Donald Trump berjabat tangan dengan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa dalam pertemuan bilateral.

Presiden AS Donald Trump menyambut baik upaya Suriah untuk memosisikan dirinya sebagai koridor transit alternatif untuk Selat Hormuz di tengah gangguan parah yang dipicu oleh perang AS-Israel melawan Iran. Saat membagikan laporan Washington Post mengenai rencana Damaskus tersebut, Trump menulis, “INI SANGAT HEBAT!” Rezim baru Suriah berusaha memindahkan minyak Teluk dan barang-barang lainnya melalui jalur darat menembus Irak menuju pelabuhan Mediterania di Baniyas, memungkinkan ekspor mencapai pasar internasional tanpa harus melewati Hormuz.

Rencana tersebut berpusat pada usulan pipa minyak sepanjang 1.000 mil senilai 5,7 miliar dolar AS yang mampu mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah per hari dari Basra di Irak selatan ke Baniyas. Pemerintahan Trump mengumumkan dukungannya terhadap proyek tersebut pada bulan Juli, dengan konsorsium yang diperkirakan mencakup Chevron, TotalEnergies dari Prancis, serta para investor Suriah dan Qatar. Qatar juga dilaporkan telah mendiskusikan perluasan infrastruktur energi melalui Suriah, sementara Kuwait dan Bahrain berpotensi mengambil manfaat dari koridor tersebut. Sekitar 5.000 truk tangki saat ini sudah mengangkut minyak Irak melintasi Suriah setiap harinya seiring para eksportir menguji rute tersebut.

Proyek ini dapat memperkuat secara signifikan ambisi sang Presiden yang menobatkan dirinya sendiri, Ahmed al-Sharaa, untuk mengubah Suriah pasca-Assad menjadi hub energi dan transportasi regional, terutama setelah sanksi-sanksi AS dicabut berkat ketegasannya dalam menindak perlawanan terhadap Israel. Namun, pembangunan pipa minyak ini akan memakan waktu setidaknya dua setengah tahun dan menghadapi risiko keamanan dari kelompok-kelompok bersenjata di Suriah dan Irak. Banyak pihak yang mendukung perang pergantian rezim sokongan NATO-Teluk di Suriah sebelumnya berlindung di balik ilusi untuk pembenaran bahwa aksi tersebut adalah ‘revolusi yang diberkahi’ dan batu loncatan untuk membebaskan Palestina, seraya menyuarakan slogan-slogan seperti ‘Pertama Damaskus, Lalu Yerusalem.’ Namun, asumsi tersebut dinilai banyak pengamat geopolitik tidak lebih dari sekadar retorika sektarian yang bertolak belakang dengan fakta historis dan realitas politik di lapangan.


π˜€π˜‚π—Ίπ—―π—²π—Ώ: 𝗧𝗠𝗝 π—‘π—²π˜„π˜€ π—‘π—²π˜π˜„π—Όπ—Ώπ—Έ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *