Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert telah mengonfirmasi untuk pertama kalinya bahwa Israel melakukan pembunuhan terhadap Brigadir Jenderal Suriah Muhammad Suleiman pada tahun 2008, salah satu penasihat militer dan intelijen terdekat Presiden Bashar al-Assad saat itu. Menurut kesaksian Olmert yang baru saja dipublikasikan, komando elit angkatan laut Israel menyusup ke pesisir Mediterania Suriah di dekat Tartus dan mendekati vila tepi pantai milik Suleiman saat ia sedang makan malam pada 1 Agustus 2008. Tiga tembakan penembak jitu berperedam dilepaskan, mengenai kepala dan lehernya sebelum para perwira operasional tersebut melarikan diri melalui jalur laut tanpa terdeteksi.
Suleiman mengawasi pengadaan senjata strategis dan keamanan seputar proyek nuklir rahasia Suriah di Deir ez-Zor, dan dilaporkan berperan sebagai penghubung penting antara Damaskus dengan Iran dan Hizbullah. Israel telah menghancurkan fasilitas nuklir Suriah dalam serangan udara pada September 2007, kurang dari setahun sebelum pembunuhan Suleiman. Dalam perkembangan penting pekan ini, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengonfirmasi setelah inspeksi lanjutan bahwa fasilitas yang dihancurkan tersebut memang merupakan reaktor nuklir yang sedang dibangun dan tidak dilaporkan.
Israel secara resmi tetap bungkam mengenai pembunuhan Suleiman selama 18 tahun, meskipun keterlibatannya telah lama dicurigai. Pada tahun 2015, dokumen Badan Keamanan Nasional (NSA) AS yang bocor mengaitkan operasi tersebut dengan unit komando angkatan laut elit Israel, Shayetet 13, seraya menyebutkan bahwa pembunuhan tersebut merupakan pembunuhan pertama yang diketahui dilakukan oleh unit tersebut yang tercatat oleh NSA. Pengakuan Olmert kini memberikan pengakuan langsung pertama dari pihak Israel atas tanggung jawab terhadap operasi rahasia tersebut.
πππΊπ―π²πΏ: π§π π π‘π²ππ π‘π²πππΌπΏπΈ
