𝗢𝗹𝗲𝗵 𝗞𝗲𝘃𝗼𝗿𝗸 𝗔𝗹𝗺𝗮𝘀𝘀𝗶𝗮𝗻
Seiring dengan penguasaan Ansarallah Yaman atas seluruh garis pantai di Laut Merah dan dengan demikian Selat Bab al-Mandab—pintu gerbang laut yang strategis—media Israel seperti Yedioth Ahronoth dan Axios mengklaim bahwa Israel telah memberikan bantuan intelijen kepada Arab Saudi di tengah eskalasi konflik dengan Ansarallah Yaman. Menurut sumber-sumber Israel tersebut, bantuan tersebut disalurkan ke Riyadh melalui CENTCOM (Komando Pusat militer Amerika Serikat) dan tidak melibatkan dukungan operasional atau partisipasi langsung Israel dalam pertempuran. Menurut sumber-sumber pers Israel, Washington berupaya membantu Riyadh tanpa harus terseret ke dalam front militer baru lainnya.
Minggu lalu, dilaporkan bahwa Mohammed bin Salman mengajukan permohonan kepada Presiden AS Donald Trump dan memintanya untuk memerintahkan serangan terhadap gerakan Ansarallah guna menghentikan kemajuan mereka di lapangan serta apa yang ia sebut sebagai ancaman yang semakin meningkat terhadap kerajaan. Kini, Trump menolak permohonan dan tuntutan bin Salman tersebut, namun para pejabat AS menegaskan bahwa mereka ingin memberikan bantuan intelijen kepada pihak Saudi. Saya rasa ada konspirasi di sini terhadap Arab Saudi.
Saya rasa Amerika Serikat menolak untuk mendukung Arab Saudi secara langsung, lalu mengungkap di media bahwa Arab Saudi sudah menerima bantuan intelijen dari pihak Israel guna membujuk Arab Saudi agar menormalisasi hubungan dengan Israel. Kita tahu bahwa ini merupakan isu yang sangat kontroversial bagi Arab Saudi dan mereka tidak ingin menormalisasi hubungan dengan Israel sebelum adanya pengakuan atau pembentukan negara Palestina—Two-State Solution. Namun, pihak Amerika berusaha memojokkan Arab Saudi dan meningkatkan tekanan keamanan terhadap Arab Saudi guna mendesak kerajaan tersebut untuk menormalisasi hubungan dengan Israel di tengah situasi di mana Arab Saudi sedang menerima serangan dari kelompok yang mereka sebut sebagai Houthi atau gerakan Ansarallah yang didukung Iran.
Oleh karena itu, dalam kondisi seperti ini, saya melihat pihak Saudi akan dihadapkan pada dua skenario: Pertama, menerima bantuan dari pihak Amerika—yang saat ini justru ditolak oleh Amerika sendiri. Dan kedua, membawa hubungan terselubung dan rahasia mereka yang sedang berlangsung dengan Israel ke permukaan, lalu bergabung dengan Abraham Accords (Kesepakatan Abraham).
