๐๐ฎ๐ ๐๐๐ง ๐๐ฎ๐ฅ๐๐ข๐ฆ๐๐ง ๐ญ๐๐ซ๐ฎ๐ฌ ๐๐๐ซ๐ฃ๐ฎ๐๐ง๐ ๐๐๐ฆ๐ข ๐ค๐๐๐๐๐๐ฌ๐๐ง ๐ฉ๐ฎ๐ญ๐ซ๐ข ๐ฆ๐๐ซ๐๐ค๐, ๐ฅ๐ข๐ฆ๐ ๐๐ฎ๐ฅ๐๐ง ๐ฉ๐๐ฌ๐๐ ๐ฉ๐๐ง๐๐ฎ๐ฅ๐ข๐ค๐๐ง๐ง๐ฒ๐ ๐๐๐ซ๐ข ๐๐ง๐ข๐ฏ๐๐ซ๐ฌ๐ข๐ญ๐๐ฌ ๐๐๐ญ๐๐ค๐ข๐ ๐จ๐ฅ๐๐ก ๐ฌ๐๐จ๐ซ๐๐ง๐ ๐ฉ๐๐ฃ๐๐๐๐ญ ๐ค๐๐๐ฆ๐๐ง๐๐ง ๐๐ฎ๐ซ๐ข๐๐ก ๐๐๐ซ๐ง๐๐ฆ๐ ๐๐๐ข๐ญ๐ก๐๐ฆ ๐๐๐๐๐ฌ, ๐ฒ๐๐ง๐ ๐ฃ๐ฎ๐ ๐ ๐๐ข๐ค๐๐ง๐๐ฅ ๐ฌ๐๐๐๐ ๐๐ข ๐๐ก๐๐ข๐ค๐ก ๐๐๐ฅ๐๐ก
Hampir lima bulan setelah penculikan dan perbudakan seksual terhadap seorang wanita muda Alawi bernama Batoul Alloush oleh seorang pejabat tinggi keamanan Suriah, orang tuanya terus berjuang demi kebebasannya.
“Segala hal yang terjadi adalah penculikan, penghilangan paksa, dan manipulasi fakta. Kami tidak akan tinggal diam atas hak-hak kami, dan kami akan terus berjuang sampai putri kami kembali dengan selamat ke pelukan kami,” ujar Rua, ibu Batoul, kepada The Cradle.
Suleiman dan Rua memberikan wawancara mendalam kepada The Cradle, membeberkan rincian baru seputar penculikan putri mereka, pejabat keamanan Suriah yang bertanggung jawab di baliknya, serta berbagai ancaman dan intimidasi yang mereka hadapi saat berjuang demi pembebasannya.
Penculikan Batoul
Rua menceritakan kepada The Cradle hari ketika putrinya diculik. Batoul melakukan perjalanan dari rumah orang tuanya ke Universitas Latakia untuk menghadiri kuliah pada hari Rabu, 29 April.
Pukul 13:17, Batoul mengirim pesan kepada ibunya melalui WhatsApp bahwa ia meninggalkan universitas untuk pulang ke desa mereka di pedesaan Jableh menggunakan bus. Ia membawakan obat untuk ibunya yang dibelinya di kota Latakia.
“Begitu saya naik bus universitas, saya akan berbicara dengan Anda, dan begitu saya meninggalkan universitas dan naik bus di depan Gerbang Industri [universitas], saya akan menelepon Anda,” kata Batoul kepada ibunya.
Namun, komunikasi dengan Batoul segera terputus. Rua mencoba menelepon ponselnya berkali-kali, tetapi terus berdering hingga terputus tanpa jawaban. Tak lama kemudian, ponsel tersebut dimatikan.
“Hati saya terasa runtuh,” tutur Rua, “karena putri saya tidak pernah mematikan ponselnya. Kami selalu berkomunikasi.”
Pencarian Batoul
Rua dan Suleiman segera mencari putri mereka. Mereka berkendara di jalan raya utama di sepanjang pesisir Suriah dan menyisir rumah sakit umum, khawatir ia mengalami kecelakaan mobil atau bus.
Rua juga menelepon teman-teman Batoul untuk menanyakan apakah ada yang tahu apa yang menimpanya. Salah satu teman Batoul menyuruh Rua untuk berbicara dengan pengelola asrama putri di universitas, seorang pria bernama Yassir Khalifa.
Yassir Khalifa mengirim pesan suara kepada Rua yang menyatakan bahwa ia mendapat kabar dari para pejabat keamanan bahwa Batoul tidak diculik, melainkan berada di Jableh, sebuah kota di pesisir Suriah yang terletak 30 menit di sebelah selatan Latakia.
“Saudari, gadis ini berada di kota Jableh.” Hanya itu yang mereka beritahu kepada saya. Maksud saya, mereka bahkan tidak membagikan lokasi persisnya kepada saya, ini adalah masalah keamanan, oke?” kata Yassir kepada Rua.
Rua merasa bingung. Ia mengatakan kepada Yassir bahwa tidak masuk akal jika Batoul pergi ke Jableh, tempat di mana ia tidak memiliki teman atau kerabat.
“Yassir Khalifa memberi tahu saya hanya tiga jam setelah ia menghilang bahwa putri saya tidak diculik. Bagaimana ia bisa mengetahuinya?” kata Rua kepada The Cradle.
Namun, dengan menyebut keberadaan Batoul di Jableh sebagai “masalah keamanan,” Yassir Khalifa secara tidak langsung mengungkap bahwa para pejabat keamanan di kota tersebut sedang menahannya, yang sekaligus membantah klaim-klaim berikutnya bahwa ia kabur bersama dua temannya.
Keesokan harinya, Kamis 30 April, Rua dan Suleiman langsung pergi ke Latakia untuk membuat laporan kepolisian.
“Jam-jam itu terasa seperti bertahun-tahun. Mereka terus mengulur waktu kami selama seminggu penuh, berdalih bahwa itu urusan Departemen Investigasi Jableh atau Departemen Investigasi Latakia,” ucap Rua.
Beberapa hari kemudian, pada tanggal 4 Mei, Rua dan Suleiman mendatangi Universitas Latakia dan meminta pihak pengelola menunjukkan rekaman CCTV dari gerbang kampus untuk melihat bagaimana Batoul meninggalkan universitas sebelum ia menghilang.
Pihak pengelola menunjukkan rekaman saat Batoul memasuki gerbang universitas, tetapi secara aneh menolak memperlihatkan rekaman saat ia keluar dari gerbang dengan alasan “melanggar hukum.”
โMisteriโ Berada pada Sheikh Salah
Kendati demikian, rektor universitas, Sheikh Abu Sumer, mengatakan kepada mereka bahwa “masalah putri Anda dan misteri di sekitarnya” berada di tangan seorang pejabat keamanan bernama Haitham Ahmad Abbas, yang juga dikenal sebagai Sheikh Salah al-Din, yang tinggal di sebuah vila di kawasan corniche dekat laut di Jableh.
Sheikh Salah sebelumnya adalah seorang komandan di Front al-Nusra, kelompok afiliasi Al-Qaeda yang menggulingkan pemerintah Suriah pada Desember 2024. Kini, ia menjabat sebagai pejabat keamanan tertinggi di Jableh.
Rua dan Suleiman langsung kembali ke Jableh dan mendatangi kawasan corniche untuk mencari informasi tentang Sheikh Salah serta menemukan putri mereka.
Namun, penjaga bersenjata lengkap dan anjing-anjing pengawal mengepung vila tersebut dan melarang Suleiman serta Rua masuk. Mereka meninggalkan nomor telepon kepada para penjaga dan meminta agar Sheikh Salah menghubungi mereka.
Malam harinya, asisten Salah, seorang pejabat keamanan bernama Sheikh Abu Hammam, menghubungi Rua dan Suleiman melalui telepon.
Rua mengatakan kepada pria itu bahwa mereka sedang mencari putri mereka yang hilang. “Bayangkan ibu Anda berada di posisi saya. Mengapa syekh di universitas mengatakan misteri putri saya ada pada Sheikh Salah? Itu artinya kalian tahu di mana putri saya berada. Kalian tahu siapa yang menculik putri saya,” kata Rua kepada Abu Hammam.
Pria itu menyuruhnya agar tidak khawatir dan berjanji akan menyelidiki masalah tersebut.
“Pada saat itu, saya menyadari bahwa saya sedang berbicara dengan sang penculik. Putri saya berada di vila Sheikh Salah,” ungkap Rua kepada The Cradle.
Keesokan paginya, Abu Hammam bersama seorang syekh lainnya, Abu Nadim, mengunjungi orang tua Batoul di rumah mereka. Keduanya memberikan jaminan palsu bahwa mereka akan membantu melacak keberadaan Batoul, meskipun jelas terlihat bahwa mereka tahu Batoul berada bersama Sheikh Salah.
Yang penting, para syekh tersebut dengan tegas memperingatkan Rua dan Suleiman agar tidak membagikan apa pun di media sosial mengenai kasus Batoul atau mempublikasikannya dengan cara apa pun.
Upaya Penutupan di Media Sosial
Selama setahun terakhir, laporan-laporan beredar luas di media sosial yang mengindikasikan bahwa lebih dari seratus perempuan dan gadis Alawi telah diculik dan dipaksa menjadi budak seksual oleh kaum ekstremis Sunni yang terkait dengan pasukan keamanan.
Laporan-laporan ini bermula setelah pembantaian mengerikan yang dilakukan oleh pasukan keamanan dan faksi bersenjata ekstremis sekutu terhadap kaum Alawi di seluruh kawasan pesisir Suriah pada Maret 2025.
Setidaknya 1.600 warga sipil Alawi dibantai hanya dalam kurun waktu tiga hari.
Media asing dan kelompok hak asasi manusia, seperti Reuters, The New York Times, The Cradle, The Spectator, Amnesty International, dan Komisi Penyelidikan PBB, mendokumentasikan puluhan kasus penculikan ini, yang membuat malu pihak berwenang Suriah dan memaksa mereka untuk secara terbuka membantah bahwa penculikan apa pun sedang terjadi.
Pada hari Rabu 6 Mei, Rua dan Suleiman terkejut mendapati sebuah video Batoul viral di media sosial.
Dalam video tersebut, ia mengenakan pakaian Islam berwarna hijau dan penutup kepala (hijab) yang lazim di Afghanistan, bukan di Suriah. Ia berdiri di kawasan corniche di Jableh, dekat vila Sheikh Salah.
Batoul menyatakan dalam video tersebut bahwa ia telah meninggalkan keluarganya dan masuk Islam (mualaf), sehingga memberikan “bukti” bahwa ia tidak diculik.
Namun, video bergaya swafoto di mana para wanita dan gadis Alawi yang hilang tiba-tiba muncul kembali, membantah bahwa mereka diculik, dan mengumumkan kepindahan agama ke Islam bukanlah hal baru.
Para penculik yang memiliki hubungan dengan pemerintahan Suriah yang dipimpin unsur ekstremis menggunakan taktik serupa untuk menutupi penculikan sejumlah wanita Alawi lainnya pada tahun sebelum Batoul menghilang.
The Cradle mendokumentasikan taktik ini dalam kasus empat wanita Alawi: Mira Jalal Thabet, Mai Salim Saloum, Lana Ahmad, dan Nagham Issa.
Yang krusial, Batoul membuat video bergaya swafoto tersebut di kawasan corniche dalam kondisi jelas-jelas berada di bawah kendali seseorang.
“Jika ia benar-benar pergi atas kemauannya sendiri, ia pasti akan menghubungi kami sejak menit pertama dan memberi tahu kami bahwa ia pergi serta menganut keyakinan agama baru,” kata Rua kepada The Cradle.
Sebaliknya, video swafoto Batoul justru muncul setelah orang tuanya tanpa kenal lelah berusaha melacak keberadaannya, mengindikasikan bahwa para penculiknya ingin menciptakan narasi publik palsu bahwa Batoul pergi dari rumah atas kemauannya sendiri.
Rua dan Suleiman mengabaikan peringatan dari kedua syekh yang mendatangi rumah mereka dan membuat video tandingan untuk diunggah ke media sosial guna memohon kepulangan Batoul.
Seperti halnya video Batoul, video mereka menjadi viral di media sosial di Suriah, menjadikan kasus ini sebagai konsumsi publik dan kontroversi besar di negara tersebut.
Suleiman dan Rua Dipanggil ke Pengadilan
Malam harinya, para pejabat di Jableh dari Departemen Keamanan Kriminal menelepon Rua dan Suleiman serta meminta mereka datang ke gedung pengadilan keesokan paginya, Kamis 7 Mei.
Orang tua Batoul menceritakan kepada The Cradle bahwa setibanya di dalam, para pejabat membawa mereka ke ruang interogasi yang dipimpin oleh seorang hakim bernama Sarah Subh.
Pejabat pengadilan langsung menghina mereka karena mengandalkan media sosial untuk memohon kepulangan putri mereka. Seorang petugas keamanan di pengadilan bahkan menyebut Suleiman sebagai “babi” dan istrinya Rua sebagai “pelacur” sebagai respons atas video yang mereka unggah.
Batoul tiba-tiba memasuki ruangan, didampingi oleh dua petugas keamanan. Ia tampak sangat lemah dan dipapah oleh para petugas saat berjalan. Kali ini, ia mengenakan kerudung yang tidak hanya menutupi rambutnya tetapi juga wajahnya, yang dikenal sebagai niqab.
Ketika hakim mulai mencecar Batoul, ia tampak kebingungan mengenai detail-detail peristiwa dan kesulitan menjawab pertanyaan mendasar.
Ketika hakim bertanya bagaimana ia meninggalkan rumah, Batoul menjawab bahwa ia pergi dari universitas, bukan dari rumah. Hakim kemudian bertanya, “Mengapa saat interogasi pagi tadi Anda menyatakan pergi dari rumah?”
Batoul lantas mengatakan bahwa ia menemui dua temannya bernama Rahaf dan Hanin, tetapi ia tidak dapat mengingat siapa yang ditemuinya lebih dulu. Di satu kesempatan ia menyebut Rahaf mengenalkannya kepada Hanin, namun di kesempatan lain ia bilang Hanin yang mengenalkannya kepada Rahaf.
Pada titik ini, Sheikh Salah al-Din tiba-tiba menerobos masuk ke ruang sidang sementara beberapa pengawal keamanannya menunggu di luar. Ia membawa panitera keluar ruangan untuk berbicara. Ketika panitera tersebut kembali, hakim bertanya mengapa ia menuruti perintah Sheikh Salah. Panitera itu menjawab bahwa sang syekh adalah “tuan dan amirnya.”
Hakim tidak mengizinkan Suleiman dan Rua berbicara langsung dengan Batoul atau mengajukan pertanyaan kepadanya, bahkan mengancam akan memasukkan mereka ke penjara jika nekat melakukannya.
Rua dan Suleiman mengatakan kepada The Cradle bahwa Batoul tampaknya mengenakan alat pendengar di telinganya (earpiece) sehingga seseorang bisa mendikte jawaban apa yang harus ia berikan.
Ketika Rua bertanya kepada hakim mengapa Batoul tidak membawa obat yang dimintanya saat dalam perjalanan pulang, Sheikh Salah kembali merangsek masuk ke ruangan. Ia berkata kepada Batoul, “Jika kamu tidak ingin kembali ke keluargamu, maka tidak ada seorang pun yang bisa memaksamu kembali, bukan negara, bukan siapa pun, bukan satu orang pun di muka bumi ini.”
Hakim tampak terintimidasi oleh Salah dan berkata, “Interogasi selesai.”
Orang tua Batoul bertanya kepada hakim mengapa putrinya tidak diizinkan pulang bersama mereka. Berdasarkan hukum Suriah, orang tua bertanggung jawab atas anak perempuan mereka, dan mereka telah mengajukan pengaduan resmi secara hukum yang menuntut kepulangannya.
Hakim menjadi marah dan memperingatkan mereka agar tidak mengajukan pertanyaan lagi, atau Sheikh Salah akan masuk ke ruangan itu lagi.
Suleiman Dipaksa Menyangkal Penculikan Batoul
Usai keluar dari ruang interogasi, orang tua Batoul dikerumuni oleh tiga pejabat keamananโSheikh Abu Alaa, Sheikh Abu Nadim, dan Sheikh Abdul Ghafarโyang mendesak mereka merekam video yang menyatakan bahwa Batoul tidak diculik.
Menanggapi hal itu, Suleiman berkata kepada mereka, “Kembalikan putri saya kepada saya, dan saya akan langsung merekam video untuk kalian.”
Namun, ketiga pria itu mengancam akan membunuhnya jika ia menolak.
Setelah salah satu dari mereka, Sheikh Abdul Ghafar, berjanji bahwa Batoul akan dibebaskan dan dipulangkan tiga hari kemudian pada hari Minggu, Suleiman akhirnya menyetujui pembuatan video tersebut.
“Kami dikelilingi oleh gerombolan orang yang bisa membunuh Anda jika Anda tidak melakukan apa yang mereka inginkan. Saya tidak punya pilihan selain merekam video demi melindungi putri saya,” jelas Suleiman kepada The Cradle.
Kendati demikian, Suleiman mempertegas dalam video tersebut bahwa ia dijanjikan agar Batoul dipulangkan kepada mereka pada hari Minggu.
Seorang jurnalis pro-pemerintah terkemuka, Omar al-Jablawi, hadir untuk merekam video tersebut.
Jablawi sebelumnya pernah mendampingi pasukan keamanan Suriah dan kaum ekstremis Sunni yang melakukan pembantaian di pesisir pada bulan Maret tahun sebelumnya, termasuk di kota Baniyas.
Setidaknya 179 warga sipil Alawi, termasuk 28 wanita dan sembilan anak-anak, dibunuh dengan darah dingin di lingkungan Qasour, Baniyas, tempat tinggal Batoul dan keluarganya.
Fakta bahwa jurnalis Jablawi dibawa ke gedung pengadilan sebelumnya untuk merekam video tersebut mengindikasikan bahwa Sheikh Salah sedang mendalangi kampanye media terorganisir untuk membantah penculikan Batoul.
Video pengakuan Suleiman dirilis keesokan harinya, Jumat 8 Mei, dan dengan cepat viral di media sosial.
Namun, ketika hari Minggu 10 Mei tiba, Sheikh Abdul Ghafar dan para pejabat keamanan lainnya di Jableh menolak menemui Suleiman dan Rua serta mengabaikan janji mereka untuk membebaskan Batoul.
Hal ini mengindikasikan bahwa mereka sejak awal sama sekali tidak berniat memulangkannya dan hanya berjanji demikian demi memaksa Suleiman membuat video yang akan “membuktikan” bahwa Batoul tidak diculik.
Sebagai tanggapan, Suleiman merilis video baru di media sosial, yang kembali menuduh Sheikh Salah dan para pejabat keamanan di Jableh telah menculik Batoul serta membeberkan semua kronologi kejadian yang sebenarnya.
โKonferensi Persโ di Tengah Malam
Kampanye media untuk menyembunyikan penculikan Batoul berlanjut hingga tengah malam keesokan harinya, 11 Mei.
Batoul dibawa ke kantor pemerintahan di Jableh pada pukul 03.00 dini hari untuk mengikuti “konferensi pers” yang disiarkan langsung di Facebook dan dihadiri oleh para pejabat keamanan, jurnalis pro-pemerintah, serta wali kota setempat.
Batoul kembali mengenakan pakaian hitam, mengenakan chador, penutup kepala, dan sarung tangan, meskipun wajahnya tidak ditutupi.
Orang-orang yang berkumpul mulai menginterogasi Batoul, mendesaknya agar menjelaskan bahwa ia tidak diculik.
Menurut seorang aktivis hak asasi manusia yang hadir dalam pertemuan tersebut, George Hamwi, Batoul seharusnya diberikan kesempatan untuk berbicara secara lebih terbuka kepada publik.
Namun, “dalam praktiknya, sebagian besar percakapan tetap dikendalikan oleh salah satu individu yang hadir, yang menangani sebagian besar penjelasan dan tanggapan,” catat Hamwi.
Di luar fakta bahwa Batoul memiliki sedikit kesempatan untuk berbicara, ia juga tampak kebingungan dan tidak yakin dengan jawaban yang ia berikan.
Ketika ditanya mengapa ia tidak mau pulang jika orang tuanya mengizinkannya tinggal dan menjalankan keyakinan barunya sebagai seorang Muslimah Sunni, ia menjawab, “Saya tidak bisa menjawab sekarang, saya harus berpikir.”
Selama pertemuan berlangsung, seorang jurnalis wanita bernama Rayan Hajjareen mendekati Batoul dan berkata, “Bisakah kamu ceritakan tentang apa yang kita bicarakan sebelum kita mulai merekam, bahwa kamu tidak ingin kembali, dan apa yang akan kamu lakukan besok, dan lusa, serta apa rencana kamu?”
Hal ini mengisyaratkan bahwa wanita tersebut telah melatih dan mendikte Batoul tentang apa yang harus dikatakan sebelum pertemuan dimulai.
Tokoh lain yang hadir meliputi jurnalis Omar al-Jablawiโyang merekam video Suleiman di pengadilanโserta jurnalis pro-pemerintah lainnya, Abdul Rahman Talib, yang sebelumnya juga hadir saat pembantaian kaum Druze oleh pemerintah Suriah di Suwayada pada Juli 2025.
Sheikh Abdul Ghaffar, yang sebelumnya berdusta menjanjikan pemulangan Batoul demi meyakinkan Suleiman agar membuat video di pengadilan, turut hadir dalam pertemuan tersebut.
“Mereka adalah sosok-sosok yang mendalangi seluruh sandiwara ini,” kata Suleiman kepada The Cradle.
Di Kawasan Corniche
Kampanye media berlanjut keesokan harinya, Selasa 12 Mei, ketika Batoul muncul dalam video lain di kawasan corniche Jableh yang menyebar di media sosial.
Kali ini, ia bersama seorang influencer media sosial muda Suriah, Zain Badra, yang menyatakan berada bersama Batoul untuk memberikan “pembaruan” terkini mengenai kasusnya.
Batoul kembali mengenakan niqab hitam yang menutupi rambut serta wajahnya.
Berjalan bersama saat matahari terbenam, sang influencer melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang mirip dengan isi pertemuan malam sebelumnya.
Batoul menjawab bahwa kondisinya baik-baik saja, sehat walafiat, telah masuk Islam (mualaf), dan tidak diculik, seolah-olah ia sedang membacakan naskah yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Sejumlah kejanggalan mengindikasikan bahwa video tersebut direkayasa oleh aparat keamanan yang mengendalikan Batoul, catat orang tuanya.
Jika ia benar-benar telah memeluk mazhab Salafi, secara aturan agama hal itu tidak dapat diterima bagi seorang wanita muda lajang untuk berjalan sendirian di tempat umum bersama seorang pria yang bukan mahramnya.
Selain itu, Batoul menyebutkan dalam video tersebut bahwa ia baru saja berbelanja sebelum mengunjungi corniche dan terlihat membawa tas putih dari sebuah toko populer di Jableh.
Menyadari hal tersebut, Suleiman dan Rua mendatangi toko itu untuk menanyakan apakah Batoul benar-benar pernah berbelanja di sana. Mereka memeriksa rekaman kamera pengawas bersama para pegawai toko.
“Hal yang mengejutkan adalah tidak ada seorang wanita pun yang mengenakan niqab memasuki toko pada waktu tersebut. Sebaliknya, para penculiknya sendiri yang datang dan membeli barang-barang itu, menyerahkan tas tersebut kepada putri kami, serta memaksanya membawanya dan berjalan di depan kamera untuk merekayasa adegan tersebut,” ungkap Rua kepada The Cradle.
Suleiman dan Rua menunjukkan bukti tambahan bahwa video itu telah disetting sedemikian rupa.
Batoul dan influencer Zain Badra sempat ditampilkan secara singkat membeli kopi dari seorang pria paruh baya di sebuah kios pinggir jalan. Namun, di bagian sangat akhir video, pria yang sama terlihat sesaat sedang mengarahkan Batoul dan Badra untuk berjalan ke arah lain.
Hal itu mengindikasikan bahwa pria tersebut hanya berpura-pura menjadi penjual kopi demi keperluan pembuatan video dan kemungkinan besar adalah seorang pejabat keamanan yang ditugaskan membantu mengarahkan proses syuting.
“Mereka mengepungnya dari segala penjuruโpara pengawal, personel keamanan, dan orang-orang yang mengawasinya secara ketatโuntuk memastikan ia memainkan peran yang ingin mereka lihat,” tutur Rua.
Orang Tua Batoul Terpaksa Mengungsi
Suleiman menjelaskan kepada The Cradle bahwa ia dan Rua mulai menerima ancaman pembunuhan seketika setelah ia merilis video di media sosial yang mengecam penculikan Batoul.
“Maka kami melarikan diri dari rumah dan bersembunyi, takut dibunuh, hanya karena kami menuntut kepulangan putri kami,” ucap Suleiman kepada The Cradle.
“Dan sekarang kami menuntut kepulangan putri kami serta setiap gadis yang telah diculik di negeri kami.”
Ancaman semacam itu bukanlah hal yang mengejutkan. Dalam kasus wanita Alawi yang diculik sebelumnya, Mira Jalal Thabet, ancaman serupa benar-benar dieksekusi.
Setelah Mira menghilang pada bulan April, ia juga sempat muncul dalam video swafoto mengenakan pakaian bergaya Afghanistan, mengklaim bahwa ia telah masuk Islam dan kabur untuk menikahi seorang pria Sunni.
Namun, ayah Mira terus bersikeras bahwa putrinya telah diculik, dengan menuding para staf institut pelatihan guru di kota Homs tempat Mira menghilang usai mengikuti ujian.
Pada bulan Oktober, setelah sorotan publik terhadap kasus Mira mereda, orang-orang bersenjata yang mengendarai sepeda motor menyerang sebuah tempat cukur milik ayah Mira menggunakan granat dan tembakan senjata api berat.
Serangan itu menewaskan dua pemuda serta melukai ayah dan saudara laki-laki Mira.
Batoul Akhirnya Menghubungi Orang Tuanya
Dua bulan setelah hilangnya Batoul, ia diizinkan berkomunikasi dengan orang tuanya melalui WhatsApp, namun hanya sebatas pesan suara (voice notes) alih-alih panggilan telepon langsung.
Rua menceritakan kepada The Cradle bahwa ia bertanya kepada Batoul, “Mengapa mereka membuatmu berbohong kepada kami?” Namun, Batoul tidak menjawab alasan di balik tindakan tersebut.
Selama pertukaran pesan suara itu, Rua menyatakan kepada Batoul bahwa mereka meyakini ia diculik oleh Sheikh Salah. Kendati demikian, Batoul justru membela pria tersebut secara membabi buta.
Akibatnya, Rua dan Suleiman meyakini bahwa Sheikh Salah telah memperkosa Batoul setelah menculiknya, dan kini putrinya menunjukkan simpati kepada pelaku akibat respons trauma yang dikenal sebagai Stockholm Syndrome.
Rua dan Suleiman menegaskan bahwa adalah hal yang tidak masuk akal jika putrinya secara sukarela berpindah ke aliran Islam ekstrem dan bersimpati kepada mantan anggota kelompok Al-Qaeda, terutamanya mengingat apa yang dialami keluarga mereka selama pembantaian di pesisir pada bulan Maret 2025.
“Semua orang dilanda teror. Saya ingat betul melihat jenazah tetangga-tetangga kami tergeletak di jalanan,” kenang Rua kepada The Cradle.
Teman sekolah Batoul, Zain Issa, tewas dalam pembantaian tersebut bersama kakek dan adik laki-lakinya.
Batoul mengalami tekanan psikologis dan trauma berat hingga menjadi ketakutan pada segala hal.
“Bagaimana Anda bisa percaya bahwa ia akan bergabung dengan orang-orang yang telah membunuh serta mengusir keluarganya dan membakar kotanya?” kata Rua.
Kesimpulan
Kaum perempuan Alawi diculik dan diperkosa di Suriah saat ini karena ideologi pemerintahan yang berkuasaโyang dipimpin oleh mantan pemimpin Al-Qaedaโdidasarkan pada ajaran tokoh Muslim abad pertengahan, Ibnu Taimiyah, yang mendeklarasikan kaum Alawi sebagai kaum murtad yang halal untuk dibunuh, diperbudak, serta dijarah harta bendanya.
“Semoga Tuhan menolong putri kami. Saya berharap ia dan seluruh wanita serta gadis yang diculik dapat kembali ke rumah dengan selamat,” ungkap Suleiman kepada The Cradle, sementara air mata menetes dari kedua matanya.
“Ketika putri saya kembali, saya akan tetap melanjutkan tuntutan agar setiap orang yang diculik dikembalikan.”
Sumber: tulisan ini diterjemahkan dan disarikan dari laporan investigasi The Cradle dalam artikel berjudul “Parents of Batoul Alloush detail daughter’s kidnapping, enslavement byย Syrian security official”
