Tangkapan layar analisis video buatan AI yang digunakan untuk propaganda perang Yaman.

Dunia terperanjat dan murka atas serangan-serangan Yaman terhadap Arab Saudi. Namun, setelah bertahun-tahun Yaman dihantam serangan udara, jatuhnya korban jiwa sipil, dan kelaparan, mengapa Arab Saudi hanya menghadapi sedikit kecaman yang serupa? Dan apa yang diungkapkan oleh hal tersebut tentang nyawa siapa yang dipilih dunia untuk dibela?

Transkrip video:

Pendukung rezim Saudi menggunakan video buatan AI dan foto kecelakaan lima tahun lalu di Libya untuk mempropagandakan klaim tentang serangan-serangan Yaman, dan kedua contoh ini mengungkapkan bagaimana disinformasi digunakan untuk membentuk narasi. DW menginvestigasi video viral yang diklaim memperlihatkan orang-orang berlarian dari sebuah ledakan di bandara Riyadh. Namun ada satu masalah besar.

Video tersebut ternyata sudah beredar sejak Maret 2026, berbulan-bulan sebelum serangan-serangan terbaru terjadi. Para peneliti juga mengidentifikasi adanya glitch (kejanggalan) visual dan tanda-tanda konten buatan AI. Dengan kata lain, rekaman dari sebuah peristiwa yang tidak pernah terjadi dipalsukan sebagai bukti dari serangan nyata.

Lalu ada juga gambar yang diedarkan untuk menuduh Ansarallah menyembunyikan peluncur rudal di dalam masjid. Gambar tersebut sebenarnya berasal dari tahun 2021 dan memperlihatkan insiden kecelakaan truk di sebuah masjid di Libya. Insiden yang tidak ada hubungannya di negara lain bertahun-tahun lalu kini dikemas ulang sebagai bukti untuk memojokkan Yaman.

Lantas mengapa gambar-gambar ini diedarkan? Karena di masa perang, mengendalikan narasi sama pentingnya dengan mengendalikan medan tempur. Ketika para pendukung beralih menggunakan rekaman rekayasa dan gambar yang didaur ulang untuk memengaruhi opini publik, hal ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai kredibilitas klaim yang mencoba mereka jajakan. Dan kita sudah terlalu sering melihat pola seperti ini sebelumnya.

Video buatan AI semakin banyak diedarkan sebagai rekaman nyata selama perang dan aksi protes, contoh terbaru terjadi di tengah perang AS-Israel terhadap Iran. Video serangan rudal buatan AI dan citra satelit rekayasa beredar secara daring sebagai bukti serangan, termasuk sebuah video yang dibagikan sendiri oleh Presiden Donald Trump, yang memperlihatkan pusat minyak Pulau Kharg di Iran diklaim hancur meskipun tidak ada serangan terkonfirmasi pada fasilitas tersebut dalam serangan semalam. Jadi sekarang, jika tuduhan terhadap Ansarallah yang dijajakan oleh rezim-rezim Arab dan media yang didukung Barat itu memang begitu kuat, mengapa harus menggunakan video rekayasa dan kecelakaan yang tidak relevan untuk membangunnya? Ketika buktinya harus diproduksi secara buatan, pertanyaannya menjadi: apakah publik sedang diperlihatkan kebenaran tentang perang ini, atau sedang dimanipulasi untuk memercayai narasi picik tentang “si baik dan si jahat”?


π˜€π˜‚π—Ίπ—―π—²π—Ώ: 𝗧𝗠𝗝 π—‘π—²π˜„π˜€ π—‘π—²π˜π˜„π—Όπ—Ώπ—Έ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *