๐ผ๐ก-๐ฝ๐ช๐ ๐๐๐๐ฉ๐: “๐๐๐ฃ๐๐๐ฉ๐ ๐ ๐๐ข๐ ๐๐ช๐ ๐๐ฃ ๐๐๐ง๐ ๐๐ง๐๐ฃ. ๐๐๐ง๐๐ ๐ ๐๐๐ง๐๐จ๐๐ก ๐๐๐ง๐ ๐๐ช๐๐๐ฃ๐ ๐ข๐๐ก๐๐ฉ๐๐ง ๐๐๐ช๐๐.”
๐ข๐น๐ฒ๐ต ๐ฆ๐๐ฒ๐ฑ ๐ . ๐๐ฏ๐ฏ๐ฎ๐
Narasi Barat selalu menyebutkan bahwa Ansarallah adalah proksi Iranโdipersenjatai, didanai, dan dikendalikan oleh Teheran. Faktanya, Ansarallah secara ironis “dipersenjatai” oleh Arab Saudi, militer yang sama yang telah membombardir mereka selama dua belas tahun. Bagaimana mungkin bisa terjadi?
Bukti Nyata di Medan Perang
Ketika Ansarallah merebut pesisir pantai barat, mereka merampas perlengkapan militer yang setara dengan 30 brigade. Kendaraan lapis baja Oshkosh buatan Amerika. Kendaraan lapis baja Nimr. Tank-tank. Artileri. Rudal anti-tank Kornet dan TOW. Ratusan kendaraan roda empat yang dilengkapi senjata menengah dan sistem pertahanan udara.
Saat mereka menyerbu Kamp Khalid bin Walid, mereka menyita senjata-senjata milik 13 brigade di bawah komando Tariq Saleh. Ketika mereka merebut kamp pelatihan Divisi Siaga Keenam di Jizan, mereka menguasai apa yang ditinggalkan oleh pasukan Saudi. Saat mereka memasuki Taiz, mereka menemukan lebih banyak lagi.
Militer Saudi adalah importir senjata terbesar di dunia. Tahun lalu, mereka menghabiskan 83 miliar dolar untuk membeli senjata. Mereka memiliki pesawat jet F-15 buatan Amerika, Typhoon buatan Inggris, artileri Prancis, dan komponen asal Jerman. Dan mereka terus menerus kehilangan semua itu dari Ansarallah.
Senjata yang menewaskan tentara Saudi adalah senjata-senjata milik Saudi sendiri. Rudal-rudal yang menghantam Riyadh diarahkan menggunakan teknologi Saudi. Drone-drone yang membakar fasilitas Aramco diterbangkan menggunakan komponen Saudi.
Tentara Bayangan dan Pasukan Bayaran yang Menyerah
Militer Saudi bukanlah militer yang sesungguhnya. Itu hanyalah daftar gaji. Mereka memiliki “tentara bayangan”โnama-nama di atas kertas yang menerima gaji tetapi tidak wujud di lapangan. Mereka memiliki pasukan bayaranโdari Sudan, Yaman, dan negara lainnyaโyang bertempur demi uang dan menyerah begitu bayaran itu berhenti.
Ketika Ansarallah menawarkan amnesti, para tentara bayaran itu menjatuhkan senjata lalu menyerah. Ketika pertempuran memanas, para komandannya kabur. Ketika rudal-rudal berjatuhan, para prajuritnya lari tunggang langgang.
Dan mereka meninggalkan senjata-senjata mereka. Ansarallah memungutnya. Ansarallah menggunakannya. Dan Ansarallah menang.
Militer Saudi bukan sekadar kalah. Mereka sedang mempersenjatai musuh mereka sendiri. Setiap pertempuran yang mereka kalahkan adalah pengiriman pasokan senjata bagi Ansarallah. Setiap kemunduran adalah suplai logistik gratis. Setiap penyerahan diri adalah transfer perlengkapan militer.
Kebohongan Kaum Pemangsa
Media Barat menyebut Ansarallah sebagai “proksi Iran.” Mereka bilang Iran “mempersenjatai kaum Houthi.” Mereka bilang Iran “mengarahkan kaum Houthi.” Mereka bilang Iran “melakukan eskalasi melalui kaum Houthi.”
Juru bicara Ansarallah Al-Bukhaiti baru saja menegaskannya: senjata kami berasal dari militer Saudi.
Ini bukanlah hal baru. Fakta ini telah terbukti selama bertahun-tahun. Ansarallah telah merampas senjata-senjata Saudi senilai ratusan juta dolar. Mereka telah merekayasa baliknya (reverse-engineered). Mereka telah mengadaptasinya. Mereka bahkan menggunakannya untuk membangun industri militer mandiri mereka sendiri.
Narasi “proksi Iran” adalah sebuah kebohongan. Itu adalah kebohongan yang dirancang untuk mendiskreditkan Ansarallah. Kebohongan untuk membenarkan perang. Kebohongan yang sengaja dibuat untuk menutupi fakta bahwa Arab Saudi sedang kalah telak dari rakyat yang coba mereka buat kelaparan.
Kebenaran yang Utuh
Ansarallah bukanlah proksi Iran. Mereka adalah tentara nasional Yaman. Dan mereka “dipersenjatai” oleh Arab Saudiโmiliter yang sama yang telah membombardir Yaman selama dua belas tahun.
Setiap serangan udara Saudi menjatuhkan senjata. Setiap kemunduran pasukan Saudi meninggalkan perlengkapan. Setiap penyerahan diri pihak Saudi mentransfer persenjataan. Mesin perang Saudi adalah pemasok senjata terbesar bagi Ansarallah.
Al-Bukhaiti baru saja mengatakan yang sejujurnya. Dan para pemangsa itu tidak sanggup menanggung kebenaran tersebut.
