Oleh Dr. Ustaz Muhsin Labib
Dua perwira penting yang menangani operasi terkait Iran dilaporkan dipecat setelah dianggap gagal. Salah satunya, pejabat senior yang dikenal dengan kode “Mr A”, disebut memimpin program besar untuk mengguncang pemerintahan Iran dengan anggaran sekitar satu miliar shekel. Program itu bahkan melahirkan rencana perubahan rezim dengan melibatkan pasukan Kurdi yang masuk ke Iran, didukung serangan udara Israel dan Amerika Serikat. Rencananya ambisius, tetapi kenyataannya kosong: pasukan tidak bergerak, operasi tidak terlaksana, Iran tetap berdiri, dan orang-orang yang bertanggung jawab harus membayar kegagalan itu dengan jabatan.
Kegagalan tersebut menjadi semakin penting jika dibandingkan dengan pola beberapa bulan sebelumnya. Berita tentang Iran hampir selalu membawa cerita yang sama: perwira dibunuh, ilmuwan disasar, pejabat penting dieliminasi, fasilitas disabotase, dan jaringan intelijen asing bergerak jauh di dalam wilayah Iran. Mossad dan CIA seolah dapat menembus Iran sesuka hati. Namun dalam dua atau tiga bulan terakhir, pola itu berubah. Berita tentang operasi pembunuhan semacam itu semakin jarang terdengar, sementara Iran justru semakin gencar memburu jaringan spionase dan penyusupan.
Perubahan tersebut menunjukkan satu hal yang sederhana: Iran belajar. Setiap infiltrasi meninggalkan jejak, setiap sabotase memperlihatkan metode, dan setiap operasi yang berhasil memberi kontraintelijen Iran bahan untuk mengenali pola musuh. Celah-celah yang dahulu terbuka mulai ditutup, jalur operasi dibersihkan, jaringan lokal diburu, dan sistem keamanan diperketat. Negara yang dahulu menjadi sasaran penetrasi kini semakin mampu membaca dan memburu pihak yang mencoba menembusnya.
Inilah persoalan yang jauh lebih serius bagi Mossad. Masalahnya sekarang bukan sekadar bagaimana memasukkan agen ke Iran, tetapi bagaimana membuat agen itu tetap hidup, mempertahankan jaringan agar tidak terbongkar, menjaga komunikasi agar tidak terlacak, dan menjalankan operasi tanpa meninggalkan jejak. Dalam perang intelijen, pengalaman adalah senjata. Dan Iran telah memperoleh pengalaman itu melalui bertahun-tahun pembunuhan, sabotase, infiltrasi, perang siber, serta operasi rahasia Israel dan Amerika.
Ironinya, ketika Iran semakin sulit ditembus, kegagalan justru mulai terlihat di dalam tubuh intelijen Israel sendiri. Rencana perubahan rezim yang membutuhkan jaringan lokal, dukungan udara Israel-Amerika, dan koordinasi operasi berskala besar ternyata berhenti sebagai rencana. Iran tidak runtuh, pemerintahan tetap berdiri, pasukan yang diharapkan menjadi instrumen operasi tidak bergerak, dan dua perwira penting yang terkait dengan operasi Iran kehilangan posisi. Ini sulit disebut sekadar kegagalan teknis. Ketika operasi strategis menghabiskan sumber daya besar tetapi tidak mampu menghasilkan tujuan utamanya, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi dua perwira, tetapi kredibilitas strategi intelijen itu sendiri.
CIA dan Mossad masih memiliki kemampuan intelijen yang besar, sementara Iran tentu masih memiliki kerentanan. Iran tidak perlu menjadi sepenuhnya kebal untuk mengubah keseimbangan permainan. Cukup dengan menjadi jauh lebih sulit ditembus daripada sebelumnya, Iran telah memaksa lawannya membayar lebih mahal untuk setiap operasi. Mossad masih memiliki taring, tetapi Iran sudah belajar bagaimana menghindari gigitannya.
Dulu Mossad masuk ke Iran untuk memburu. Kini Iran semakin mampu memburu jaringan yang masuk ke wilayahnya. Dulu setiap keberhasilan operasi Israel menjadi berita tentang kehebatan Mossad. Kini kegagalan operasi besar justru menghasilkan berita tentang perwira yang kehilangan jabatan. Iran menutup celah, memperketat pintu, dan belajar membaca tangan yang mencoba membukanya. Sesederhana itu.
