Foto pengamat geopolitik dengan latar belakang peta penguasaan wilayah Ma'rib dan Taiz oleh pasukan Yaman.

๐—ข๐—น๐—ฒ๐—ต ๐—ง๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ธ๐˜‚ ๐—ญ๐˜‚๐—น๐—ธ๐—ถ๐—ณ๐—น๐—ถ ๐—จ๐˜€๐—บ๐—ฎ๐—ป

Awalnya, Trump ingin melakukan serangan terhadap Ansarallah di Yaman setelah Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman menelpon dia dua kali.

Tapi, para penasihat Trump menyarankan Donald Trump tidak masuk membantu Saudi. Yang penting AS cukup melobi Ansarallah agar tidak menyerang kepentingan AS di Bab al-Mandab sesuai kesepakatan gencatan senjata AS dengan Ansarallah pada tahun 2025 lalu.

Penasihat Trump memberitahu Trump, bahwa jika AS terlibat langsung, Ansarallah memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menargetkan kepentingan AS bahkan di seluruh Timur Tengah. Kemampuan Ansarallah mirip dengan kemampuan Iran.

Beberapa hari lalu, “Presiden” Yaman yang resmi versi Arab Saudi, Rashad al-Alimi, yang berbasis di Riyadh sebagai pemerintahan dalam pengasingan, kembali menelepon Presiden Trump untuk meminta bantuan melawan Ansarallah, tapi Trump menolak dan mengatakan tidak mau terlibat langsung.

Permintaan bantuan kepada Trump oleh pemimpin “resmi” Yaman versi Saudi tersebut karena memang riil di lapangan saat ini, bahwa Ansarallah terus maju dan menguasai wilayah-wilayah lain di Yaman. Saat ini, Taiz ada dalam bayang-bayang Ansarallah. Taiz adalah kota ketiga terbesar di Yaman.

Ansarallah terus maju, dan merencanakan pembebasan kota besar lain yang kaya minyak dan SDA, Maarib. Maarib ini mirip dengan wilayah timur Libya yang kaya minyak Tobruk.

Jika Maarib jatuh, maka pemerintah Yaman versi Saudi itu akan semakin terdesak. Oleh sebab itu, Maarib saat ini dijaga ketat banyak tentara bayaran Saudi, dan termasuk kekuatan milisi Ikhwanul Muslimin juga saat ini bekerja keras menjaga Maarib agar tidak jatuh ke pasukan Yaman.

Kondisi di lapangan terbaru, Inggris saat ini telah menyetujui bantuan pesawat pengisian bahan bakar untuk pesawat-pesawat tempur Saudi yang melakukan serangan terhadap Ansarallah. Hal ini telah dikonfirmasi oleh PM Inggris Andy Burnham.

Sedangkan Pakistan dan Turki juga telah mengirim senjata ke Saudi. Tapi jenis senjata dan jumlah senjata yang dipasok Pakistan dan Turki ke Saudi belum jelas.

Kondisi seperti ini, akan memaksa Iran untuk memasok senjata ke Ansarallah yang saat ini sedang dikeroyok. Israel saat ini membantu intelijen untuk operasi militer Saudi ke Yaman.

Sedangkan AS juga ikut membantu intelijen dan penasihat militer yang saat ini masih banyak berada di Riyadh.

Menguasai Yaman dan memukul mundur Ansarallah saat ini tidak bisa dilakukan dengan serangan udara. Koalisi Saudi, AS, Israel, dkk. memang unggul di udara. Tapi di darat, pasukan Yaman menguasai medan perang secara menyeluruh.

Ini terbukti dengan kemampuan pasukan Yaman mengontrol wilayah baru yang telah mereka kuasai, walaupun Saudi terus melancarkan serangan udara ke basis-basis mereka, tetap saja tidak bisa dipukul mundur dan Saudi tidak bisa merebut kembali wilayah yang sudah jatuh.

Aliansi Barat dan beberapa negara Teluk saat ini terus membantu Arab Saudi, termasuk Turki dan Pakistan. Tapi di lapangan, aliansi ini tidak mendapatkan kemajuan di medan perang, bahkan banyak petinggi militer aliansi Saudi dalam sepekan ini tewas di lapangan dalam bentrokan-bentrokan militer.

Pakistan dan Turki menurut saya tidak akan memberikan bantuan pasukan secara langsung, karena pada dasarnya, rakyat Turki dan rakyat Pakistan mendukung Yaman daripada Arab Saudi.

Banyak rakyat Arab dan negara Teluk juga mendukung Yaman dan tidak membela Saudi. Ini karena mayoritas rakyat Arab dan dunia Islam melihat, Saudi berperang di Yaman untuk kepentingan AS dan Israel, dan dibantu oleh AS dan Israel yang saat ini terlibat genosida di Gaza.

Kontrol Saudi di Yaman juga melemah dan Ansarallah yang berhasil terus maju juga ada dalam konteks ini, mayoritas rakyat Yaman melihat Saudi sebagai penjajah yang bekerjasama dengan AS dan Israel. Maka dukungan ke Saudi di akar rumput Yaman sangat lemah, itulah alasan lain mengapa pasukan Yaman menang dan terus bisa melaju menguasai wilayah-wilayah lain.

Pemerintah Erdogan dan PM Shehbaz Sharif di Pakistan memahami realitas ini, maka mereka tidak akan berani memberikan bantuan all out kepada Arab Saudi untuk operasi militer ke Yaman. Bantuan Pakistan dan Turki saat ini kepada Saudi sifatnya hanya untuk menyenangkan Riyadh sementara. Bukan dukungan strategis.

Pemimpin tertinggi Ansarallah Sayyid Abdul Malik al-Houthi saat ini juga telah memperingatkan Turki dan Pakistan agar tidak ikut campur di Yaman dan membela rezim Saudi. Karena kalau itu dilakukan, maka rakyat Yaman akan menghukum Pakistan dan Turki juga, sama seperti mereka menghukum Saudi dalam sepekan belakangan ini.

Presiden Yaman sesungguhnya Mahdi al-Mashat yang berbasis di Sana’a juga telah memberikan warning, agar Pakistan, Turki dan negara asing lainnya tidak ikut-ikutan berperang melawan rakyat Yaman yang diagresi oleh Saudi. Rakyat Yaman akan melawan siapapun yang berkolaborasi dengan rezim Wahabi tersebut.

Eskalasi seperti ini bisa pecah lebih panas kapan saja di lapangan, negara-negara yang terlibat mendukung Saudi akan menanggung risikoโ€”Inggris, Israel, AS, Pakistan, Turki, dll. akan dibalas Ansarallah jika mereka nantinya benar-benar terlibat aktif membantu Saudi di Yaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *