Ilustrasi kontradiksi kebijakan politik dan ekonomi Recep Tayyip Erdogan terhadap Israel dan Palestina.

𝗢𝗹𝗲𝗵 𝗗𝗿. 𝗨𝘀𝘁𝗮𝘇 𝗠𝘂𝗵𝘀𝗶𝗻 𝗟𝗮𝗯𝗶𝗯

Di tengah bombardir brutal tentara Zionis Israel yang membumihanguskan tanah Gaza, kepalsuan sikap politik Recep Tayyip Erdogan dan rezimnya telanjang tanpa alibi. Di atas panggung, mulutnya berbusa-busa mengutuk Israel dan menyebut negara zionis itu sebagai penjahat perang. Namun di balik layar, ia menjalin kolaborasi ekonomi yang menjijikkan: membocorkan ribuan ton logistik vital untuk menyokong mesin perang dan keberlangsungan hidup Israel.

Manifes pelayaran tidak bisa dimanipulasi oleh pidato murah. Ketika rakyat Gaza dibantai dan dibiarkan kelaparan akibat blokade total, lebih dari tiga ratus kapal kargo justru bebas keluar-masuk membawa lebih dari tiga juta ton barang dari pelabuhan Turki menuju pelabuhan-pelabuhan Israel. Lebih biadab lagi, bisnis darah ini melibat keluarga intinya sendiri. Armada kapal milik Bilal Erdogan, putra kandung sang presiden, menjadi salah satu pemasok utama yang rajin mengangkut ratusan ribu ton kargo langsung ke jantung Israel.

Pengkhianatan ini terekam sangat rinci dan presisi. Pada 17 Oktober, saat anak-anak dan warga sipil Palestina terbunuh dalam pemboman rumah sakit di Gaza oleh Israel, kapal-kapal milik keluarga Erdogan justru sedang sibuk membongkar muatan dagang di pelabuhan Israel. Pada 28 Oktober, ketika Erdogan berpura-pura menangis dan membakar emosi jutaan massa di lapangan untuk mengecam Israel, kapal kargo anaknya tetap berlayar tenang di Laut Mediterania, mengamankan keuntungan finansial dari transaksi dagang dengan bangsa penjajah tersebut.

Apa yang dikatakan mendiang Necmettin Erbakan dan para penentangnya kini terbukti benderang: Erdogan hanyalah perisai pelindung kepentingan Israel yang pandai bersandiwara. Ia menjual penderitaan bangsa Palestina demi simpati politik umat, sementara tangan dan kantong keluarganya tetap hangat menggenggam uang hasil bisnis kelam bersama Israel. Ini bukan sekadar kompromi geopolitik, melainkan pengkhianatan paling nyata terhadap darah rakyat Palestina yang dibantai oleh Israel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *