Tentara Spanyol mengawal barisan migran asal Maroko di kawasan perbatasan Ceuta.

Oleh Jake Green dari VPOL

Mengapa ribuan warga Maroko mendadak bisa menyeberang ke Ceuta? Dan yang lebih penting, siapa yang diuntungkan? Yang jelas bukan rakyat yang kehilangan nyawa saat berusaha mencapai wilayah eksklave Spanyol tersebut, atau puluhan ribu warga Maroko yang putus asa—yang kemiskinan dan perjuangannya kini sekadar dijadikan alat dalam permainan politik pihak lain. Kerajaan Maroko ingin dunia percaya bahwa ini hanyalah cerita migrasi biasa, padahal merekalah yang mengendurkan pengamanan dan sengaja menciptakan krisis ini. Lihat saja dengan siapa mereka bersekutu selama beberapa tahun terakhir: Israel.

Saat Gaza dihadapkan pada genosida, Maroko justru memperluas kerja sama militer dengan Israel, menandatangani perjanjian pertahanan senilai miliaran dolar, menyambut para pejabat Israel, mempererat salah satu hubungan terdekat yang pernah ada antara pemerintah Arab dan Tel Aviv. Dalam perkembangan terkini, aliansi tersebut memegang peranan penting. Sementara itu Spanyol—meski jauh dari predikat negara anti-imperialis—telah menjadi salah satu dari sedikit negara yang melangkah lebih jauh dibandingkan negara-negara Eropa lainnya.

Pemerintahan Pedro Sanchez telah mengakui Palestina, mendukung tindakan hukum internasional, dan menerapkan sanksi terhadap ekspansi militer serta permukiman Israel. Bahkan langkah-langkah yang terbilang moderat dan sepatutnya ini pun sudah cukup untuk memicu permusuhan dari Trump, sekutu politik Netanyahu, hingga kelompok sayap kanan ekstrem di Eropa. Maroko kini tampak mengambil perannya sendiri dalam kampanye tekanan tersebut—tidak hanya dengan menciptakan krisis kemanusiaan langsung bagi Spanyol, tetapi juga dengan menegaskan kontrol, kehadiran, dan gangguan di Selat Gibraltar.

Porsi signifikan dari perdagangan Israel dengan Eropa dan Atlantik melintasi selat di antara Spanyol dan Maroko ini, sehingga pengaruh dan kontrol melalui perpanjangan tangan (proxy) menjadi sangat krusial bagi kepentingan komersial dan strategis Israel. Jadi, Maroko telah mengumpankan rakyatnya sendiri demi kepentingan Israel. Ribuan warga biasa Maroko dijadikan alat tawar-menawar dalam upaya menghukum pemerintah yang menolak tunduk pada seluruh kemauan Israel.

Hal ini membuka mata kita tentang apa yang menjadi prioritas elite penguasa Maroko. Dihadapkan pada pilihan antara warganya sendiri atau membela aliansi dengan Israel, mereka memilih yang kedua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *