𝗢𝗹𝗲𝗵 𝗗𝗿. 𝗨𝘀𝘁𝗮𝘇 𝗠𝘂𝗵𝘀𝗶𝗻 𝗟𝗮𝗯𝗶𝗯
Pesawat maskapai Mahan Air asal Iran mendarat di selatan Tiongkok pada hari Rabu, menurut data pelacakan penerbangan, yang secara langsung menantang ultimatum terbaru dari Washington yang mengancam akan memutus akses entitas asing mana pun yang melayani pesawat Iran dari sistem dolar AS global.
Penerbangan yang terpantau melalui FlightRadar24, tetapi tidak tercantum dalam jadwal resmi Bandara Guangzhou Baiyun, menjadi gambaran bahwa aktivitas tertentu tetap berlangsung di tengah tekanan Amerika. Washington boleh mengancam, tetapi ancaman tidak otomatis membuat dunia bertekuk lutut.
Amerika sedang menghadapi persoalan yang lebih serius daripada sekadar penerbangan yang luput dari jadwal publik. Di bawah Donald Trump, politik luar negerinya dipenuhi gertakan, tekanan, dan retorika konfrontatif. Seorang pemimpin yang gemar mempertontonkan kekuasaan justru mempertaruhkan kredibilitas negaranya sendiri ketika ancaman demi ancaman tidak menghasilkan kepatuhan yang diharapkan.
Trump, dengan gaya kepemimpinan yang oleh para pengkritiknya disebut narsistik, telah menjadikan politik Amerika panggung bagi ego dan pertunjukan kekuasaan. Kontroversi yang membayangi dirinya, termasuk persoalan yang berkaitan dengan Jeffrey Epstein, semakin memperkeras kritik terhadap kepemimpinannya. Namun, tuduhan pidana harus dibedakan dari fakta yang telah terbukti.
Kekuasaan yang terus-menerus mengandalkan gertakan pada akhirnya harus berhadapan dengan kenyataan: dunia bukan halaman belakang Amerika, dan umat manusia bukan sekumpulan orang yang bisa diperintah hanya dengan ancaman.
