, prinsip selalu bisa dinegosiasikan selama keuntungan lebih besar ketimbang kerugian.
Palestina, dalam politik Erdoğan, sudah bukan lagi soal kemanusiaan—hanya alat tawar, sekadar bahan dagangan untuk meraih pujian rakyat dan dunia Islam. Kata-kata keras tentang Gaza menjadi rutinitas musim pilpres dan musim pidato; kemarahan rakyat dipanen, sementara urusan negara tetap dingin, rasional, pragmatis. Retorika adalah modal, penderitaan Palestina jadi komoditas; dan selama ada pasar untuk simbol-simbol perlawanan palsu, Erdoğan akan terus jadi pedagang paling laris.
Bukan Turki saja yang bermain ganda seperti ini; hampir semua negara Muslim lain menjalankan kemunafikan yang sama, bedanya tak semua lihai dalam berpura-pura. Turki memilih cara berisik—menjual kemarahan, memasarkan simpati, namun merawat baik-baik akses ke kekayaan Israel. Itulah sebabnya kemunafikan Ankara terasa jauh lebih getir: pura-pura berteriak perang sambil diam-diam tetap berdagang dan saling menguntungkan.
Sialnya, mayoritas masyarakat Muslim tetap berilusi. Pidato dianggap perlawanan, slogan dikira keberanian, ekspresi marah di podium lebih dipercaya daripada realitas di meja rundingan. Mereka mudah terbuai oleh panggung dan lupa memeriksa apa yang sesungguhnya terjadi di belakang layar.
Padahal, pembelaan sejati tidak diukur dari volume pidato; ia terletak pada keberanian menanggung resiko nyata dari apa yang diucapkan. Selama hubungan dagang, militer, diplomasi, dan wisata dengan Israel tetap lestari—sementara podium dipenuhi teriakan kosong—maka tidak ada perjuangan untuk Palestina. Yang ada hanyalah pemanfaatan luka bangsa tertindas untuk membeli legitimasi, dalam dagang paling dingin yang pernah ada: Palestina dijual demi kuasa.
