Lingkaran akademis dan intelijen Tiongkok dilaporkan menaruh kecurigaan bahwa Israel berada di balik lonjakan migran baru-baru ini ke Ceuta, wilayah eksklave Spanyol di Afrika Utara.
Menurut laporan El Mundo, dokumen yang beredar di Beijing mengklaim bahwa krisis perbatasan tersebut merupakan operasi perang hibrida (hybrid warfare) terencana yang diduga dikoordinasikan oleh Mossad dan dimungkinkan oleh Maroko, dengan tujuan memicu destabilisasi terhadap pemerintah Spanyol.
Penilaian tersebut dilaporkan menghubungkan insiden ini dengan memburuknya hubungan antara Madrid dan Tel Aviv, terutama pascakritik Spanyol terhadap perang Israel di Gaza serta pengakuannya atas negara Palestina.
Nadia Helmy, seorang pakar ilmu politik Mesir yang berspesialisasi dalam hubungan Tiongkok-Israel, menyatakan bahwa para analis keamanan Tiongkok memandang peristiwa Ceuta sebagai potensi operasi tekanan yang menargetkan pemerintahan Perdana Menteri Pedro Sanchez.
“Pusat analisis intelijen Tiongkok telah memeriksa eskalasi ketegangan politik dan diplomatik antara Spanyol dan Israel,” ujar Helmy. “Dari perspektif tersebut, memburuknya hubungan bilateral kedua negara bisa saja menjadi motif bagi Mossad untuk terlibat dalam krisis migrasi antara Maroko dan Spanyol, memperparah situasi, serta menyusupkan agen-agennya guna memicu ketidakpuasan dan kekacauan di tengah masyarakat Maroko.”
