Demonstran di Azerbaijan membentangkan poster protes menolak pembatasan dan larangan hijab di sekolah.

Protes pecah di Azerbaijan menyusul amandemen yang disetujui pemerintah terkait pembatasan aturan berpakaian di sekolah yang secara efektif menghalangi siswi dan guru untuk mengenakan hijab. Meskipun kebijakan tersebut tidak secara eksplisit melarang kerudung Muslim, aturan itu melarang pakaian yang dianggap otoritas bertentangan dengan “prinsip sekularisme.” Pembatasan ini memicu kemarahan publik di negara yang sekitar 96% populasinya adalah Muslim, disertai laporan aksi pemboikotan kelas, konfrontasi emosional di sekolah-sekolah, hingga aksi mogok makan oleh jurnalis yang dipenjara, Polad Aslanov, yang menuduh otoritas melanggar hak-hak konstitusional.

Gelombang penolakan juga meluas ke Turki, di mana para demonstran berkumpul di luar konsulat Azerbaijan di Istanbul, membandingkan pembatasan tersebut dengan “kudeta pascamodern” tahun 1997 di Turkiβ€”ketika perempuan yang mengenakan kerudung menghadapi diskriminasi dari universitas dan tekanan di layanan publik. Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev secara tidak langsung mengkritik Turki atas protes tersebut, memperingatkan agar tidak ada upaya untuk “mencampuri gaya hidup kami.” Sementara itu, perselisihan ini semakin memanaskan perdebatan mengenai kebebasan beragama, hak-hak konstitusional, dan posisi pakaian Islami di lembaga-lembaga publik, di tengah tanda tanya terkait penegakannya serta apakah tekanan publik yang terus meningkat akan memicu pembatalan kebijakan tersebut.


π˜€π˜‚π—Ίπ—―π—²π—Ώ: 𝗧𝗠𝗝 π—‘π—²π˜„π˜€ π—‘π—²π˜π˜„π—Όπ—Ώπ—Έ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *