Ilustrasi standar ganda diplomasi internasional dan dinamika geopolitik dunia Islam di PBB.

𝗢𝗹𝗲𝗵 𝗧𝗲𝗻𝗴𝗸𝘂 𝗭𝘂𝗹𝗸𝗶𝗳𝗹𝗶 𝗨𝘀𝗺𝗮𝗻

Kemarin di sidang PBB, saat Netanyahu pidato, lebih 77 perwakilan negara-negara di dunia melakukan walk out dari ruang sidang.

Tapi Netanyahu terus berpidato menyebarkan kebohongan dia di panggung itu, dia terus mengulang kebohongan demi kebohongan yang sudah pernah dia sampaikan sebelumnya.

Wajah dunia yang standar ganda, terus memberikan panggung kepada Netanyahu untuk pidato. Padahal orang ini ada dalam daftar buron ICC.

AS terutama terus memberikan dukungan kepada Netanyahu, tapi ironisnya, dunia Islam diam dan tidak memberikan tekanan kepada AS yang menjadi payung Netanyahu berlindung.

Anda bisa bayangkan, Netanyahu bisa pidato di PBB padahal statusnya buronan mahkamah internasional ICC, sedangkan Presiden Rusia dilarang pidato di PBB karena dianggap melakukan kejahatan perang di Ukraina.

Israel tegak berdiri bukan karena dia kuat, tapi karena terutama para pemimpin dunia Arab bermain dua kaki, tidak mendukung penuh Palestina secara substansial, takut kepada AS, dan takut dengan Israel.

Israel berdiri tegak karena dua hal substansial. Pertama, dukungan AS tanpa batas kepada negara teroris itu, kedua, diamnya dunia Arab dan Islam tanpa batas atas apapun kelakuan Israel di Palestina dan kawasan.

Jika ada negara yang berdiri melawan Israel seperti Iran, maka akan dicap sebagai poros setan dan poros teroris oleh AS, yang kemudian diaminkan oleh sekutu mereka termasuk sekutu Arabnya.

Wajah Eropa juga tidak kalah standar ganda, banyak pemimpin Eropa mengecam Netanyahu dengan retorika kosong dan omong kosong, tapi terus memberikan wilayah udara mereka untuk dilewati oleh pesawat Netanyahu menuju sidang PBB.

Inilah efek dari kelemahan dalam geopolitik, dunia Islam ini sangat lemah di hadapan AS dan Israel. Iran yang memilih jalur lain, mencoba mandiri tanpa bergantung kepada AS seperti mayoritas dunia Arab, malah dianggap musuh yang harus diperangi.

Iran yang tegak pada dasarnya adalah hasil dari mindset berdikari dan insting survive. Iran bukan negara yang mau tunduk kepada AS sejak 1979. Dan ini alasan utama mengapa Iran diperangi.

Iran menjaga agar tetap survive sebagai negara di tengah kepungan pangkalan militer AS yang dibangun di atas tanah orang orang Arab. Di atas kepungan kekuatan aliansi AS dan Israel di kawasan.

Jika Iran sedikit lemah, maka Iran akan tinggal nama. Jadi kebijakan Iran memperkuat dirinya di kawasan adalah sikap insting untuk survive agar tidak bernasib sama seperti Irak dan Libya.

Tapi ironisnya, negara Arab beramai-ramai memusuhi Iran dan membantu AS menggulingkan pemerintah Iran. Jika Iran lemah, sudah lama Iran jadi Irak selanjutnya di tangan AS dan sekutunya di seluruh Timur Tengah.

Monarki-monarki Arab pada dasarnya dibangun di atas sikap mempertahankan kekuasaan dan kelanggengan dinasti kerajaan. Monarki-monarki itu sangat korup, kotor, tiran, bahkan menindas rakyatnya sendiri. Tidak ada kebebasan di dunia Arab sama sekali.

Jangankan membantu Palestina dan mendukung kemerdekaan Palestina, mereka hanya pamer sumbangan kemah dan Indomie ke Palestina yang kemudian diklaim sebagai bantuan untuk kemerdekaan Palestina. Sejatinya itu adalah pencitraan dan kemunafikan dunia Arab yang terus membiarkan genosida setiap hari disana.

Jika ada negara yang tidak mau mengecam dunia Arab seperti ini, itu lebih karena kita kebanyakan menjaga hubungan karena mencari proyek dan berharap uang negara Arab agar masuk berinvestasi.

Semua akhirnya hanya berpikir tentang perut dan nafsu, tidak ada dukungan riil ke Palestina sejatinya sejak puluhan tahun. Semua diam tapi pencitraan seolah membela Palestina untuk kepentingan politik, lebih buruknya hanya untuk kepentingan pemilu.

Ini adalah realitas dunia saat ini, sebagai manusia, posisi kita harus jelas, kemanusiaan di Palestina dan dunia Islam saat ini adalah bencana di berbagai belahan dunia Islam tanpa kecuali, dan inilah seharusnya yang dibela.

Tidak terhitung ratusan kali rapat dan ratusan kali diplomasi gimmick banyak negara selama puluhan tahun, tapi riilnya, Palestina sekarang hanya menunggu waktu hilang dari peta secara substansial sebelum penduduknya yang dihilangkan secara perlahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *