Foto pengamat geopolitik dengan latar belakang peta wilayah konflik Yaman dan fasilitas minyak Arab Saudi.

𝗢𝗹𝗲𝗵 𝗧𝗲𝗻𝗴𝗸𝘂 𝗭𝘂𝗹𝗸𝗶𝗳𝗹𝗶 𝗨𝘀𝗺𝗮𝗻

Krisis yang dihadapi Arab Saudi saat ini adalah krisis eksistensial, hanya karena dia salah langkah dalam beberapa keputusan geopolitik.

Stephen A Cook, penulis pada majalah Foreign Policy, seorang pakar geopolitik yang fokus dalam isu kebijakan AS di Timur Tengah, yang juga pakar urusan Timur Tengah, Turki, dll. menyebut ada 3 faktor kesalahan Arab Saudi dalam konflik di Yaman.

  • Arab Saudi melakukan serangan udara duluan pada pertengahan Juli lalu, yang sekaligus mengakhiri gencatan senjata dengan Ansarallah yang sudah berjalan 4 tahun.
  • Perselisihan Arab Saudi dengan UAE di Yaman, yang dulunya bersekongkol menginvasi Yaman, kemudian saling bunuh antar sesamanya, UAE akhirnya cabut dari Yaman.
  • Arab Saudi terlalu bergantung kepada AS, Arab Saudi sangat berharap AS membantu urusan keamanan Saudi dan kebijakan politik luar negerinya soal Yaman.

Kalau kita lihat secara keseluruhan saat ini, Arab Saudi mengalami dilema, mirip seperti dilema AS dalam perang Iran. Mau maju mentok, mau mundur kena risiko.

Jika Arab Saudi terus maju melawan Ansarallah Yaman, maka semua fasilitas energi dan minyak Arab Saudi akan diserang oleh rudal balistik Yaman, lebih jauh, kota-kota besar di Arab Saudi akan kena serangan drone dan balistik yang akan mengakibatkan kerugian besar.

Jika Saudi mundur dan membuka blokade terhadap Yaman, maka Ansarallah akan semakin kuat, plus Mohammed bin Salman akan terlihat kalah dan lemah di depan rival-rivalnya dalam kerajaan Saud sendiri yang sudah lama muak melihat bin Salman berkuasa.

Maka untuk menyikapi hal ini, Saudi mengambil langkah propaganda untuk menjelek-jelekkan Ansarallah dengan isu bahwa mereka menyerang Mekkah dan Madinah. Ini berita usang palsu yang sering dikumandangkan Saudi untuk mencari simpati dunia.

AS dan negara-negara Teluk menekan dunia Islam lainnya dengan media yang mereka miliki, untuk memframing bahwa Ansarallah benar-benar menyerang Mekkah dan Madinah.

Saluran media barat dan media Arab termasuk Al-Jazeera Qatar, terus-menerus memberitakan bahwa Mekkah dan Madinah diserang Ansarallah.

Banyak pemimpin dunia juga langsung mengecam Ansarallah seolah-olah mereka benar menyerang Mekkah dan Madinah. Termasuk pemimpin Malaysia Anwar Ibrahim. Ini semua dimobilisasi oleh AS dan sekutunya di dunia untuk memojokkan Ansarallah. Ini sangat memalukan dan menggelikan.

Bukan hanya pemimpin dunia yang dimobilisasi, tapi ulama-ulama bayaran, buzzer, influencer, institusi seperti OKI, dll. Bahkan sampai lembaga pendidikan seperti Al-Azhar Mesir ikutan menyerang Ansarallah dan menuduh mereka menyerang Mekkah dan Madinah. Ini semua by design oleh AS dan media-media pro-koalisi AS-Israel di Teluk.

Ancaman eksistensial yang sedang dialami Saudi saat ini bisa mengancam kerajaan Saudi itu sendiri jika salah langkah terus berlarut. Arab Saudi saat ini tidak memiliki teman yang mau membantu konflik di Yaman. Sama seperti AS dan Israel yang tidak punya teman yang mau membantu perang dengan Iran.

Tapi AS adalah aktor yang rasional, dia memilih pintu belakang dan mengajak Ansarallah berdamai. AS tau, kemajuan Ansarallah di Yaman tidak akan bisa dibendung. AS memilih pragmatis dan bertemu Ansarallah di Oman.

Bagi AS, yang paling penting adalah Bab al-Mandab tidak mengancam kepentingan mereka, karena China sangat berkepentingan di Bab al-Mandab selain Arab Saudi. Jika China mendominasi dan berpengaruh ke Ansarallah, maka AS akan mengalami kerugian. Dalam konteks ini, AS lebih memilih negosiasi dengan Ansarallah.

Tapi secara geopolitik, AS bernegosiasi dengan Ansarallah justru memperkuat posisi Ansarallah itu sendiri di Yaman. AS tidak peduli dengan Saudi dan negara Teluk pada dasarnya, AS hanya peduli dengan nasib mereka di Bab al-Mandab yang saat ini dikuasai Ansarallah.

Konflik dengan Ansarallah membuka mata dunia bahwa, negara negara Arab adalah singa kertas yang lemah tak berdaya tanpa AS. Bahkan jika tanpa bantuan dan payung keamanan AS, kerajaan Arab Saudi bisa hancur dalam satu malam di tangan Ansarallah dan Iran.

Negara-negara Arab yang manjadi aliansi Israel dan AS pada dasarnya adalah negara kecil dan lemah. Bahkan jika penduduk asli Saudi digabung dengan penduduk asli UAE, Bahrain, Kuwait, dan Qatar, jumlahnya masih belum bisa menyamai jumlah penduduk Yaman.

Kerajaan-kerajaan monarki Arab sebenarnya hanya memikirkan eksistensi dan kekuasaan mereka agar langgeng, mereka tidak peduli soal Islam, dunia Islam, atau nasib Palestina. Hanya orang idiot yang masih berharap Saudi mendukung kemerdekaan Palestina.

Saya sering menulis atau menyampaikan dalam seminar, bahwa runtuhnya monarki-monarki Arab yang berafiliasi dengan Israel adalah syarat primer faktor kemerdekaan Palestina.

Negara-negara monarki Arab terutama Arab Saudi pada dasarnya adalah pendukung Israel, penjaga Israel, takut dengan Israel dan AS, dan lebih mengutamakan kelanggengan kekuasaan kerajaan daripada isu Islam dll. Sekali lagi, hanya orang idiot yang tak paham fakta di lapangan yang masih berharap negara-negara Arab mendukung Palestina merdeka.

AS saat ini terjebak di Bab al-Mandab, sama seperti nasib mereka di selat Hormuz, jika Bab al-Mandeb juga dikuasai mutlak oleh sekutu Iran, maka AS akan semakin merasakan kerugian lebih besar secara geopolitik, maka AS tidak malu-malu mengajak Ansarallah damai.

Kemampuan Ansarallah menembak jatuh pesawat tempur canggih Saudi buatan AS F-15 adalah contoh lain, bagaimana tidak efektifnya kekuatan AS melindungi Arab Saudi. Ini sekaligus mengubah kaidah perimbangan dan permainan di lapangan (Taghayyar Qawaid Al Lu’bah Al Maydaniyah).

Di depan Saudi saat ini tidak banyak pilihan, melanjutkan perang dengan Ansarallah yang akan membuat kerajaan mereka terancam, atau mangaku kalah dan menerima kenyataan bahwa Ansarallah menguasai Yaman.

Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya saat ini tidak punya banyak pilihan, saat semua sekutu mereka seperti AS dan Israel, bahkan Pakistan dan Turki tidak ada yang mau bertempur melawan Ansarallah yang disokong oleh Iran.

Walaupun saat ini Saudi mendapatkan dukungan intelijen dari Israel dan AS, itu semua tidak mengubah kondisi di lapangan, bahwa Ansarallah tidak bisa dikalahkan dan dipukul mundur dari Yaman. AS dan Israel belajar dari perang Iran 40 hari, melanjutkan konfrontasi dengan Ansarallah hanyalah buang-buang waktu dan mengalami kerugian lebih besar secara geopolitik bahkan secara domestik mereka sendiri.

Ansarallah saat ini dengan bekingan yang kuat dari Iran dan IRGC, telah memobilisasi lebih dari 70.000 petempur sandal jepit mereka, siap menghadapi segala skenario yang akan dijalankan Saudi dengan dukungan AS, Israel. dll.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *