Perbandingan visual Raja Yordania Abdullah II dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian saat berpidato di podium Majelis Umum PBB.

𝗢𝗹𝗲𝗵 𝗗𝗿. 𝗨𝘀𝘁𝗮𝘇 𝗠𝘂𝗵𝘀𝗶𝗻 𝗟𝗮𝗯𝗶𝗯

Di Sidang Umum PBB, dua pemimpin berdiri di podium yang sama, tetapi membawa cerita yang sama sekali berbeda. Raja Abdullah II datang sebagai pewaris takhta Hasyimiyah, dengan mahkota yang diterimanya melalui garis dinasti. Masoud Pezeshkian datang sebagai presiden yang memperoleh jabatan melalui pemilihan. Yang satu mewarisi kekuasaan. Yang lain harus datang kepada rakyat untuk mendapatkannya.

Abdullah berbicara tentang Palestina, Gaza, hukum internasional, dan penderitaan rakyat Palestina, tetapi tetap berdiri sebagai raja yang negaranya memiliki hubungan strategis erat dengan Washington. Pezeshkian berbicara dari Iran, negara yang menghadapi ancaman perang secara langsung. Ia tidak datang ke podium untuk menikmati dinginnya AC, bertukar basa-basi diplomatik, lalu pulang dengan kalimat-kalimat aman. Ia datang membawa luka bangsanya.

Pezeshkian berbicara keras dan tanpa basa-basi. Ia membawa foto Ayatullah Ali Khamenei dan foto anak-anak Iran yang tewas dalam serangan. Ia membawa cerita tentang perang, kematian, penderitaan, dan ancaman yang benar-benar dihadapi bangsanya. Ia tidak berbicara seperti orang yang sedang mencari perlindungan dari kekuatan besar. Ia berbicara seperti orang yang sudah menerima kemungkinan harus menanggung penderitaan demi mempertahankan negaranya.

Ia tidak datang untuk meminta restu. Ia tidak datang karena berutang budi kepada Washington atau kepada kekuatan mana pun. Ia datang dengan sikap bahwa Iran berhak menentukan nasibnya sendiri. Jika ancaman datang, Iran akan melawan. Jika serangan datang, akan ada pembalasan. Jika penderitaan harus ditanggung, penderitaan itu akan ditanggung. Yang tidak akan diterima adalah tunduk.

Di sinilah kontras kedua pemimpin itu menjadi tajam. Abdullah membawa mahkota, sejarah dinasti, dan hubungan strategis dengan Barat. Pezeshkian membawa luka, korban, kemarahan, dan tekad sebuah bangsa. Abdullah berdiri sebagai raja karena garis takhta. Pezeshkian berdiri sebagai presiden karena mandat elektoral, tetapi yang ia bawa ke podium bukan sekadar angka hasil pemilu. Ia membawa cerita bangsanya yang sedang terluka.

Pezeshkian juga tidak merasa perlu menyamarkan identitasnya agar nyaman bagi siapa pun. Meskipun mampu berbicara dalam bahasa Inggris dan Arab, ia memilih tampil dengan bahasa dan simbol bangsanya sendiri. Ia membawa wajah pemimpin yang dihormatinya dan wajah anak-anak yang menjadi korban. Ia tidak datang untuk memperindah citra Iran di hadapan dunia. Ia datang untuk mengatakan apa yang ingin dikatakannya sebagai seorang Iran.

Karena itu, podium PBB memperlihatkan dua cara yang sangat berbeda dalam membawa kekuasaan. Yang satu datang dari takhta yang diwariskan. Yang lain datang dari sebuah negara yang sedang menghadapi ancaman dan telah memilih untuk menerima kemungkinan penderitaan. Yang satu membawa simbol kerajaan. Yang lain membawa luka perang.

Dan pada akhirnya, pesan Pezeshkian bukan tentang kenyamanan, bukan tentang mencari restu, dan bukan tentang meminta izin kepada kekuatan besar. Pesannya adalah bahwa Iran boleh diserang, Iran boleh menderita, bahkan Iran boleh dipaksa membayar harga yang sangat mahal. Tetapi kedaulatannya tidak untuk dijual, tidak untuk dinegosiasikan di bawah ancaman, dan tidak untuk ditentukan oleh orang lain.

Iran tidak akan tunduk. Tidak kepada ancaman, tidak kepada bom, tidak kepada tekanan, dan tidak kepada siapa pun yang menganggap kedaulatan Iran dapat ditentukan dari luar Iran. Kedaulatan bukan hadiah dari kekuatan besar. Kedaulatan adalah hak yang dipertahankan, sekalipun harga yang harus dibayar adalah penderitaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *