๐ฟ๐๐ง๐ ๐ฅ๐ช๐๐ฃ๐-๐ฅ๐ช๐๐ฃ๐ ๐ฅ๐๐ง๐๐ฃ๐ ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐๐๐ฅ๐๐ ๐จ๐๐ ๐๐ฃ ๐ฅ๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐ ๐ญ๐ต๐ด๐ฌ-๐๐ฃ ๐๐๐ฃ๐๐๐ ๐ฅ๐๐ข๐๐๐ฃ๐๐ช๐ฃ๐๐ฃ ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐ง๐ ๐ฎ๐ฌ ๐๐ช๐ฉ๐ ๐ช๐ฃ๐๐ฉ ๐๐ช๐ฃ๐๐๐ฃโ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐ต๐ฌ ๐ฅ๐๐ง๐จ๐๐ฃ ๐๐ ๐๐ฃ๐ฉ๐๐ง๐๐ฃ๐ฎ๐ ๐๐๐๐๐ฃ๐๐ช๐ฃ ๐จ๐๐ฉ๐๐ก๐๐ ๐๐๐ซ๐ค๐ก๐ช๐จ๐ ๐๐จ๐ก๐๐ขโ๐ซ๐๐จ๐ ๐จ๐ฉ๐ง๐๐ฉ๐๐๐๐จ ๐๐ข๐๐ข ๐๐๐๐ข๐๐ฃ๐๐ ๐ข๐๐ข๐๐ฃ๐๐ช ๐ฉ๐ง๐๐ฃ๐จ๐๐ค๐ง๐ข๐๐จ๐ ๐๐ง๐๐ฃ ๐๐๐ง๐ ๐ฃ๐๐๐๐ง๐ ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐๐๐ง๐๐๐ฃ๐ฉ๐ช๐ฃ๐ ๐ฅ๐๐๐ ๐ข๐ค๐ฃ๐ค๐ฅ๐ค๐ก๐ ๐ ๐ค๐ฃ๐จ๐ฉ๐ง๐ช๐ ๐จ๐ ๐๐จ๐๐ฃ๐ ๐ข๐๐ฃ๐๐๐๐ ๐ฅ๐๐ข๐๐ข๐ฅ๐๐ฃ ๐๐ก๐ค๐๐๐ก ๐๐๐ก๐๐ข ๐ข๐๐ฉ๐๐ง๐๐๐ก ๐๐๐ฃ๐๐ช๐ฃ๐๐ฃ ๐๐๐ฃ ๐ ๐๐๐๐ก๐๐๐ฃ ๐ฉ๐๐ ๐ฃ๐๐ ๐๐ค๐ข๐๐จ๐ฉ๐๐ .
Sebelum Revolusi Islam 1979, sektor perumahan dan konstruksi Iran didominasi oleh korporasi asing, terutama perusahaan-perusahaan Amerika Serikat seperti Starrett Housing. Perusahaan ini menguasai megaproyek pemukiman terbesar di Iran sembari mengimpor lebih dari 80 persen material bangunan dari AS dengan harga yang melambung tinggi.
Revolusi Islam berhasil memutus cengkeraman tersebut. Namun, perang yang dipaksakan berikutnya dan sanksi yang melumpuhkan memaksa kepemimpinan baru untuk menghadapi kenyataan pahit: kelangsungan hidup Iran sangat bergantung pada kemandirian.
Sejak masa Pertahanan Suci hingga dekade-dekade sanksi ilegal yang melumpuhkan, Imam Khamenei secara konsisten mengidentifikasi sektor perumahan bukan sekadar sebagai sektor ekonomi, melainkan sebagai prioritas nasional yang strategis. Sektor ini dipandang mampu menggerakkan lapangan kerja, mengaktifkan 143 industri terkait, menghasilkan devisa melalui ekspor, serta memberikan martabat dan stabilitas bagi keluarga-keluarga Iran.
Visi beliau, yang dituangkan dalam berbagai pidato dan arahan kebijakan resmi, mengubah sektor konstruksi dari simbol ketergantungan asing menjadi bukti ketangguhan bangsa Iran.
Inilah kisah transformasi tersebut, tentang bagaimana perumahan menjadi salah satu pilar ekonomi perlawanan, pendorong industri dalam negeri, dan landasan keadilan sosial di Republik Islam.
Pada dekade-dekade sebelum Revolusi Islam 1979 dan jatuhnya kediktatoran Pahlavi yang didukung Barat, industri konstruksi Iran merupakan “taman bermain” bagi korporasi asing.
Perusahaan Amerika, Starrett Housing Corporationโyang terkenal karena membangun Empire State Building dan Trump Tower di New Yorkโdiberikan hak kontrol eksklusif atas megaproyek perumahan terbesar di Iran pada dekade 1970-an, termasuk kompleks perumahan Ekbatan, Zomorod, dan Alborz di Teheran.
Rezim Pahlavi dengan murah hati menyediakan tanah negara secara cuma-cuma kepada Starrett, memungkinkan korporasi tersebut meraup keuntungan berlipat ganda dengan menjual apartemen terutama kepada kalangan kelas menengah dan atas Iran.
Kemitraan ini sangat timpang: kontrak mewajibkan lebih dari 80 persen material bangunan diimpor dari AS, sering kali dengan harga yang dinaikkan jauh lebih mahal dibandingkan alternatif domestik.
Meskipun menikmati kendali penuh, tanah gratis, dan jaminan penjualan, Starrett gagal memenuhi tenggat waktu dan meninggalkan proyek-proyek dalam kondisi mangkrak. Kompleks Ekbatan di Teheran barat tidak pernah diselesaikan sesuai rencana awal.
Revolusi Islam dengan cepat mengakhiri dominasi Starrett di sektor perumahan Iran. Bersamaan dengan tumbangnya rezim melalui revolusi rakyat, terjadi pengusiran perusahaan-perusahaan asing yang eksploitatif serta penerapan sanksi draconian oleh AS, yang membuat bisnis asing tidak mungkin dilanjutkan.
Periode pasca-revolusi menyingkap rapuhnya rezim yang digulingkan, yang membangun kekuasaannya sepenuhnya di atas ketergantungan asing dengan mengorbankan kemandirian nasional.
Tiba-tiba, tanpa bantuan Amerika, Iran menghadapi kesulitan untuk menyelesaikan proyek perumahannya sendiri. Menyadari urgensi kemandirian, kepemimpinan baru berbalik mengandalkan produksi dalam negeri, material lokal, dan penekanan pada penyediaan hunian bagi kaum tertindas (mustad’afin).
Setelah perang yang dipaksakan pada dekade 1980-an berakhir, pemerintah meluncurkan inisiatif masif untuk membangun kembali dan memperluas sektor perumahan: program pinjaman lunak untuk kepemilikan rumah terjangkau, kontrol harga pemerintah untuk material bangunan esensial, distribusi tanah secara masif dengan harga murah, serta pembentukan koperasi perumahan untuk memberdayakan warga biasa.
Sektor yang dulunya merupakan monopoli asing berubah menjadi gerakan nasional menuju kemandirian tempat rakyat menjadi pemangku kepentingan utamanya.
Perusahaan-perusahaan Iran menyelesaikan megaproyek yang sebelumnya dikerjakan pihak asing, termasuk kompleks Ekbatan, Lavizan, Omid, Apadana, dan Atisaz di Teheran, sembari meluncurkan gelombang proyek-proyek baru yang ambisius di provinsi dan kota-kota lainnya.
Perumahan Sebagai Lokomotif Ekonomi
Imam Khamenei secara konsisten menjabarkan logika ekonomi dari pembangunan perumahan.
“Perumahan adalah salah satu sektor kewirausahaan di negara ini,” tegas beliau. “Produksi perumahan itu sendiri menyerap tenaga kerja dan menggerakkan banyak industri; artinya, sektor ini bersifat kewirausahaan dan menciptakan produksi.”
Setiap 100 meter persegi pembangunan rumah menciptakan dua setengah lapangan kerja langsung dan tidak langsung bagi pekerja, insinyur, teknisi, tukang gips, tukang cat, tukang las, hingga penyedia jasa rekayasa teknik.
Sektor perumahan mengaktifkan 143 bidang industri secara langsung maupun tidak langsung, termasuk pabrik semen, pabrik baja, pabrik keramik, batu, gips, dan industri pendukung lainnya.
“Ketika sektor perumahan aktif, selain industri yang dibutuhkan secara langsung untuk membangun rumah, sektor-sektor pendukung kehidupan pasca-pembangunan rumah juga ikut aktif dan industri pun bergerak. Dengan aktifnya sektor perumahan, lokomotif ini menarik industri-industri lain di belakangnya,” ujar beliau.
“Perumahan juga sangat selaras dengan kerangka kerja ekonomi perlawanan. Ekonomi perlawanan bersifat introvert (berorientasi ke dalam) sekaligus ekstrovert (berorientasi ke luar). Introvert berarti kita tidak membutuhkan bantuan luar untuk memproduksi perumahanโbaik material, sumber daya manusia, maupun peraturan tata ruang. Ekstrovert berarti jika kita mampu mengekspor jasa teknik dan rekayasa kita, kita dapat menghasilkan devisa bagi negara.”
Transformasi Industri Konstruksi Iran
Data menunjukkan catatan transformasi yang luar biasa. Sebelum revolusi, Iran hanya memproduksi 5 juta ton semen dan 500.000 ton baja per tahun, yang membuatnya sangat bergantung pada impor.
Hari ini, Iran berdiri sebagai kekuatan industri besar yang memproduksi 65 juta ton semen dan 31 juta ton baja per tahun, masing-masing menempati peringkat ke-6 dan ke-10 di dunia.
Iran tidak hanya memenuhi kebutuhan domestiknya, tetapi juga menjadi eksportir utama material-material krusial tersebut. Seratus persen material yang dibutuhkan oleh industri konstruksi kini diproduksi secara lokal, dan kapasitas produksi untuk komoditas utama telah melebihi dua kali lipat kebutuhan dalam negeri.
Iran juga telah menjadi produsen batu hias dan batu konstruksi terbesar ketiga di dunia, hanya di belakang Tiongkok dan India. Material bangunan dan metode konstruksi pun mengalami perubahan yang sama dramatisnya.
Sebelum revolusi 1979, kurang dari seperempat rumah dibangun dengan material tahan lama seperti baja dan beton, sementara dua pertiganya mengandalkan material rapuh seperti bata lumpur, kayu, dan jerami.
Terlepas dari tantangan perang yang dipaksakan, beberapa tahun pertama setelah revolusi berhasil melipatgandakan proporsi hunian berstruktur kokoh dan memangkas penggunaan bahan tidak tahan lama hingga separuhnya.
Antara tahun 1990 hingga 2010, persentase bangunan tanpa penguat (unreinforced masonry) anjlok dari 90 persen menjadi hanya 23 persen. Sebaliknya, struktur berbahan baja dan beton melonjak drastis dari 3 persen menjadi 74 persen.
Pada sensus tahun 2011, Iran mencatatkan 20 juta unit hunian, dengan 90 persen di antaranya dibangun setelah revolusi, dibandingkan dengan hanya 10 persen pada masa rezim yang digulingkan.
Populasi kawasan perkotaan melonjak dari 48 persen menjadi 77 persenโ20 persen lebih tinggi dari rata-rata globalโdidorong oleh pembangunan infrastruktur, industrialisasi, dan pertumbuhan penduduk.
Jumlah kota yang diakui secara resmi juga berkembang pesat dari hanya 373 kota sebelum revolusi menjadi lebih dari 1.300 kota saat ini.
Peran Kunci Imam Khamenei dalam Visi dan Kebijakan
Peran Imam Khamenei dalam transformasi ini bukan sekadar memberikan dukungan, melainkan menentukan arah secara langsung dan praktis.
Dalam salah satu pertemuannya dengan menteri dan pejabat Kementerian Perumahan dan Pengembangan Kota, beliau menekankan pentingnya menyusun kebijakan tata ruang metropolitan secepat mungkin untuk menyelesaikan masalah pemukiman dan mencegah perluasan kota-kota besar secara tidak terkendali.
Beliau menegaskan bahwa isu perumahan telah menjadi variabel krusial yang memengaruhi mata pencaharian, spiritualitas, sosial, dan moral masyarakat. Masalah ini harus diselesaikan melalui perencanaan yang matang dan serius.
Pada tahun 2010, beliau mengumumkan kebijakan umum pemerintah di bidang perumahan, yang menjadi panduan bagi lembaga eksekutif, legislatif, dan pengawas.
Kebijakan tersebut mencakup tata kelola lahan untuk menyediakan hunian dan mengembangkan kota serta desa sesuai potensi wilayah, pembaruan kawasan kumuh perkotaan dan pedesaan melalui metode yang efisien, perencanaan pemerintah untuk menyediakan hunian bagi kelompok berpenghasilan rendah dan membutuhkan, perbaikan perumahan desa, serta reformasi sistem perpajakan yang didukung basis data pertanahan dan perumahan.
Ketentuan tambahan lainnya mencakup dukungan terhadap produksi desain perumahan massal dan industrial, penetapan standar bangunan dan regulasi konstruksi nasional, penghormatan terhadap nilai-nilai budaya dalam arsitektur hunian, serta penguatan riset dan pengetahuan ilmiah di bidang perumahan.
Dalam berbagai pidatonya, Imam Khamenei berulang kali menekankan bahwa kemajuan negara di sektor perumahan harus terus berjalan, meskipun pihak musuh tidak menghendakinya.
“Hari ini, salah satu alat tekanan propaganda terhadap Republik Islam adalah isu iniโisu rudal, isu drone, isu fasilitas militer, dan hal-hal yang diciptakan oleh karya anak-anak muda kita di dalam negeri tanpa bantuan pihak luar. Pihak luar ingin hal ini tidak terjadi, mereka ingin ini terhenti,” catat beliau.
Beliau secara konsisten menegaskan bahwa pemerintah Republik Islam tidak berhak membiarkan negara dalam keadaan tanpa pertahanan, ataupun mengabaikan kebutuhan pemukiman rakyatnya.
Perumahan, Keluarga, dan Stabilitas Sosial
Tema yang terus berulang dalam pernyataan Imam Khamenei adalah hubungan antara penyediaan rumah dan pembentukan keluarga. Beliau mencatat bahwa tingginya biaya perumahan telah menjadi salah satu hambatan utama yang menyulitkan pemuda Iran untuk menikah dan membangun rumah tangga mandiri.
Meski mengakui adanya faktor budaya, beliau berulang kali menyatakan bahwa tekanan ekonomiโterutama masalah hunianโmenjadi penyebab tertundanya pernikahan dan menurunnya angka kelahiran. Beliau mendorong para pembuat kebijakan untuk memandang kebijakan perumahan bukan sekadar perencanaan kota, melainkan sebagai kebijakan demografi dan kebudayaan.
Dalam pandangan beliau, mempermudah akses perumahan akan mendorong pernikahan di usia muda, memperkuat ketahanan keluarga, dan secara tidak langsung mendukung pertumbuhan populasi. Beliau juga menekankan bahwa rumah memberikan lebih dari sekadar tempat bernaung secara fisik; rumah memberikan rasa aman secara psikologis, stabilitas keluarga, dan keyakinan akan masa depan.
“Kenyataan bahwa Anda melihat mereka meributkan masalah rudal dan sejenisnya adalah karena perkembangan kemandirian ini,” tegas beliau dalam suatu kesempatan. “Di mana pun kita mengandalkan anak-anak muda kita, memercayai mereka, menyediakan fasilitas untuk merekaโbahkan fasilitas minimal sekalipunโanak-anak muda ini terbukti mampu maju dan berkarya.”
Tantangan Berkelanjutan dan Arah Masa Depan
Terlepas dari berbagai pencapaian ini, tantangan tetap ada. Sektor perumahan masih menghadapi persoalan seperti harga yang tinggi, keterlambatan penyelesaian proyek, serta kebutuhan akan produksi massal yang berkesinambungan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Imam Khamenei mengimbau pemerintah untuk berfokus pada “disiplin pasar” dan meredakan kekhawatiran masyarakat terhadap kenaikan harga komoditas yang tidak terkendali.
Gerakan Perumahan Nasional (National Housing Movement) yang diluncurkan pada masa pemerintahan Presiden Ebrahim Raeisi bertujuan membangun satu juta unit rumah setiap tahunnya, didukung dengan alokasi tanah masif dan fasilitas penunjang.
Imam Khamenei menegaskan pentingnya memberi perhatian khusus pada masalah perumahan, di mana terdapat usulan-usulan penyelesaian parsial yang harus ditindaklanjuti oleh para pejabat hingga membuahkan hasil nyata.
Beliau juga menekankan pentingnya perumahan di pedesaan, seraya menyatakan bahwa “desa-desa di Republik Islam Iran akan menjadi bengkel-bengkel kerja.”
Di sektor pedesaan, sejak awal revolusi hingga tahun 2023, hanya 800.000 bidang tanah yang diserahkan kepada warga desa; namun hanya dalam kurun waktu satu tahun, lebih dari satu juta bidang tanah dengan hak sewa 99 tahun berhasil disalurkanโsebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Rencana mengalokasikan satu juta bidang tanah pedesaan per tahun dengan luas minimal 500 meter persegi memungkinkan tumbuhnya usaha berbasis rumah tangga dan pembangunan ekonomi di kawasan pedesaan.
Sektor konstruksi telah mencatatkan kemajuan pesat, namun laju produksi hunian harus terus diakselerasi agar sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan laju urbanisasi.
Pengembangan “Sekolah Generasi Keempat” yang dilengkapi lokakarya canggih serta “pembangkit listrik tenaga surya portabel pintar” yang kini tengah dikembangkan merupakan bagian dari ekosistem inovasi teknologi yang dipupuk Iran selama empat dekade.
Semangat kemandirian yang melahirkan pengembangan rudal dan drone adalah semangat yang sama yang menggerakkan transformasi di sektor perumahan dan konstruksiโsebuah bukti tak terbantahkan bahwa suatu bangsa mampu membangun masa depannya dari sumber daya dan kekuatannya sendiri.
Pemimpin Revolusi Islam telah memperkuat posisi Republik Islam, memastikan bahwa Iran mampu membangun rumah bagi rakyatnya, menciptakan lapangan kerja bagi pemudanya, dan berdiri di atas kakinya sendiri.
Sumber: diterjemahkan dan disarikan dari sebuah artikel di Press TV yang berjudul โHow Imam Khameneiโs visionary leadership transformed Iran into a global construction powerhouseโ
