Sebuah video viral yang mengklaim memperlihatkan serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Arab Saudi di Riyadh telah diidentifikasi sebagai hasil kecerdasan buatan (AI), meskipun telah ditonton sekitar 1,7 juta kali di platform X. DW Fact Check melaporkan pada 12 Oktober bahwa rekaman tersebut telah beredar secara daring sejak Maret 2026, beberapa bulan sebelum serangan bandara yang terjadi baru-baru ini. Para peneliti mengidentifikasi adanya ketidaksesuaian visual, termasuk orang-orang yang tampak berjalan menembus pintu kaca dan pembatas, reaksi yang tidak masuk akal terhadap ledakan, serta bayangan yang tidak konsisten dengan bola api yang terlihat. Temuan ini menyoroti bagaimana rekaman palsu dapat menyebar dengan cepat selama konflik dan disajikan sebagai bukti serangan nyata.
Pengungkapan fakta ini terjadi di tengah serangan sungguhan terhadap infrastruktur penerbangan Saudi. Otoritas Saudi melaporkan bahwa serangan pada 10 Oktober di bandara Riyadh menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang, sementara pasukan Ansarallah Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan terpisah. Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi juga melaporkan serangan lain pada 11 Oktober yang menyebabkan korban luka serta memicu penilaian kerusakan dan inspeksi keselamatan. Beredarnya video-video rekayasa di samping laporan serangan nyata membuat publik semakin sulit membedakan antara rekaman asli dan disinformasi.
Untuk memverifikasi rekaman konflik, para peneliti merekomendasikan untuk memeriksa kapan video tersebut pertama kali muncul secara daring, melakukan pencarian gambar terbalik (reverse-image search), membandingkan tempat bersejarah dan struktur bangunan dengan foto terverifikasi, serta mencari ketidaksesuaian visual. Alat deteksi AI dan watermark digital dapat memberikan petunjuk tambahan, namun tidak ada satu metode pun yang bersifat konklusif. Temuan DW menegaskan bagaimana rekaman yang didaur ulang atau dihasilkan oleh AI dapat menyesatkan jutaan orang, memutarbalikkan pemahaman publik, dan memperuncing ketegangan di masa perang. Pengguna media sosial diimbau untuk memverifikasi video melalui pelaporan yang kredibel sebelum membagikannya sebagai bukti serangan.
πππΊπ―π²πΏ: π§π π π‘π²ππ π‘π²πππΌπΏπΈ
