πΊπππππ πππππππππππ, πππππ π πππ πππππ πππππ π·πππ πππ π΄ππππππ ππππππ, ππππππ πππ, π πππππ ππππππππ π πππ πΉππππ, π·πππππ ππ, πΌππππππ, ππππ π©ππππππ. π»ππππ πππππππ ππ ππππ ππππ-ππππ π πππ πππππ πππ ππππ πππππππ π πππ π¬ππππ ππππ π¨ππππππ.
Oleh Prof. David Miller
Terdapat gelombang klaim yang meningkat dari para pembela kejahatan Zionisme bahwa mereka selama ini telah disalahpahami. Mereka berargumen bahwa warga Palestina mungkin memang penduduk asli Palestina, tetapi orang Yahudi pastilah juga penduduk asli wilayah tersebut. Apa yang disebut sebagai konflik ‘Israel-Palestina’, menurut mereka, adalah persaingan memperebutkan sebidang tanah kecil yang sama oleh dua kelompok masyarakat asli yang saling bersaing. Namun, apakah orang Yahudi benar-benar penduduk asli wilayah Levant (Syam)? Dan apa konsekuensi dari argumen tersebut?
Pada kenyataannya, sebagian besar struktur kekuasaan negara Zionis didominasi oleh Yahudi Ashkenazi yang tidak memiliki hubungan silsilah leluhur dengan Palestina. Secara keseluruhan, meskipun ada kontribusi finansial dan infrastruktur yang sangat signifikan dari negara-negara Eropa Barat (terutama AS, Inggris, dan Prancis, misalnya melalui keluarga Rothschild), Ashkenazim Eropa Timur telah berada di pusat struktur kekuasaan Zionis sejak tahun-tahun awal abad ke-20.
Ukraina dan asal-usul Zionisme
Sebagai contoh, sebagian besar anggota Dewan Nasional Yahudi di Palestina sebelum berdirinya negara Zionis pada tahun 1948 adalah orang Ukraina. Sebagaimana yang telah diketahui secara luas, para pemimpin kunci gerakan Zionis berasal dari Ukraina. Banyak, meski tidak semua, tokoh Zionis Ukraina memiliki kedekatan dengan gerakan nasionalis Ukraina.
Contohnya, tokoh Zionis Revisionis sayap kanan radikal, Vladimir Yevgenyevich Jabotinsky (yang kemudian berganti nama menjadi Ze’ev Jabotinsky), merupakan keturunan langsung dari pemukim Yahudi Ukraina di Odessa. Ia terkenal pernah bekerja sama dengan pemimpin nasionalis Ukraina, Symon Petliura, seorang proto-Nazi yang bertanggung jawab atas pembantaian (pogrom) terhadap orang-orang Yahudi dan kelompok lainnya. Seperti yang ditulis oleh ilmuwan politik Polandia sekaligus tokoh Zionis, Shlomo Avineri, “sepanjang hidupnya”, Jabotinsky “memiliki kedekatan dengan nasionalisme Ukraina meskipun gerakan tersebut diwarnai oleh sentimen anti-Semitisme”.
Dapat dikatakan bahwa Zionisme dan nasionalisme Ukraina berbagi beberapa kesamaan tertentu, yang mungkin membantu memberikan konteks mengapa rezim Zionis terus memberikan dukungan kepada Zelensky hari ini. Sejak awal Januari 2022, “Israel” mulai merencanakan pemindahan orang-orang Yahudi Ukraina untuk dijadikan kolonis (pemukim) di tanah milik warga Palestina. Kementerian Aliyah dan Penyerapan Imigran Israel menyatakan: “Kami menyerukan kepada orang-orang Yahudi di Ukraina untuk berimigrasi ke Israel – rumah Anda.” Namun tentu saja, itu bukanlah rumah mereka.
Kolonis Zionis lainnya yang berasal dari Ukraina adalah Golda Mabovitch (yang kemudian dikenal sebagai Golda Meir), yang menjabat sebagai Perdana Menteri entitas Zionis dari tahun 1969-1974. Ia pernah mengklaim ‘Saya adalah orang Palestina’ tetapi di sisi lain juga menyangkal bahwa rakyat Palestina pernah ada.
Asal-usul Eropa Timur dan para pemimpin Zionis
Secara keseluruhan, tujuh dari empat belas Perdana Menteri Zionis, sejauh ini, datang langsung dari Rusia, Polandia, Ukraina, atau Belarus. Tujuh lainnya adalah anak-anak dari orang tua yang berasal dari Ukraina modern dan/atau Belarus (Ariel Sharon, Ehud Olmert, Yitzhak Rabin), Lithuania (Ehud Barak), Polandia (Benjamin Netanyahu), Hongaria/Rumania (Yair Lapid), atau Polandia dan Amerika (Naftali Bennett). Semua presiden entitas Zionis, kecuali tiga orang, berasal secara langsung atau tidak langsung dari Polandia, Rusia, Belarus, Ukraina, atau dalam satu kasus, Austria.
Obsesi untuk membuktikan bahwa orang Yahudiβseluruh orang Yahudiβadalah penduduk asli Palestina sangat bertolak belakang dengan bukti-bukti kuat yang menunjukkan karakter kolonialisme pemukim (settler colonialism) dari Zionisme, serta fakta bahwa sebagian besar dari mereka yang memegang kekuasaan berasal dari Eropa Timur.
Bahkan surat kabar Zionis Haaretz pernah menerbitkan sebuah artikel yang mengeklaim bahwa argumen yang menyatakan orang Yahudi adalah penduduk asli Palestina merupakan argumen yang ‘berenang di perairan fasis’.
Fantasi tentang ‘orang Yudea yang terdekolonisasi’
Istilah ‘Orang Yudea yang terdekolonisasi’ (decolonized Judean) sering digunakan oleh kaum Zionis, yang sering kali merupakan pemukim kulit putih Eropa, untuk menggambarkan diri mereka sendiri. Namun, apakah masih ada sisa-sisa dari ‘bangsa Yahudi’ asli yang mendiami Levant dua milenium lalu di antara dua kelompok utama Yahudi di dunia saat ini?
Kelompok yang dominan, yang jumlahnya sangat terwakili di semua tingkat struktur kekuasaan di wilayah yang disebut Israel saat ini, adalah Yahudi Ashkenazi. Mereka secara konvensional disebut sebagai “orang Yahudi dari Prancis, Jerman, dan Eropa Timur serta keturunan mereka.” Kata sifat “Ashkenazic” konon “berasal dari kata Ibrani ‘Ashkenaz,’ yang digunakan untuk merujuk pada negara Jerman.”
Penelitian terbaru dalam bidang linguistik dan genetika menunjukkan bahwa ‘hipotesis Rhineland’βyang menunjukkan bahwa Ashkenazim awalnya berasal dari Levant dan bahwa bahasa Yiddish berasal dari Jermanβtidak mampu menjelaskan data genetik, linguistik, dan budaya yang tersedia saat ini. Penelitian tersebut justru menunjukkan asal-usul Iran-Turki-Slavia untuk Yahudi Ashkenazi, dan asal-usul Slavia untuk bahasa Yiddish.
Satu detail kunci dalam argumen ini adalah keberadaan empat desa kuno di sepanjang rute perdagangan Jalur Sutra kuno di timur laut Turki, yang namanya mirip dengan “Ashkenaz”, seperti desa Δ°Εkenaz. Dengan demikian, Yahudi Ashkenazi tampaknya tidak memiliki hubungan historis dengan orang-orang Yahudi asli di Palestina.
Orang-orang Yahudi Arab
Yahudi Sephardi adalah kelompok utama Yahudi kedua di dunia. Pandangan standar yang ada adalah bahwa mereka merupakan orang-orang Yahudi dari ‘Spanyol, Portugal, Afrika Utara, dan Timur Tengah serta keturunan mereka’. Kata sifat “Sephardic” dikatakan berasal dari kata Ibrani “Sepharad,” yang merujuk pada negara Spanyol. Apa yang disebut sebagai kelompok ‘Sephardim’ ini jumlah populasinya kian meningkat, dan menurut beberapa catatan kini membentuk mayoritas Yahudi di Palestina yang diduduki. Namun, mereka juga menghadapi pola diskriminasi yang sudah rahasia umum dari kelompok Yahudi Ashkenazi kulit putih Eropa.
Ketika mereka tiba di Palestina yang didudukiβsebagian besar setelah tahun 1948βorang-orang Yahudi Sephardi ini sering kali berbicara dalam semacam bahasa Arab dan terkadang disebut sebagai ‘Yahudi Arab’. Hal ini menjadi ancaman bagi Zionisme, yang kemudian memastikan agar penggunaan bahasa Arab di kalangan mereka diredam, serta bekerja keras secara tekun untuk “menghilangkan identitas rasial” (de-racialise) mereka. Seperti yang dicatat oleh Lital Levy: “Ini adalah komunitas asli… yang budaya sinkretis uniknya sejak saat itu telah sepenuhnya dihapuskan sebagai akibat dari emigrasi… ke Israel, tempat di mana mereka menjadi sasaran program penghilangan akar budaya (deracination) dan resosialisasi yang sistematis”.
Beberapa kelompok sayap kiri, baik yang Zionis maupun anti-Zionis, mencoba menampilkan kaum Sephardim sebagai minoritas etnis yang tertinggal. Namun, jika tujuannya adalah untuk menjauhkan kaum Sephardim dari paham ultra-Zionisme, strategi ini dinilai akan gagal. Begitu mereka menjadi kolonis pemukim dan hubungan mereka dengan bangsa Arab terputus, loyalitas utama mereka beralih pada proyek Zionis. Namun, hal ini tidak dapat menghapus fakta bahwa “Sephardim” adalah Yahudi Arab, sebagaimana yang diterima secara luas dalam literatur penelitian humaniora dan ilmu sosial. Bahkan yang lebih menonjol, penelitian linguistik dan genetika menunjukkan bahwa, bertentangan dengan gagasan bahwa mereka adalah orang Yahudi asli dari Levant, pada kenyataannya mereka sebagian besar merupakan keturunan dari suku Berber Afrika Utara dan bangsa Arab.
Kebenarannya adalah bahwa Yahudi Ashkenazi sebagian besar berasal dari Eropa Timur, dengan asal-usul di Kaukasus, Turki, dan Iran. Sementara kaum Sephardim sebagian besar berasal dari etnis Arab dan Berber. Mereka adalah ‘Yahudi Arab’ yang mungkin memiliki hubungan yang sama minimnya dengan Palestina sebagaimana kaum Ashkenazim. Dengan kata lain, tidak ada satu ‘bangsa Yahudi’ tunggal yang memiliki klaim historis yang berkesinambungan atas tanah Palestina.
* Catatan: tulisan ini diterjemahkan dan disarikan dari sebuah artikel di Al Mayadeen English yang berjudul βAre the Jews indigenous to Palestine?β

[…] Artikel ini telah dipindahkan ke website http://www.resistenika.com […]