Fasilitas-fasilitas militer AS di seluruh Teluk Persia sangat bergantung pada jaringan listrik dari negara-negara tuan rumah.
Gangguan potensial apa pun pada jaringan energi di kawasan ini membawa dampak langsung bagi operasi militer Amerika Serikat di seluruh Asia Barat.
Empat pangkalan militer AS yakni Al Dhafra, Al Minhad, Al Udeid, dan pangkalan udara Pangeran Sultan merupakan tulang punggung keberadaan militer AS di kawasan Teluk tersebut.
Pemeriksaan secara cermat terhadap empat fasilitas pembangkit listrik utama di kawasan tersebut memperlihatkan kerentanan militer AS secara konkret.
Al Tawelah: Jantung Utama Abu Dhabi
Sebuah monumen ambisi Emirat dengan kapasitas 6.000 megawatt listrik.
Pada Juni 2019, pertahanan udara Iran menembak jatuh drone Global Hawk yang beroperasi di kawasan tersebut, sebuah tindakan yang mengeskalasi ketegangan. Pesannya jelas: Iran tahu persis di mana mata-mata Amerika berada, dan memiliki kemampuan untuk membutakannya.
DEWA: Pembuluh Darah Utama Dubai
Kompleks pembangkit listrik Dubai Electricity and Water Authority (DEWA) menghasilkan 9.650 megawatt listrik.
Pelanggan terpentingnya bukanlah Burj Khalifa atau Palm Jumeirah.
Melainkan Pangkalan Udara Al Minhad milik militer AS, sekitar 50 kilometer di sebelah selatan pusat kota.
Kawasan Industri Ras Laffan: Pusat Saraf Kekuatan Udara Amerika
Pesisir timur Qatar menghasilkan 4.500+ megawatt listrik.
Pentingnya fasilitas ini yang sebenarnya bukan terletak pada gas yang diekspornya ke pasar Asia, melainkan pada daya listrik yang dikirimkannya ke Pangkalan Udara Al Udeid-markas depan operasi udara Komando Pusat AS (CENTCOM)-sekitar 40 kilometer di sebelah barat daya Doha.
Riyadh: Menyokong Perisai Amerika di Kerajaan
Pembangkit listrik Riyadh menghasilkan 9.630+ megawatt listrik.
Arab Saudi menjadi tuan rumah bagi apa yang mungkin merupakan aset militer Amerika paling sensitif di Semenanjung Arab: Pangkalan Udara Pangeran Sultan, yang menyerap porsi signifikan dari pasokan listrik pembangkit tersebut.
Sumber: Press TV
