Foto bersejarah tahun 1916 memperlihatkan Abdulaziz Al Saud bersama Percy Cox dan Gertrude Bell di Basra.

Melansir Turkinesia, sebuah foto langka bertahun 1916 menampilkan Abdulaziz Al Saud bersama mata-mata legendaris Inggris, Gertrude Bell, dan Penguasa Inggris untuk Teluk Arab, Percy Cox, di tengah kecamuk Perang Dunia I.

Bagi yang belum tahu, berikut beberapa fakta penting di baliknya:

  • Percy Cox: Dialah sosok yang mengawasi pendudukan seluruh wilayah keamiran di Teluk, mulai dari Oman, Bahrain, Kuwait, hingga Qatar. Puncaknya adalah invasi Inggris ke Irak, di mana Cox ditunjuk sebagai komisaris tinggi pendudukan. Dialah arsitek yang menggambar garis perbatasan Irak, Kuwait, dan Arab Saudi, membentuk negara-negara Teluk seperti yang kita kenal sekarang, serta melantik para penguasanya—termasuk Raja Faisal (putra Syarif Hussein) di Irak dan Ibnu Saud di Najd.
  • Gertrude Bell: Agen rahasia perempuan yang bertugas menyusup dan memahami peta sosiologis masyarakat Arab di Najd dan Irak. Sebagai penasihat sekaligus kepala kantor Percy Cox, ia punya andil besar dalam mendirikan Kerajaan Irak dan menjalin hubungan yang sangat dekat dengan berbagai syekh serta emir di kawasan tersebut.

Pertemuan ini sebenarnya bertujuan untuk menggalang dukungan Abdulaziz agar mengerahkan pasukannya demi menyokong Inggris menginvasi Irak, sekaligus menggempur Kekhalifahan Utsmaniyah (Ottoman) dan sekutunya, Dinasti Al-Rasyid di Hail. Peran ini dijalankan dengan mulus oleh Ibnu Saud. Sebagai imbalannya, ia menerima sokongan dana sebesar £5.000 serta pasokan senjata (salah satu pengiriman terbesarnya tiba pada Juni 1916).

Langkah ini diambil Inggris setelah mereka mengalami rentetan kekalahan memalukan dari pasukan Utsmaniyah di Irak. Situasi kian pelik bagi Inggris karena kaum Syiah Irak di bawah komando ulama besar mereka (seperti Muhammad Kazim al-Yazdi) menolak keras bekerja sama dengan Inggris. Para ulama tersebut justru mengeluarkan fatwa jihad melawan penjajahan Inggris dan menyerukan rakyat untuk bertempur di bawah bendera Kekhalifahan Utsmaniyah.

Catatan:

  • Foto tersebut nyata. Pertemuan terjadi pada akhir tahun 1916 ketika Ibnu Saud mengunjungi Basra (yang saat itu diduduki Inggris) atas undangan Sir Percy Cox. Gertrude Bell juga hadir di sana.
  • Peran Percy Cox & Gertrude Bell: Faktanya memang demikian. Percy Cox adalah arsitek utama perbatasan Timur Tengah (terutama pada Protokol Uqair 1922). Gertrude Bell memang bertindak sebagai Oriental Secretary yang sangat berpengaruh dalam pembentukan negara Irak modern dan penobatan Raja Faisal.
  • Sokongan Dana & Senjata: Inggris memang menyuplai Ibnu Saud dengan uang senilai £5.000 per bulan dan senjata. Ini diatur secara resmi dalam Perjanjian Darin (1915), di mana Inggris mengakui kekuasaan Ibnu Saud dengan imbalan Ibnu Saud bersedia memerangi Dinasti Al-Rasyid (sekutu Kekhalifahan Utsmaniyah).
  • Fatwa Jihad Syiah Irak: Ini akurat. Meskipun kaum Syiah Irak memiliki ketegangan sejarah dengan Kekhalifahan Utsmaniyah yang Sunni, ketika Inggris menginvasi, ulama marja’ seperti Ayatollah Muhammad Kazim al-Yazdi mengeluarkan fatwa membela tanah air dan mendukung Utsmaniyah melawan pasukan sekutu (Inggris).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *