Foto pengamat geopolitik dengan latar belakang logo Al Jazeera dan ilustrasi perang narasi di Yaman.

𝗢𝗹𝗲𝗵 𝗗𝗿. 𝗨𝘀𝘁𝗮𝘇 𝗠𝘂𝗵𝘀𝗶𝗻 𝗟𝗮𝗯𝗶𝗯

Al Jazeera, Al Arabia dan media milik rezim-rezim Teluk melancarkan propaganda penyesatan, hoaks, dan fitnah untuk memojokkan pemerintahan legal yang didukung rakyat Yaman, yang telah memenangkan pertempuran secara spektakuler. Narasi tersebut diarahkan untuk menggiring opini dunia agar mengecam dan mengutuk pemerintahan legal yang didukung rakyat Yaman, sekaligus memprovokasi berbagai pihak agar kembali melakukan penyerangan terhadap Yaman. Padahal, kenyataan di kota-kota yang telah dibebaskan justru menunjukkan hal yang berbeda. Masyarakat tetap berada di tempatnya, menjalani kehidupan sebagaimana biasa, dan memperlihatkan bahwa mereka mendapatkan perlakuan baik. Tidak ada situasi yang mengkhawatirkan, tidak ada kepanikan massal, dan tidak ada alasan bagi masyarakat untuk melarikan diri.

Karena itu, pemberitaan mengenai pelarian pasukan pemerintahan, evakuasi, dan kepanikan masyarakat patut dilihat sebagai bagian dari propaganda yang sengaja dibangun untuk mendistorsi kenyataan di lapangan. Narasi tersebut dimaksudkan untuk menciptakan kesan bahwa kemenangan pemerintahan legal yang didukung rakyat Yaman telah menimbulkan kekacauan dan ketakutan. Kenyataannya, masyarakat di kota-kota yang telah dibebaskan tetap berada di tempat mereka. Tidak ada eksodus sebagaimana digambarkan dalam pemberitaan tersebut. Semua narasi tentang pelarian dan eksodus yang tidak sesuai dengan kenyataan lapangan pada akhirnya tidak lebih dari kebohongan dan dusta untuk membentuk opini publik.

Di sisi lain, kegagalan Saudi di Yaman semakin terbuka. Saudi selama ini berusaha menampilkan diri seolah-olah tidak melakukan intervensi militer secara langsung. Namun, kenyataan menunjukkan sebaliknya. Senjata, dukungan militer, dan pasukan bayaran telah dikerahkan untuk mempertahankan proyek politik yang dibangun Saudi di Yaman. Tujuannya adalah menciptakan dan mempertahankan pemerintahan boneka Mansour Hadi yang berbasis di Riyadh sebagai pemerintahan dalam pengasingan agar Yaman tetap berada di bawah kendali politik dan strategis Arab Saudi.

Kini Saudi terbukti tidak mampu berbuat banyak untuk mengubah kenyataan yang telah terbentuk di Yaman. Ketika kekuatan yang didukungnya mengalami kekalahan dan kehilangan pijakan, perang narasi menjadi salah satu cara untuk menutupi kegagalan tersebut. Propaganda terhadap pemerintahan legal yang didukung rakyat Yaman karena itu bukan sekadar pemberitaan yang keliru, tetapi bagian dari upaya sistematis untuk mendistorsi kemenangan pemerintahan tersebut, membangun persepsi tentang kekacauan di Yaman, dan menciptakan alasan bagi pihak-pihak lain untuk kembali melakukan agresi terhadap negara tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *