Tangkapan layar analisis video geopolitik mengenai perang Yaman dan posisi strategis Bab el-Mandeb.

Oleh Kevork Almassian

Transkrip video:

Eskalasi terbaru Arab Saudi di Yaman harus dilihat dalam konteks perang agresi bersama AS-Israel terhadap Iran. Yaman bukanlah sembarang negara di kawasan ini. Yaman dijuluki Asl al-Arab, yang berarti asal-usul bangsa Arab.

Inilah tempat dari mana bangsa Arab menyebar ke seluruh Timur Tengah dan Afrika Utara. Dan yang paling penting, dalam konteks perang regional yang terjadi baru-baru ini di kawasan, Yaman menguasai salah satu titik himpit (choke point) geoekonomi terpenting di dunia, yaitu Teluk Aden dan Bab el-Mandeb. Arab Saudi, UEA, dan negara-negara regional lainnya, termasuk Israel, telah mencoba mencabut pengaruh ekonomis dari Poros Perlawanan (Axis of Resistance) dalam 10 tahun terakhir.

Arab Saudi dan negara-negara lain di kawasan ini telah membunuh ratusan ribu warga Yaman selama dekade terakhir dan mereka gagal. Hari ini, Arab Saudi mengaktifkan Pakta Makkah dan mengundang Turki serta Pakistan untuk bergabung dalam perang melawan Ansarallah atau melawan Yaman. Apakah mereka akan berhasil atau tidak? Ini adalah pertanyaan untuk ke depannya.

Namun salah satu pertanyaan yang saya lihat di media sosial—yang saya yakini sangat layak untuk dibahas atau ditanyakan—adalah: rakyat Palestina telah mengalami salah satu bencana kemanusiaan terburuk dalam tiga tahun terakhir. Puluhan ribu warga Palestina dibunuh oleh pasukan pendudukan Israel. Arab Saudi mengklaim sebagai pembela perjuangan Arab dan Islam.

Namun demikian, Arab Saudi tidak pernah memberikan dukungan nyata bagi rakyat Palestina dalam cita-cita mereka untuk meraih kenegaraan, kedaulatan, kebebasan, dan pembebasan dari pasukan pendudukan. Mengapa demikian? Mengapa Arab Saudi dalam setiap konflik geopolitik selalu menempatkan dirinya di sisi Amerika Serikat dan Israel? Apakah itu hanya kebetulan? Dan apa yang terjadi jika Ansarallah unggul dalam perang ini? Apa yang terjadi jika Dinasti Saud (House of Saud) runtuh di Riyadh? Saya pikir jawabannya sudah jelas. Keseimbangan kekuatan geopolitik akan bergeser secara drastis menguntungkan Poros Perlawanan.

Oleh karena itu, Arab Saudi, Israel, dan Amerika Serikat, melihat perang yang sedang berlangsung di Yaman dan Iran saat ini sebagai pertaruhan eksistensial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *